Banyak Negara Proteksi Diri, Mendag Minta RI Waspada
Rabu, 23 Agustus 2017 - 11:20 WIB
Banyak Negara Proteksi Diri, Mendag Minta RI Waspada
A
A
A
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita meminta Indonesia untuk berhati-hati dengan kondisi yang terjadi di dunia saat ini. Pasalnya, proteksionisme kini tak hanya dianut Amerika Serikat (AS) di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump, melainkan hampir seluruh negara di dunia.
Dia mengakui, saat ini kinerja perdagangan Indonesia relatif baik. Hal ini terlihat dari surplus neraca perdagangan yang terus meningkat, nilai ekspor yang juga turut terkerek, serta impor yang meskipun meningkat namun didominasi impor bahan baku.
"Tapi saya mau mengajak kita jangan terlena dengan ini, karena persaingan demikian ketat," katanya di Gedung Kemendag, Jakarta, Rabu (23/8/2017).
Menurutnya, proteksionisme kini tak hanya dianut negara maju seperti AS. Meski secara formalitas negara-negara tersebut menganut perdagangan bebas, namun mereka secara diam-diam justru menerapkan proteksionisme terhadap negaranya.
"Persaingan yang terjadi antar negara dan proteksionism sudah melanda tidak lagi justru pada developing countries tapi pada semua negara, mereka berlomba. Kalau mau disebut waktu pemerintahan Trump saja, tapi ini sudah hampir semuanya. Meskipun mereka secara formal mengatakan mereka menganut perdagangan bebas, perdagangan lintas batas," tutur dia.
Politisi Partai Nasdem ini mencontohkan, belum lama ini India melakukan proteksi diri dengan menaikkan tarif bea impor sawit hingga 100%. Tak hanya itu, ekspor CPO Indonesia ke Rusia meningkat namun pangsa pasarnya (market share) berkurang.
"Karena pertumbuhan tetangga lebih besar dari kita. Kalau ini didiamkan akan terjadi pergeseran market share, dan ini jadi ancaman kalau kita business as usual, tidak peka dan tidak himpun berbagai informasi apa yang terjadi dan mengambil langkah untuk mengatasi ini semua," terang Enggar.
Dia mengakui, saat ini kinerja perdagangan Indonesia relatif baik. Hal ini terlihat dari surplus neraca perdagangan yang terus meningkat, nilai ekspor yang juga turut terkerek, serta impor yang meskipun meningkat namun didominasi impor bahan baku.
"Tapi saya mau mengajak kita jangan terlena dengan ini, karena persaingan demikian ketat," katanya di Gedung Kemendag, Jakarta, Rabu (23/8/2017).
Menurutnya, proteksionisme kini tak hanya dianut negara maju seperti AS. Meski secara formalitas negara-negara tersebut menganut perdagangan bebas, namun mereka secara diam-diam justru menerapkan proteksionisme terhadap negaranya.
"Persaingan yang terjadi antar negara dan proteksionism sudah melanda tidak lagi justru pada developing countries tapi pada semua negara, mereka berlomba. Kalau mau disebut waktu pemerintahan Trump saja, tapi ini sudah hampir semuanya. Meskipun mereka secara formal mengatakan mereka menganut perdagangan bebas, perdagangan lintas batas," tutur dia.
Politisi Partai Nasdem ini mencontohkan, belum lama ini India melakukan proteksi diri dengan menaikkan tarif bea impor sawit hingga 100%. Tak hanya itu, ekspor CPO Indonesia ke Rusia meningkat namun pangsa pasarnya (market share) berkurang.
"Karena pertumbuhan tetangga lebih besar dari kita. Kalau ini didiamkan akan terjadi pergeseran market share, dan ini jadi ancaman kalau kita business as usual, tidak peka dan tidak himpun berbagai informasi apa yang terjadi dan mengambil langkah untuk mengatasi ini semua," terang Enggar.
(izz)
Lihat Juga :