Eurasia Pasar Prospektif Produk Unggulan Indonesia
Senin, 22 Mei 2017 - 23:27 WIB
Eurasia Pasar Prospektif Produk Unggulan Indonesia
A
A
A
JAKARTA - Kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah, kerap juga disebut Eurasia merupakan pasar prospektif bagi produk unggulan Indonesia. Untuk itu, Kementerian Luar Negeri mengadakan kajian mengenai tantangan dan peluang ekspor ke kawasan Euroasia.
Dalam seminar internasional bertajuk “Eurasian Economic Union: Challengens and Opportunities for Indonesia” yang bertempat di Universitas Udayana, Bali, Kemenlu mengundang 100 orang peserta dari wakil pejabat perwakilan diplomatik asing anggota Eurasian Economic Union (EAUEU), pejabat pemerintahan, pelaku bisnis, dan akademisi.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri, Siswo Pramono mengatakan ada dua hal yang bisa dicapai dalam seminar di atas. Pertama, pendalaman kerja sama perdagangan dan ekonomi dengan pasar tradisional Indonesia. Kedua, mengupayakan pembukaan pasar baru bagi produk-produk Indonesia di negara-negara prospektif.
“Pembukaan pasar baru di berbagai kawasan salah satunya dilakukan melalui penjajakan keikutsertaan Indonesia pada berbagai kesepakatan perdagangan bilateral, regional, maupun lintas benua (Cross Regional Trade Agreement), seperti penawaran Rusia untuk membentuk kerjasama perdagangan bebas antara ASEAN dan Eurasian Economic Union (EAEU),” ujarnya dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Senin (22/5/2017).
EAEU merupakan bentuk integrasi kerja sama ekonomi di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah yang merupakan negara-negara pecahan Uni Soviet (Belarusia, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Armenia) dengan Rusia sebagai motor utamanya, mulai berlaku secara resmi sejak tahun 2015.
Meskipun EAEU merupakan integrasi ekonomi berbentuk Economic Union, sama halnya dengan Uni Eropa, EAEU tidak akan menerapkan kebijakan penggunaan mata uang bersama. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi ekonomi dan keuangan yang cukup besar antara negara-negara anggota EAEU.
Nah sebagai pasar baru, EAEU menjanjikan bagi masuknya produk-produk Indonesia. Untuk itu, Indonesia perlu secara cermat memetakan produk-produk unggulannya untuk diperdagangkan dengan negara-negara EAEU, sehingga dapat mengejar nilai defisit perdagangan selama ini.
Indonesia dapat memanfaatkan nota kesepahaman kerjasama (MoU) dengan EAEU, melalui pembentukan working groups, untuk menegosiasikan pembebasan tarif bagi produk barang dan jasa kedua negara dan hal-hal lainnya, sebelum akhirnya Indonesia memutuskan untuk membentuk integrasi kerjasama ekonomi dalam bentuk kawasan perdagangan bebas (FTA) atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), atau bentuk lainnya.
Rusia merupakan 80% penyumbang GDP bagi EAEU, sehingga peningkatan kerja sama dengan Rusia merupakan hal yang mutlak dilakukan. Salah satu produk unggulan Indonesia yang sangat potensial untuk pasar EAEU adalah minyak kelapa sawit (palm oil).
Kampanye negatif terhadap palm oil yang dilakukan oleh Uni Eropa (EU), harus dapat dipatahkan Indonesia, sehingga produk unggulan Indonesia tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Nilai ekspor miyak kelapa sawit Indonesia ke Rusia mencapai total nilai sebesar USD480 juta pada tahun 2015.
Dan kata Siswo, Indonesia harus bisa memanfaatkan peluang ini, karena negara-negara ASEAN lainnya seperti Vietnam, Singapura, Malaysia, sudah melakukan engagement dengan EAEU.
Salah satu tantangan nyata yang dihadapi Indonesia dalam melakukan kerja sama ekonomi dengan EAEU adalah konektivitas. Pelabuhan di Rusia menjadi andalan Indonesia untuk memasukkan barang di EAEU.
Namun demikian, Indonesia dan EAEU dapat memanfaatkan adanya mega proyek Republik Rakyat China yang meningkatkan kerja sama ekonomi bagi negara-negara yang berada di jalur sutra (One Belt One Road) melalui pembangunan infrastruktur, sehingga biaya pengiriman menjadi dapat ditekan.
Dalam seminar internasional bertajuk “Eurasian Economic Union: Challengens and Opportunities for Indonesia” yang bertempat di Universitas Udayana, Bali, Kemenlu mengundang 100 orang peserta dari wakil pejabat perwakilan diplomatik asing anggota Eurasian Economic Union (EAUEU), pejabat pemerintahan, pelaku bisnis, dan akademisi.
Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan (BPPK) Kementerian Luar Negeri, Siswo Pramono mengatakan ada dua hal yang bisa dicapai dalam seminar di atas. Pertama, pendalaman kerja sama perdagangan dan ekonomi dengan pasar tradisional Indonesia. Kedua, mengupayakan pembukaan pasar baru bagi produk-produk Indonesia di negara-negara prospektif.
“Pembukaan pasar baru di berbagai kawasan salah satunya dilakukan melalui penjajakan keikutsertaan Indonesia pada berbagai kesepakatan perdagangan bilateral, regional, maupun lintas benua (Cross Regional Trade Agreement), seperti penawaran Rusia untuk membentuk kerjasama perdagangan bebas antara ASEAN dan Eurasian Economic Union (EAEU),” ujarnya dalam siaran pers yang diterima SINDOnews, Senin (22/5/2017).
EAEU merupakan bentuk integrasi kerja sama ekonomi di kawasan Eropa Timur dan Asia Tengah yang merupakan negara-negara pecahan Uni Soviet (Belarusia, Kyrgyzstan, Kazakhstan, Armenia) dengan Rusia sebagai motor utamanya, mulai berlaku secara resmi sejak tahun 2015.
Meskipun EAEU merupakan integrasi ekonomi berbentuk Economic Union, sama halnya dengan Uni Eropa, EAEU tidak akan menerapkan kebijakan penggunaan mata uang bersama. Hal ini dikarenakan perbedaan kondisi ekonomi dan keuangan yang cukup besar antara negara-negara anggota EAEU.
Nah sebagai pasar baru, EAEU menjanjikan bagi masuknya produk-produk Indonesia. Untuk itu, Indonesia perlu secara cermat memetakan produk-produk unggulannya untuk diperdagangkan dengan negara-negara EAEU, sehingga dapat mengejar nilai defisit perdagangan selama ini.
Indonesia dapat memanfaatkan nota kesepahaman kerjasama (MoU) dengan EAEU, melalui pembentukan working groups, untuk menegosiasikan pembebasan tarif bagi produk barang dan jasa kedua negara dan hal-hal lainnya, sebelum akhirnya Indonesia memutuskan untuk membentuk integrasi kerjasama ekonomi dalam bentuk kawasan perdagangan bebas (FTA) atau Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), atau bentuk lainnya.
Rusia merupakan 80% penyumbang GDP bagi EAEU, sehingga peningkatan kerja sama dengan Rusia merupakan hal yang mutlak dilakukan. Salah satu produk unggulan Indonesia yang sangat potensial untuk pasar EAEU adalah minyak kelapa sawit (palm oil).
Kampanye negatif terhadap palm oil yang dilakukan oleh Uni Eropa (EU), harus dapat dipatahkan Indonesia, sehingga produk unggulan Indonesia tersebut dapat memberikan kontribusi positif bagi perekonomian Indonesia. Nilai ekspor miyak kelapa sawit Indonesia ke Rusia mencapai total nilai sebesar USD480 juta pada tahun 2015.
Dan kata Siswo, Indonesia harus bisa memanfaatkan peluang ini, karena negara-negara ASEAN lainnya seperti Vietnam, Singapura, Malaysia, sudah melakukan engagement dengan EAEU.
Salah satu tantangan nyata yang dihadapi Indonesia dalam melakukan kerja sama ekonomi dengan EAEU adalah konektivitas. Pelabuhan di Rusia menjadi andalan Indonesia untuk memasukkan barang di EAEU.
Namun demikian, Indonesia dan EAEU dapat memanfaatkan adanya mega proyek Republik Rakyat China yang meningkatkan kerja sama ekonomi bagi negara-negara yang berada di jalur sutra (One Belt One Road) melalui pembangunan infrastruktur, sehingga biaya pengiriman menjadi dapat ditekan.
(ven)
Lihat Juga :