Indef: Perubahan Sistem Penyaluran Beras Butuh Infrastruktur

Minggu, 30 Juli 2017 - 14:33 WIB
Indef: Perubahan Sistem...
Indef: Perubahan Sistem Penyaluran Beras Butuh Infrastruktur
A A A
JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) menilai perubahan sistem penyaluran beras miskin (raskin) menjadi beras sejahtera (rastra) tidak akan maksimal. Dibutuhkan infrastruktur pendukung untuk masyarakat di pelosok.

"Maksudnya memang baik dari pola raskin menjadi beras sejahtera (rastra). Namun, perubahan itu belum diikuti insfrastruktur pendukung sehingga berpotensi menjadi masalah baru," ujar Researcher Indef Ahmad Heri Fidaus kepada SINDOnews di kantornya.

Awalnya, sistem penyaluran bantuan sosial beras langsung diberikan ke penerima rumah tangga sasaran (RTS). Namun, kini berubah ke penyaluran non tunai. Yaitu, RTS mendapat bantuan Rp110 ribu per kepala keluarga dalam setiap bulannya.

"Harapan perubahan ini melalui target pemerintah yang 6T, yaitu tepat waktu, sasaran, jumlah, harga, kualitas dan tepat administrasi terpenuhi," ungkap Ahmad Heri.

Namun, lanjut dia, bila pola baru itu berbasis informasi tehnologi (IT), yang mana RTS harus menggesek kartu yang didapat ke mesin penggesek yang disediakan.

"Apakah masyarakat di desa di suatu pegunungan ada fasilitas internet atau mesin geseknya. Sampai saat ini kami belum mendapat data kalau di desa-desa pelosok tersedia jaringan provider. Ini problem tersendiri," paparnya.

Selain itu, kata Ahmad Heri, penetapan bantuan Rp110 ribu per bulan/kepala kelaurga (KK) juga jadi problem lain. Sebab, jumlah satu keluarga tidak sama. Ada yang satu keluarga tujuh orang dan ada yang cuma tiga orang.

Untuk itu, dia menyarakan, polanya tidak perlu diubah. Namun, yang diubah adalah kualitas objek bantuannya dengan memberikan subsidi.

"Beras raskin ditinggalkan karena kualitasnya jelek; ada kutu dan jamuran. Namun, bila beras kualitas baik yang dibagikan dengan bentuk intervensi pemerintah subsidi, maka ini yang baik," jelasnya.

Baca juga:

Menko Darmin Ungkap Kondisi Tata Niaga Beras
KPPU Pastikan Kasus Pengoplosan Beras PT IBU Jalan Terus
PT IBU Bantah Lakukan Penimbunan Beras
(dmd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pecah Rekor, Impor Beras...
Pecah Rekor, Impor Beras 2024 Butuh Anggaran Lebih Rp30 Triliun
Peningkatan Produksi...
Peningkatan Produksi Beras Disebut Hanya 0,55% dalam 22 Tahun, Gak Bahaya Ta?
Harga Beras Naik Gila-gilaan,...
Harga Beras Naik Gila-gilaan, Produksi RI Minus 2,8 Juta Ton
Anomali Harga Beras...
Anomali Harga Beras Bikin Boncos Rp99 T, Pemerintah Ultimatum Pelaku Usaha 2 Minggu
Statistikulasi dan Cerita...
Statistikulasi dan Cerita Produksi Beras Indonesia yang 'Wow'
Beras Premium Langka...
Beras Premium Langka dan Mahal, Begini Penjelasan BI Jakarta
Berita Terkini
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
17 menit yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
22 menit yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
33 menit yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
1 jam yang lalu
Penghargaan Regional...
Penghargaan Regional Dorong Penguatan Dialog, Kepercayaan, dan Kepemimpinan di Asia Tenggara
1 jam yang lalu
Tren Global Tokenisasi...
Tren Global Tokenisasi Aset Menguat, RWA Jadi Motor Baru Industri Kripto
2 jam yang lalu
Infografis
3 Produsen Oplos 5 Merek...
3 Produsen Oplos 5 Merek Beras Premium, Ini Nama-namanya
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved