Mesir: Kami Tidak Khawatir Kehilangan Uang dari Qatar
Jum'at, 16 Juni 2017 - 23:10 WIB
Mesir: Kami Tidak Khawatir Kehilangan Uang dari Qatar
A
A
A
JEJU - Menteri Keuangan Mesir Amr El-Garhy angkat bicara atas pernyataan Menteri Keuangan Qatar Ali Shareef Al Emadi pada Senin (12/6/2017). Dalam wawancara eksklusif dengan CNBC, Al Emadi mengatakan bila negaranya kehilangan uang dari krisis dengan negara Teluk, maka negara-negara Teluk juga akan kehilangan uang juga.
Menanggapi itu, El-Garhy mengatakan Kairo tidak pernah khawatir tentang kemungkinan dampak finansial dari keretakan politiknya dengan Doha. "Ini bukan masalah kehilangan uang, ini masalah prinsip," tegasnya kepada CNBC di sela-sela pertemuan tahunan kedua Asian Infrastructure Investment Bank di Jeju, Korea Selatan, Jumat (16/6/2017).
El-Garhy bahkan menambahkan bahwa Mesir tidak terganggu dan bersikeras untuk membekukan hubungan dengan Doha. "Kami merujuk pada koalisi negara-negara Teluk. Jika negara Teluk mengambil sikap yang kuat, pasti ada alasan kuat di balik itu dan pihak lainnya seharusnya berhati-hati, bukan balik meresponsnya," tambah dia.
Rencananya Mesir dan enam negara Teluk lainnya akan memutuskan bersama apa yang perlu dilakukan tentang krisis dengan Qatar. (Baca: Menkeu Qatar: Jika Kami Kehilangan Uang, Mereka Juga Kehilangan Uang )
Sementara itu, Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi baru-baru ini meminta Turki untuk ikut memboikot Qatar, agar memberikan tekanan kepada Doha. Beberapa pakar menilai bahwa blokade terhadap Qatar, membuat Doha beralih ke Turki dan Iran. Namun El-Garhy menolak memberikan komentar atas pernyataan Al-Sisi.
Yang jelas menurut El-Garhy, dampak finansial atas pemutusan hubungan dengan Qatar bisa diganti dengan pinjaman dari IMF. Negeri yang sempat poranda akibat Arab Springs ini, mulai membangun ekonomi domestiknya. El Garhy mengatakan Mesir akan menerima bantuan tahap kedua dari pinjaman IMF sebesar USD1,25 miliar dalam beberapa pekan ke depan.
Untuk itu, Kairo harus menurunkan tingkat inflasi dan mencabut subsidi energi, sesuai dengan syarat dan ketentuan berlaku dari pinjaman IMF. El-Garhy sendiri mengatakan pemerintahnya berkomitmen pada kedua syarat tersebut, bahwa bank sentral Mesir memperkirakan inflasi 13% pada tahun 2018. Sedangkan inflasi Mesir saat ini mencapai 30%.
Dalam pemulihan ekonomi domestik ini, Mesir juga berencana memulihkan kembali industri pariwisata mereka. Masalah keamanan sempat membuat industri pariwisata Mesir sepi dari pengunjung. Mereka akan mengoptimalkan tempat liburan Alexandria, yang banyak dikunjungi turis mancanegara.
Menanggapi itu, El-Garhy mengatakan Kairo tidak pernah khawatir tentang kemungkinan dampak finansial dari keretakan politiknya dengan Doha. "Ini bukan masalah kehilangan uang, ini masalah prinsip," tegasnya kepada CNBC di sela-sela pertemuan tahunan kedua Asian Infrastructure Investment Bank di Jeju, Korea Selatan, Jumat (16/6/2017).
El-Garhy bahkan menambahkan bahwa Mesir tidak terganggu dan bersikeras untuk membekukan hubungan dengan Doha. "Kami merujuk pada koalisi negara-negara Teluk. Jika negara Teluk mengambil sikap yang kuat, pasti ada alasan kuat di balik itu dan pihak lainnya seharusnya berhati-hati, bukan balik meresponsnya," tambah dia.
Rencananya Mesir dan enam negara Teluk lainnya akan memutuskan bersama apa yang perlu dilakukan tentang krisis dengan Qatar. (Baca: Menkeu Qatar: Jika Kami Kehilangan Uang, Mereka Juga Kehilangan Uang )
Sementara itu, Presiden Mesir Abdel Fattah Al-Sisi baru-baru ini meminta Turki untuk ikut memboikot Qatar, agar memberikan tekanan kepada Doha. Beberapa pakar menilai bahwa blokade terhadap Qatar, membuat Doha beralih ke Turki dan Iran. Namun El-Garhy menolak memberikan komentar atas pernyataan Al-Sisi.
Yang jelas menurut El-Garhy, dampak finansial atas pemutusan hubungan dengan Qatar bisa diganti dengan pinjaman dari IMF. Negeri yang sempat poranda akibat Arab Springs ini, mulai membangun ekonomi domestiknya. El Garhy mengatakan Mesir akan menerima bantuan tahap kedua dari pinjaman IMF sebesar USD1,25 miliar dalam beberapa pekan ke depan.
Untuk itu, Kairo harus menurunkan tingkat inflasi dan mencabut subsidi energi, sesuai dengan syarat dan ketentuan berlaku dari pinjaman IMF. El-Garhy sendiri mengatakan pemerintahnya berkomitmen pada kedua syarat tersebut, bahwa bank sentral Mesir memperkirakan inflasi 13% pada tahun 2018. Sedangkan inflasi Mesir saat ini mencapai 30%.
Dalam pemulihan ekonomi domestik ini, Mesir juga berencana memulihkan kembali industri pariwisata mereka. Masalah keamanan sempat membuat industri pariwisata Mesir sepi dari pengunjung. Mereka akan mengoptimalkan tempat liburan Alexandria, yang banyak dikunjungi turis mancanegara.
(ven)
Lihat Juga :