Wall Street Akhir Pekan Tergelincir di Tengah Tekanan Sektor Ritel

Sabtu, 13 Mei 2017 - 07:18 WIB
Wall Street Akhir Pekan...
Wall Street Akhir Pekan Tergelincir di Tengah Tekanan Sektor Ritel
A A A
NEW YORK - Wall Street pada perdagangan akhir pekan kemarin tergelincir, untuk menutup pekan ini lebih rendah. Data ekonomi yang cukup baik, menghindarkan dari risiko sentimen kebijakan Presiden Donald Trump yang memecat Direktur FBI.

Langkah tersebut diyakini potensial menunda target pertumbuhan oleh Trump hingga pemangkasan pajak dan meningkatkan belanja infrastruktur. Penjualan ritel dan inflasi bulanan mengangkat kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi.

Federal Reserve atau Bank Sentral Amerika Serikat dipertanyakan apakah mampu mempertahankan suku bunga tahun ini. Sebanyak 49% menyakini kenaikan suku bunga akan terjadi dua kali tahun ini dan sisanya tetap menjaga tetap.

Sektor perbankan yang biasanya mendapatkan keuntungan dari suku bunga tinggi, menyeret indeks S & P 500 dan Dow Jones Industrial Average. Sektor keuangan S & P 500 tercatat mengalami kejatuhan 0,45%, sedangkan industrials berkurang 0,65%.

Department Store menghadapi tekanan serius untuk dua hari beruntun setelah laporan JCPenney (JCP. N) lebih rendah dari yang diharapkan untuk mengirim saham turun 13,99%. Sementara Nordstrom (JWN. N) jatuh 10,84% setelah penjualan toko secara kuartalan melemah.

Selain itu Macy's (M.N) juga menyusut 3,04% dan membawa kerugian lebih dari 19% sebelumnya ketika suramnya laporan kuartalan. Peningkatan penjualan ritel pada April tidak seperti yang diharapkan pada level 0,4% untuk menambahkan kecemasan tentang sektor ritel serta ekonomi.

Tercatat Dow Jones Industrial Average (DJI) menyusut 0,11% untuk mengakhiri pada posisi 20.896,61 saat indeks S & P 500 kehilangan 0,15% menjadi 2.390,9. Sedangkan komposit Nasdaq bertambah 0,09% ke level 6.121,23.

Selama satu pekan, Dow Jone mengalami kejatuhan mencapai sebesar 0,5% dan S & P 500 berkurang 0,4% ketika Nasdaq meningkat 0,3%. Dengan harapan pelaporan kuartalan pertama lebih baik, rata-rata perusahaan S & P 500 diperkirakan oleh analis pertumbuhan pendapatan pada kuartal kedua yakni 8,3%.

Sekitar 6,1 miliar saham diperdagangan pada bursa saham AS kemarin waktu setempat. Posisi ini masih di bawah ini rata-rata harian sebesar 6,8 juta saham dalam 20 sesi perdagangan menurut data Thomson Reuters.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Wall Street Terdongkrak...
Wall Street Terdongkrak Diterpa Optimisme Pengembangan Vaksin Corona
Wall Street Berbalik...
Wall Street Berbalik Jatuh di Tengah Ancaman Trump Tutup Facebook dan Twitter
Wall Street Mixed Saat...
Wall Street Mixed Saat Dow dan S&P 500 Jatuh Dibayangi Kasus Baru Covid-19
Wall Street Turun Tajam...
Wall Street Turun Tajam Dihantam Aksi Jual Saham Teknologi
Microsoft Pikir-pikir...
Microsoft Pikir-pikir Beli TikTok Bikin Nasdaq Cetak Rekor, Wall Street Rebound
Wall Street Lebih Tinggi...
Wall Street Lebih Tinggi di Tengah Ancang-ancang Stimulus USD1 Triliun Gedung Putih
Berita Terkini
Mobilitas Makin Hemat:...
Mobilitas Makin Hemat: Nikmati Promo Spesial BRI Kartu Kredit di Aplikasi MyBluebird
15 menit yang lalu
JICT dan Bea Cukai Sinergi...
JICT dan Bea Cukai Sinergi Percepat Penanganan Kontainer Longstay di Pelabuhan
17 menit yang lalu
Defisit APBN 2026 Diprediksi...
Defisit APBN 2026 Diprediksi Bengkak Jadi Rp734,3 Triliun, Setara 2,85% PDB
43 menit yang lalu
IHSG Babak Belur di...
IHSG Babak Belur di Paruh Pertama 2026, Modal Asing Sepanjang Juni Kabur Rp19,63 Triliun
1 jam yang lalu
Tren Liburan Jarak Dekat...
Tren Liburan Jarak Dekat Meningkat, Traveloka Hadirkan Diskon Perjalanan
1 jam yang lalu
Evaluasi Sukses, Perpindahan...
Evaluasi Sukses, Perpindahan Layanan Umrah ke Terminal 2F Dipercepat Jadi 10 Juli!
1 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved