Pangsa Pasar Masih 5%, Ini Tantangan Industri Keuangan Syariah

Selasa, 13 Juni 2017 - 21:12 WIB
Pangsa Pasar Masih 5%,...
Pangsa Pasar Masih 5%, Ini Tantangan Industri Keuangan Syariah
A A A
JAKARTA - Pangsa pasar yang masih 5% menyisakan beberapa tantangan buat industri keuangan syariah. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan ada empat tantangan utama.

Pertama, kapasitas kelembagaan yang belum kompetitif dan efisien, mulai dari dukungan permodalan yang terbatas, jaringan yang terbatas, rendahnya penggunaan tehnologi sampai dengan kapasitas SDM yang belum merata.

Kedua, masih terbatasnya jenis dan akses terhadap produk dan layanan keuangan syariah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

"Ini telah menjadi persepsi umum bahwa produk dan jasa keuangan syariah belum dapat menyediakan kenyamanan dan kecanggihan seperti halnya yang diberikan industri keuangan konvensional. Akan sulit kita menjawab kebutuhan dari masyarakat kelas menengah yang terus tumbuh dengan cepat," ujar Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad di Jakarta, Selasa (13/6/2017).

Muliaman menyampaikan, yang ketiga yakni market share keuangan syariah yang masih kecil. Per Maret 2017, total aset keuangan syariah Indonesia (tidak termasuk saham syariah) mencapai Rp967,9 triliun yang saat ini masih didominasi oleh sektor perbankan syariah yang hampir mencapai 50%.

OJK mencatat hingga Maret 2017, pangsa pasar keuangan syariah secara keseluruhan berkisar 5%. Data menunjukkan bahwa walaupun beberapa produk keuangan syariah memiliki market share lebih dari 5% secara individu, seperti perbankan syariah yang telah 5.29%, pembiayaan syariah 7,27% dan sukuk negara 16,96%, namun market share secara total aset keuangan syariah, masih di bawah 5% dari keseluruhan aset keuangan.

Keempat, kata Muliaman, yaitu literasi keuangan syariah masyarakat yang masih rendah. Survei nasional literasi dan inklusi keuangan 2016, indeks literasi keuangan syariah 2016 baru mencapai 8,11%.

"Saya menyadari ini bukan tantangan yang mudah untuk kita selesaikan dan membutuhkan waktu. Namun, saya mengajak semua melihat bahwa potensi untuk berkembang begitu besar. Jumlah masyarakat kelas menengah terus bertumbuh, jumlah penduduk muslim yang besar, peningkatan sovereign credit rating Indonesia menjadi investment grade, prospek ekonomi global dan domestik yang lebih baik serta regulatory regime yang kondusif," pungkasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
OJK Beberkan Kelemahan...
OJK Beberkan Kelemahan yang Menghambat Pertumbuhan Bank Syariah
Kebal Terhadap Krisis,...
Kebal Terhadap Krisis, Ini Upaya OJK Dorong Perbankan Syariah
OJK: Pinjaman Melalui...
OJK: Pinjaman Melalui Fintech Lending Syariah Tembus Rp509 Miliar
Pesantren dan Masjid...
Pesantren dan Masjid Diikutkan Bangun Ekosistem Keuangan Syariah
OJK: Hampir Seluruh...
OJK: Hampir Seluruh Landasan Hukum Penerbitan dan Transaksi Efek Syariah Tersedia
OJK Ungkap Berbagai...
OJK Ungkap Berbagai Tantang Ekonomi Syariah di Indonesia
Berita Terkini
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
48 menit yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
1 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
1 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
2 jam yang lalu
Lippoland Kembangkan...
Lippoland Kembangkan OAZE sebagai Pusat Kehidupan Baru di Cikarang
2 jam yang lalu
Kuasai 25% Kekayaan...
Kuasai 25% Kekayaan Miliarder AS: 144 Imigran Terkaya Pecahkan Rekor Rp39.261 Triliun
2 jam yang lalu
Infografis
3 Produsen Oplos 5 Merek...
3 Produsen Oplos 5 Merek Beras Premium, Ini Nama-namanya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved