Pedagang Cabai di Ibu Kota Masih Keluhkan Pasokan Minim
Senin, 23 Januari 2017 - 20:30 WIB
Pedagang Cabai di Ibu Kota Masih Keluhkan Pasokan Minim
A
A
A
JAKARTA - Pedagang cabai di Ibu Kota masih mengeluhkan sulitnya pasokan sehingga membuat harga masih tinggi. Selain karena stok kurang akibat cuaca memburuk hingga membuat membuat cabai menjadi kurang berkualitas, sementara dengan permintaan tinggi harga cabai tak kunjung turun.
Seorang pedagang grosir di Pasar Induk Kramat Djati, Agus (30) mengatakan saat ini pasokan cabe di Jakarta cukup sulit, karena itu dia pun terpaksa harus meninggikan harga cabai. "Dari sananya aja Rp105 ribu. Jadi saya harus jual Rp110 ribu per kilonya," tutur Agus kepada SINDO di Jakarta, Senin (23/1/2017).
Mengingat harga yang begitu tinggi membuat Agus terpaksa mengurangi pasokan cabai yang berasal dari kawasan Jawa Timur, seperti Banyuwangi dan Malang‎. Biasanya pria yang tinggal di kawasan Cijantung ini memasok dengan 6-7 kuintal setiap hari, tapi kali ini stoknya hanya 2-3 kuintal saja.
Sikap sama juga dilakukan pedagang lainnya, Jaffar (30). Malahan dengan tingginya harga cabai, beberapa pedagang kecil yang membeli darinya meminta sejumlah cabai busuk untuk di jual kembali. Permintaan cabai busuk kemudian meningkat, sekalipun harganya cukup murah, yakni Rp 20-Rp30 ribu per kilonya.
"Kalo cabai begini (busuk) cukup banyak hampir se kwintal terjual per hari," ucap Jaffar.
Kedua, pedagang yang telah bertahun-tahun menjual cabai ini mengaku hampir kenaikan cabe kali ini menjadi yang terburuk dalam sejarah harga cabai di indonesia. Sebab, nilainya berbeda dibandingkan saat menjelang Lebaran kemarin.
Meski demikian, keduanya yakin kenaikan ini bukan karena permainan oknum yang doyan mengendapkan cabai. Sebab, dibandingkan bahan lainnya, cabe sulit untuk ditimbun mengingat waktunya hanya bertahan kurang dari 2-3 hari saja. "Kalo yang lain di jual sekarang kan bisa, cabe mana bisa," tutupnya.
Seorang pedagang grosir di Pasar Induk Kramat Djati, Agus (30) mengatakan saat ini pasokan cabe di Jakarta cukup sulit, karena itu dia pun terpaksa harus meninggikan harga cabai. "Dari sananya aja Rp105 ribu. Jadi saya harus jual Rp110 ribu per kilonya," tutur Agus kepada SINDO di Jakarta, Senin (23/1/2017).
Mengingat harga yang begitu tinggi membuat Agus terpaksa mengurangi pasokan cabai yang berasal dari kawasan Jawa Timur, seperti Banyuwangi dan Malang‎. Biasanya pria yang tinggal di kawasan Cijantung ini memasok dengan 6-7 kuintal setiap hari, tapi kali ini stoknya hanya 2-3 kuintal saja.
Sikap sama juga dilakukan pedagang lainnya, Jaffar (30). Malahan dengan tingginya harga cabai, beberapa pedagang kecil yang membeli darinya meminta sejumlah cabai busuk untuk di jual kembali. Permintaan cabai busuk kemudian meningkat, sekalipun harganya cukup murah, yakni Rp 20-Rp30 ribu per kilonya.
"Kalo cabai begini (busuk) cukup banyak hampir se kwintal terjual per hari," ucap Jaffar.
Kedua, pedagang yang telah bertahun-tahun menjual cabai ini mengaku hampir kenaikan cabe kali ini menjadi yang terburuk dalam sejarah harga cabai di indonesia. Sebab, nilainya berbeda dibandingkan saat menjelang Lebaran kemarin.
Meski demikian, keduanya yakin kenaikan ini bukan karena permainan oknum yang doyan mengendapkan cabai. Sebab, dibandingkan bahan lainnya, cabe sulit untuk ditimbun mengingat waktunya hanya bertahan kurang dari 2-3 hari saja. "Kalo yang lain di jual sekarang kan bisa, cabe mana bisa," tutupnya.
(akr)
Lihat Juga :