Kenaikan TDL Disebut Tidak Picu Penurunan Daya Beli dan Inflasi
Selasa, 28 Februari 2017 - 23:55 WIB
Kenaikan TDL Disebut Tidak Picu Penurunan Daya Beli dan Inflasi
A
A
A
YOGYAKARTA - Penerapan subsidi listrik tepat sasaran mengakibatkan sejumlah masyarakat akan mengalami kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Hal ini pun menjadi kekhawatiran banyak pihak, karena akan mengurangi kemampuan daya beli masyarakat dan memicu inflasi.
Namun, Perwakilan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Regi Wahono punyapendapat berbeda. Menurutnya biaya listrik hanya menduduki ranking keempat dari pengeluaran masyarakat. Sehingga tidak akan menurunkan daya beli masyarakat dan berimbas pada inflasi.
"Soal daya beli dan inflasi, itu hanya perasaan negatif warga masyarakat saja yang khawatir listrik mereka naik dan imbasnya beruntun," tuturnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Sosialisasi Subsidi Listrik Tepat Sasaran di Universitas Gadjah Mada, Selasa (28/2/2017).
Karena faktanya, sejak pemerintah mulai mendengungkan adanya wacana penerapan subsidi listrik tepat sasaran tidak terjadi penurunan daya beli. Pada Desember 2016 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pengeluaran listrik hanya nomor empat terbanyak. Jauh di bawah pengeluaran untuk beras ataupun rokok. Berdasarkan data BPS, beras memberi sumbangan terhadap inflasi sebesar 29,54% di pedesaan dan 21,65% di perkotaan.
Sementara rokok memberi sumbangsih pada inflasi sebesar 7,96% di pedesaan dan rokok sebesar 9,08% di perkotaan. Sementara listrik hanya menyumbang sekitar 1,54% inflasi di pedesaan dan 2,96% inflasi di perkotaan.
Angka tersebut hampir setara dengan sumbangan inflasi dari bahan bakar minyak (BBM). "Jadi tidak menurunkan daya beli," tandasnya.
Listrik juga tidak berpengaruh terhadap inflasi karena Desember 2016, BPS mencatat angka inflasi 0,42%. Angka inflasi 0,42% tersebut merupakan inflasi terendah sejak 2010 yang lalu. Memang di bulan Januari ada kenaikan inflasi, tetapi bukan karena listrik melainkan kenaikan harga komoditas lain.
Namun, Perwakilan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K), Regi Wahono punyapendapat berbeda. Menurutnya biaya listrik hanya menduduki ranking keempat dari pengeluaran masyarakat. Sehingga tidak akan menurunkan daya beli masyarakat dan berimbas pada inflasi.
"Soal daya beli dan inflasi, itu hanya perasaan negatif warga masyarakat saja yang khawatir listrik mereka naik dan imbasnya beruntun," tuturnya dalam Focus Group Discussion (FGD) Sosialisasi Subsidi Listrik Tepat Sasaran di Universitas Gadjah Mada, Selasa (28/2/2017).
Karena faktanya, sejak pemerintah mulai mendengungkan adanya wacana penerapan subsidi listrik tepat sasaran tidak terjadi penurunan daya beli. Pada Desember 2016 lalu, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pengeluaran listrik hanya nomor empat terbanyak. Jauh di bawah pengeluaran untuk beras ataupun rokok. Berdasarkan data BPS, beras memberi sumbangan terhadap inflasi sebesar 29,54% di pedesaan dan 21,65% di perkotaan.
Sementara rokok memberi sumbangsih pada inflasi sebesar 7,96% di pedesaan dan rokok sebesar 9,08% di perkotaan. Sementara listrik hanya menyumbang sekitar 1,54% inflasi di pedesaan dan 2,96% inflasi di perkotaan.
Angka tersebut hampir setara dengan sumbangan inflasi dari bahan bakar minyak (BBM). "Jadi tidak menurunkan daya beli," tandasnya.
Listrik juga tidak berpengaruh terhadap inflasi karena Desember 2016, BPS mencatat angka inflasi 0,42%. Angka inflasi 0,42% tersebut merupakan inflasi terendah sejak 2010 yang lalu. Memang di bulan Januari ada kenaikan inflasi, tetapi bukan karena listrik melainkan kenaikan harga komoditas lain.
(ven)
Lihat Juga :