Instrumen GWM Primer Average Jaga Stabilitas Keuangan Nasional
Senin, 03 Juli 2017 - 22:18 WIB
Instrumen GWM Primer Average Jaga Stabilitas Keuangan Nasional
A
A
A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) optimistis instrumen moneter Giro Wajib Minimum (GWM) Primer Averaging yang baru akan memperkuat stabilitas keuangan nasional. Rasio GWM primer tetap sebesar 6,5% dari DPK (uang simpanan) di bank efektif per 1 Juli 2017 dan akan dilakukan bertahap (partial) hingga berlaku penuh (full average).
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengemukakan instrumen moneter ini secara sederhana untuk mengendalikan uang beredar. Lebih jauh tujuannya ialah untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, kurs, dan juga mengendalikan angka inflasi nasional.
“Ini instrumen moneter yang terus berevolusi. Manfaatnya untuk menyerap dan menambah likuiditas di pasar uang. Tadinya kita menggunakan GWM Fix dan sekarang menggunakan Average. Kita sudah menguji dan lakukan sosialisasi sejak April 2017. Kami yakin instrumen ini akan menjaga kestabilan kurs, karena menjaga suplai dan permintaan di pasar uang,” ujar Mirza, saat seminar di Jakarta, Senin (3/7/2017).
Dia melanjutkan evolusi dalam kebijakan moneter merupakan hal yang wajar karena melihat kebutuhan dan kondisi saat tersebut. Perubahan khususnya untuk mengantisipasi potensi pertumbuhan perekonomian nasional dan juga tantangan dari ekonomi global.
Tahun ini, bank sentral masih harus mengantisipasi kebijakan The Fed yang masih akan naikkan suku bunga. Selain itu, BI juga harus terus hati-hati terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
“Jadi opsi untuk menurunkan suku bunga acuan masih belum ada. Kami masih punya opsi instrumen non suku bunga atau makro prudential dengan longgarkan LTV. BI harus melihat keseimbangan ekonomi domestik dan ekternal. Seperti kenaikan suku bunga The Fed di AS dan pemulihan ekonomi di Tiongkok (China),” ujarnya.
Mirza juga menegaskan risiko dalam kondisi ekonomi saat ini selalu menanti. Karena itu bank sentral bertugas untuk mencegah potensi terjadinya ekonomi gelembung atau bubble. Instrumen GWM Average dapat mencegah dari kelebihan ataupun kekeringan likuiditas.
“Apabila banjir likuiditas maka bisa memicu spekulasi khususnya pada properti dan aset keuangan. Karena itu pengetatan harus dilakukan demi antisipasi. Resesi dan ekonomi bubble harus dicegah sebelum menyesal,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Yoga Affandi menjelaskan GWM Primer adalah simpanan minimum dalam rupiah yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo Rekening Giro pada Bank Indonesia. Besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari DPK.
Manfaatnya antara lain memberi fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas sehingga meningkatkan efisiensi perbankan. Menjadi bantalan suku bunga sehingga mengurangi volatilitas suku bunga di pasar uang. Kemudian juga memberi ruang penempatan likuiditas sehingga mendorong pendalaman pasar uang.
“Kami sudah lakukan ujicoba dan hasilnya positif. Saat ini kita melakukan secara bertahap atau parsial hingga nanti akan dilakukan secara penuh. Karena perbankan juga membutuhkan adjustment dan persiapan untuk mengelola likuiditas menjadi lebih baik,” ujar Yoga
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengemukakan instrumen moneter ini secara sederhana untuk mengendalikan uang beredar. Lebih jauh tujuannya ialah untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, kurs, dan juga mengendalikan angka inflasi nasional.
“Ini instrumen moneter yang terus berevolusi. Manfaatnya untuk menyerap dan menambah likuiditas di pasar uang. Tadinya kita menggunakan GWM Fix dan sekarang menggunakan Average. Kita sudah menguji dan lakukan sosialisasi sejak April 2017. Kami yakin instrumen ini akan menjaga kestabilan kurs, karena menjaga suplai dan permintaan di pasar uang,” ujar Mirza, saat seminar di Jakarta, Senin (3/7/2017).
Dia melanjutkan evolusi dalam kebijakan moneter merupakan hal yang wajar karena melihat kebutuhan dan kondisi saat tersebut. Perubahan khususnya untuk mengantisipasi potensi pertumbuhan perekonomian nasional dan juga tantangan dari ekonomi global.
Tahun ini, bank sentral masih harus mengantisipasi kebijakan The Fed yang masih akan naikkan suku bunga. Selain itu, BI juga harus terus hati-hati terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.
“Jadi opsi untuk menurunkan suku bunga acuan masih belum ada. Kami masih punya opsi instrumen non suku bunga atau makro prudential dengan longgarkan LTV. BI harus melihat keseimbangan ekonomi domestik dan ekternal. Seperti kenaikan suku bunga The Fed di AS dan pemulihan ekonomi di Tiongkok (China),” ujarnya.
Mirza juga menegaskan risiko dalam kondisi ekonomi saat ini selalu menanti. Karena itu bank sentral bertugas untuk mencegah potensi terjadinya ekonomi gelembung atau bubble. Instrumen GWM Average dapat mencegah dari kelebihan ataupun kekeringan likuiditas.
“Apabila banjir likuiditas maka bisa memicu spekulasi khususnya pada properti dan aset keuangan. Karena itu pengetatan harus dilakukan demi antisipasi. Resesi dan ekonomi bubble harus dicegah sebelum menyesal,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Yoga Affandi menjelaskan GWM Primer adalah simpanan minimum dalam rupiah yang wajib dipelihara oleh bank dalam bentuk saldo Rekening Giro pada Bank Indonesia. Besarnya ditetapkan oleh Bank Indonesia sebesar persentase tertentu dari DPK.
Manfaatnya antara lain memberi fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas sehingga meningkatkan efisiensi perbankan. Menjadi bantalan suku bunga sehingga mengurangi volatilitas suku bunga di pasar uang. Kemudian juga memberi ruang penempatan likuiditas sehingga mendorong pendalaman pasar uang.
“Kami sudah lakukan ujicoba dan hasilnya positif. Saat ini kita melakukan secara bertahap atau parsial hingga nanti akan dilakukan secara penuh. Karena perbankan juga membutuhkan adjustment dan persiapan untuk mengelola likuiditas menjadi lebih baik,” ujar Yoga
(dmd)
Lihat Juga :