Jonan Sindir Exxon Tidak Lebih Baik dari Facebook
Jum'at, 26 Mei 2017 - 18:03 WIB
Jonan Sindir Exxon Tidak Lebih Baik dari Facebook
A
A
A
JAKARTA - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyindir keras perusahaan migas dunia, ExxonMobil Indonesia dengan menyebut perusahaan tersebut tak lebih baik dibanding Facebook Inc yang didirikan Mark Zuckerberg.
Hal ini lantaran perusahaan yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat (AS) tersebut tidak bisa membuat ongkos produksi migasnya efisien. Dia mengaku heran dengan tingkah perusahaan migas yang ada di Tanah Air, yang berlomba-lomba membuat ongkos yang dikembalikan pemerintah dari kegiatan eksplorasi migas (cost recovery) semakin tinggi.
Namun, kenaikan cost recovery tersebut tidak diimbangi dengan kenaikan produksi migas. "Presiden dan saya dua manusia yang tidak mengerti kalau cost recovery naik produksi turun. Kalau Anda enggak happy, ya saya enggak tahu. Saya juga enggak ngerti ini bisnis opo. Kalau cost recovery naik, produksi harus naik. Enggak ada debat," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (26/5/2017).
Menurutnya, Facebook yang diciptakan seseorang yang usianya belum genap 40 tahun justru bisa jauh lebih efisien dari Exxon yang sudah tua dan diisi orang-orang yang sangat berpengalaman di bidangnya.
"Facebook itu dibikin oleh manusia yang sekarang umurnya belum 40 tahun, yaitu Mark Zuckerberg. Facebook itu lebih besar dari Exxon. The largerst oil and gas company kalah sama Facebook. If you cannot reduce cost, you are useless. Because you can't manage the oil price. Crude oil cannot be manage by anybody. Not me not all of you. Ya sudah kalau bisnis enggak bisa ngatur harga jual ya ngatur cost supaya efisien," tuturnya.
Mantan Bos PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini juga heran dengan perbedaan biaya produksi minyak yang dimasukkan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam cost recovery. Salah satu KKKS memasukkan ongkos produksinya sekitar USD6 per barel, sementara salah seorang lainnya memasukkan angka USD40 per barel.
"Ini ajaib, saya juga enggak ngerti bisnis opo ini. KalauAanda debat ini karena tingkat kesulitan, menurut saya enggak. Coba kalau enggak percaya sini anak yang kerja di upstream, coba kerja di perbankan atau di automotif, enggak mungkin bisa. Karena efisiensinya beda," kata dia.
Hal ini lantaran perusahaan yang bermarkas di Texas, Amerika Serikat (AS) tersebut tidak bisa membuat ongkos produksi migasnya efisien. Dia mengaku heran dengan tingkah perusahaan migas yang ada di Tanah Air, yang berlomba-lomba membuat ongkos yang dikembalikan pemerintah dari kegiatan eksplorasi migas (cost recovery) semakin tinggi.
Namun, kenaikan cost recovery tersebut tidak diimbangi dengan kenaikan produksi migas. "Presiden dan saya dua manusia yang tidak mengerti kalau cost recovery naik produksi turun. Kalau Anda enggak happy, ya saya enggak tahu. Saya juga enggak ngerti ini bisnis opo. Kalau cost recovery naik, produksi harus naik. Enggak ada debat," ujarnya di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (26/5/2017).
Menurutnya, Facebook yang diciptakan seseorang yang usianya belum genap 40 tahun justru bisa jauh lebih efisien dari Exxon yang sudah tua dan diisi orang-orang yang sangat berpengalaman di bidangnya.
"Facebook itu dibikin oleh manusia yang sekarang umurnya belum 40 tahun, yaitu Mark Zuckerberg. Facebook itu lebih besar dari Exxon. The largerst oil and gas company kalah sama Facebook. If you cannot reduce cost, you are useless. Because you can't manage the oil price. Crude oil cannot be manage by anybody. Not me not all of you. Ya sudah kalau bisnis enggak bisa ngatur harga jual ya ngatur cost supaya efisien," tuturnya.
Mantan Bos PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini juga heran dengan perbedaan biaya produksi minyak yang dimasukkan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) dalam cost recovery. Salah satu KKKS memasukkan ongkos produksinya sekitar USD6 per barel, sementara salah seorang lainnya memasukkan angka USD40 per barel.
"Ini ajaib, saya juga enggak ngerti bisnis opo ini. KalauAanda debat ini karena tingkat kesulitan, menurut saya enggak. Coba kalau enggak percaya sini anak yang kerja di upstream, coba kerja di perbankan atau di automotif, enggak mungkin bisa. Karena efisiensinya beda," kata dia.
(izz)
Lihat Juga :