BI Antisipasi Dua Kali Kenaikan Suku Bunga AS Tahun Ini
Selasa, 31 Januari 2017 - 14:12 WIB
BI Antisipasi Dua Kali Kenaikan Suku Bunga AS Tahun Ini
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan, telah mengantisipasi dengan matang dalam menahan dampak kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral Amerika Serikat (Fed rate) pada 2017. Sehingga, kondisi makro ekonomi Indonesia bisa terjaga dengan stabil.
(Baca Juga: Ketidakpastian Global Jadi Tantangan dan Peluang Ekonomi RI 2017)
Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung memperkirakan, The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini. Paling cepat Juni dan paling lambat Desember.
"Untuk tahun ini, kami perkirakan dua kali hingga 50 bps. Kita lihat perkiraan market juga sama, paling cepat Juni dan kedua Desember," ujarnya dalam seminar Indonesia Economic Outlook 2017 yang diselenggarakan KORAN SINDO dan SINDOnews di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (31/1/2017).
Lebih lanjut dia menjelaskan, masih ada ketidakpastian ekonomi global yang datang dari Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Mulai dari kebijakan fiskal yang akan digenjot untuk infrastruktur.
"Memang masih ada ketidakpastian kebijakan fiskal di AS, apakah akan agresif? Pengurangan pajak dan didorong untuk pembiayaan infrastruktur dan sebagainya, tapi menurut hemat kami dua kali kenaikan masih memadai," katanya.
Menurutnya, semua hal itu sudah diantisipasi secara matang oleh BI. Sehingga dampaknya ke nilai tukar rupiah bisa diminimalisir. "Itu sudah masuk hitungan Bank Indonesia bahwa naik dua kali implikasinya ke nilai tukar dan respon kebijakan kita masih memadai," tegas dia.
(Baca Juga: Ketidakpastian Global Jadi Tantangan dan Peluang Ekonomi RI 2017)
Direktur Eksekutif Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Juda Agung memperkirakan, The Fed akan menaikkan suku bunga dua kali tahun ini. Paling cepat Juni dan paling lambat Desember.
"Untuk tahun ini, kami perkirakan dua kali hingga 50 bps. Kita lihat perkiraan market juga sama, paling cepat Juni dan kedua Desember," ujarnya dalam seminar Indonesia Economic Outlook 2017 yang diselenggarakan KORAN SINDO dan SINDOnews di Pullman Hotel, Jakarta, Selasa (31/1/2017).
Lebih lanjut dia menjelaskan, masih ada ketidakpastian ekonomi global yang datang dari Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump. Mulai dari kebijakan fiskal yang akan digenjot untuk infrastruktur.
"Memang masih ada ketidakpastian kebijakan fiskal di AS, apakah akan agresif? Pengurangan pajak dan didorong untuk pembiayaan infrastruktur dan sebagainya, tapi menurut hemat kami dua kali kenaikan masih memadai," katanya.
Menurutnya, semua hal itu sudah diantisipasi secara matang oleh BI. Sehingga dampaknya ke nilai tukar rupiah bisa diminimalisir. "Itu sudah masuk hitungan Bank Indonesia bahwa naik dua kali implikasinya ke nilai tukar dan respon kebijakan kita masih memadai," tegas dia.
(akr)
Lihat Juga :