alexametrics

BI: Sektor Properti Dorong Perekonomian Nasional

loading...
A+ A-
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menilai, sektor properti memiliki peran sangat penting dalam pembangunan perekonomian nasional. Upaya mendorong kinerja sektor properti agar sehat dan kuat merupakan tanggung jawab berbagai otoritas, termasuk Bank Indonesia.

"Kebijakan otoritas terkait di sektor properti yang saling bersinergi, dipercaya akan mampu mempercepat perbaikan kinerja sektor properti," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Mirza Adityaswara dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (24/8/2017).

Dia menjelaskan, sektor properti merupakan salah satu sektor yang mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar dan memiliki efek berantai (multiplier effect) serta backward linkage yang cukup besar kepada sektor-sektor ekonomi lainnya.

Oleh karena itu, sektor ini memiliki dampak besar untuk menarik dan mendorong perkembangan sektor-sektor ekonomi lainnya. Selain itu, sektor properti juga memiliki dampak terhadap perekonomian khususnya perkembangan produk keuangan.

"Hal ini terkait apabila terjadi peningkatan harga properti yang membumbung tinggi sehingga masyarakat memiliki permasalahan dalam kemampuan untuk membayar," ungkap dia. Menurutnya, sinergi antar institusi perlu dilakukan untuk memastikan perkembangan kinerja sektor properti sehat dan kuat.

Selain itu, kebijakan pelonggaran atau pengetatan rasio Loan to Value Ratio (LTV) yang ditempuh Bank Indonesia dengan memperhatikan siklus keuangan, diharapkan mampu meningkatkan kehati-hatian perbankan dalam menyalurkan kredit terutama untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR).

Hingga Juni 2017, sektor properti mengalami pertumbuhan sebesar Rp746,8 triliun atau 12,1%. lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 13,7% (yoy). Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman, perlambatan pertumbuhan tersebut bersumber dari kredit yang disalurkan kepada sektor konstruksi dan real estat, meskipun tertahan oleh peningkatan pertumbuhan KPR dan KPA.

"Kredit konstruksi tumbuh melambat dari 24,1% menjadi 20,8% (yoy) pada Juni 2017," imbuh Agusman. Demikian juga pertumbuhan kredit real estat melambat menjadi sebesar 10,4% (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 15,9% (yoy).

Kondisi sebaliknya terjadi pada KPR dan KPA yang menunjukkan akselerasi pertumbuhan dari 7,7% menjadi 7,9% pada Juni 2017. Sementara itu, suku bunga kredit menurun sejalan dengan penurunan suku bunga simpanan berjangka.
(ven)
preload video
KOMENTAR (pilih salah satu di bawah ini)
  • Disqus
  • Facebook
loading gif
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top