Wall Street dan USD Jatuh Imbas Pernyataan Donald Trump

Kamis, 13 April 2017 - 07:54 WIB
Wall Street dan USD...
Wall Street dan USD Jatuh Imbas Pernyataan Donald Trump
A A A
NEW YORK - Pasar saham Amerika Serikat alias Wall Street ditutup lebih rendah pada Rabu, karena investor sedang mencermati kondisi geopolitik. Begitu pula dengan dolar AS (USD) yang mencapai sesi rendah setelah komentar Presiden Donald Trump kepada Wall Street Journal, bahwa mata uang George Washington sudah “terlalu kuat”.

Mengutip dari CNBC, Kamis (13/4/2017), kondisi geopolitik terutama di Timur Tengah, kian memanas. Serangan rudal tomahawk AS ke Suriah pada Jumat pekan lalu, membuat Rusia kecewa. Alhasil, dalam kunjungan Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson ke Moskow pada Rabu kemarin, bekas bos ExxonMobil itu mendapat berondongan kritik dari beberapa pejabat Rusia.

Tillerson pun mengakui pasca serangan tomahawk ke Suriah, hubungan AS-Rusia menjadi pada “titik rendah” dan perlu dimesrakan kembali. Apalagi selama ini, Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dikenal saling dukung.

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup lebih rendah 59,44 poin atau 0,29% ke level 20.591,86. Begitu pula The S & P 500 yang turun 8,85 poin atau 0,38% menjadi 2.344,93, dimana tujuh sektor saham industri berakhir lebih rendah. Dan Nasdaq melemah 30,61 poin atau 0,52% menjadi 5.836,16.

“Kami prihatin tentang Suriah dan soal hubungan Rusia. Dan saat geopolitik memanas, itu bisa mempengaruhi harga,” kata Art Hogan, kepala strategi pasar di Wunderlich Securities.

Sementara itu, indeks USD yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama diperdagangkan melemah 0,5% ke level 100,23. Melansir dari Reuters, Kamis (13/4), USD melemah terkait komentar Trump bahwa dolar “terlalu kuat” dan ia akan lebih memilih Federal Reserve untuk mempertahankan suku bunga rendah.

Komentar dianggap sebuah retorika perdagangan yang bersifat proteksionis. Pasalnya terlalu kuatnya dolar AS membuat produk-produk Amerika menjadi tidak kompetitif di pasar dunia. Alhasil USD pun ditutup lebih rendah terhadap yen Jepang menjadi 109 yen, setelah sebelumnya berada di level 108,920 yen.

Mata uang Jepang pun meningkat 1,8% terhadap USD selama pekan ini. Sementara euro stabil di USD1,0669 EUR, tidak jauh dari pekan ini yang sempat menyentuh lebel USD1,0675 EUR.

Kondisi geopolitik seperti pemilihan Presiden Prancis, kemungkinan aksi militer AS terhadap Suriah dan Korea Utara, bisa mengubah kondisi pasar saham dan pasar uang.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Amerika Resesi: Harga...
Amerika Resesi: Harga Minyak, Kurs Dolar, dan Wall Street Amburadul
Rupiah Pulang Merosot...
Rupiah Pulang Merosot ke Rp14.133 per USD
Kekhawatiran Inflasi...
Kekhawatiran Inflasi Mereda, Wall Street Ditutup Menguat
Akhir Pekan, Rupiah...
Akhir Pekan, Rupiah Diprediksi Tertekan
Rupiah Melanjutkan Pelemahan...
Rupiah Melanjutkan Pelemahan ke Rp13.980 per USD
Dapat Angin dari Pernyataan...
Dapat Angin dari Pernyataan The Fed, Rupiah Diprediksi Menguat
Berita Terkini
Tokenisasi ETF Buka...
Tokenisasi ETF Buka Akses Lebih Mudah Investasi S&P 500 dan Nasdaq
27 menit yang lalu
Pemerintah Targetkan...
Pemerintah Targetkan Seluruh SPBU Jual B50 Mulai Oktober 2026
41 menit yang lalu
Kilau Emas Antam Meredup,...
Kilau Emas Antam Meredup, Hari Ini Turun Lagi Rp20.000 per Gram
1 jam yang lalu
TikTok Tingkatkan Transparansi...
TikTok Tingkatkan Transparansi AI, Alokasikan USD4 Juta untuk Program Edukasi
1 jam yang lalu
Dibuka Menguat 0,33%,...
Dibuka Menguat 0,33%, IHSG Berbalik Melemah di Menit Pertama
1 jam yang lalu
Cara Mengajukan Pembetulan...
Cara Mengajukan Pembetulan Data PBB-P2 secara Online, Simak Syarat dan Tahapannya
2 jam yang lalu
Infografis
Trionda, Bola Robotik...
Trionda, Bola Robotik Piala Dunia 2026 yang Punya Baterai dan Sensor VAR
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved