BBM Satu Harga Kurang Diminati Investor, Pertamina Nombok
Rabu, 18 Oktober 2017 - 15:34 WIB
BBM Satu Harga Kurang Diminati Investor, Pertamina Nombok
A
A
A
JAKARTA - Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan bahwa keuntungan (margin) yang kecil membuat program bahan bakar minyak (BBM) satu harga kurang diminati investor. Akibatnya, PT Pertamina (Persero) pun harus menambahkan margin dari kocek sendiri agar program tersebut diminati investor.
(Baca Juga: BBM Satu Harga Segera Hadir di Enam Lokasi Terpencil Ini )
Anggota Komite BPH Migas Hendry Achmad menyebutkan, keuntungan yang diperoleh investor dari penjualan BBM satu harga hanya sekitar Rp150 per liter. Jika per harinya terjual sekitar 300 liter, maka keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp45.000. Sementara investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mencapai Rp150 juta.
"(margin) Rp150 per liter. Ini orang enggak semangat. Katakanlah orang berinvestasi masa misalnya Rp150 juta, kalau seharinya 300 liter, berarti 300x150 baru Rp45 ribu. Siapa yang mau investasi segitu," katanya di Gedung BPH Migas, Jakarta, Rabu (18/10/2017).
Untuk itu, Pertamina pun memberikan rangsangan dengan menambahkan margin yang diperoleh investor yang membangun SPBU khusus untuk wilayah Papua. Tak tanggung-tanggung, BUMN migas tersebut menambahkan margin hingga Rp550 per liter, sehingga investor memperoleh margin sekitar Rp700 per liter.
"Untuk itu Pertamina untuk Papua memberikan ragsangan. Ayo Anda investasi disana kami tambahkan marginnya (jadi) Rp700 per liter. Kalau orang mau, yang nanggung Pertamina," imbuh dia.
Saat ini, tambah dia, pemerintah tengah mencari cara untuk memberikan rangsangan lain kepada investor. Salah satunya dengan mengurangi biaya investasi menjadi sekitar Rp75 juta per unit. Asalkan, SPBU yang dibangun tetap memenuhi standar teknis.
"Misalkan luasannya memadai, jangan di depan rumah, jadi harus tempat khusus. Paling tidak lahannya 100 meter. Kemudian ada gudang tempat simpan drumnya yang diberikan jarak dari tempat menyalurkan. Dan untuk menyalurkan dengan pompa tangan saja," papar dia.
"Jadi investasi akhirnya menjadi murah, apalagi BBM satu harga tanahnya murah sekali. Nah sedangkan peraturan infrastrukturnya ini mungkin kalau bisa sampai Rp20 juta ya Rp20 juta aja. Diluar tanah. Kan enggak bayar yang lainnya, enggak bayar izin, dan segala macam," tandasnya.
(Baca Juga: BBM Satu Harga Segera Hadir di Enam Lokasi Terpencil Ini )
Anggota Komite BPH Migas Hendry Achmad menyebutkan, keuntungan yang diperoleh investor dari penjualan BBM satu harga hanya sekitar Rp150 per liter. Jika per harinya terjual sekitar 300 liter, maka keuntungan yang diperoleh hanya sekitar Rp45.000. Sementara investasi yang harus dikeluarkan untuk membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) mencapai Rp150 juta.
"(margin) Rp150 per liter. Ini orang enggak semangat. Katakanlah orang berinvestasi masa misalnya Rp150 juta, kalau seharinya 300 liter, berarti 300x150 baru Rp45 ribu. Siapa yang mau investasi segitu," katanya di Gedung BPH Migas, Jakarta, Rabu (18/10/2017).
Untuk itu, Pertamina pun memberikan rangsangan dengan menambahkan margin yang diperoleh investor yang membangun SPBU khusus untuk wilayah Papua. Tak tanggung-tanggung, BUMN migas tersebut menambahkan margin hingga Rp550 per liter, sehingga investor memperoleh margin sekitar Rp700 per liter.
"Untuk itu Pertamina untuk Papua memberikan ragsangan. Ayo Anda investasi disana kami tambahkan marginnya (jadi) Rp700 per liter. Kalau orang mau, yang nanggung Pertamina," imbuh dia.
Saat ini, tambah dia, pemerintah tengah mencari cara untuk memberikan rangsangan lain kepada investor. Salah satunya dengan mengurangi biaya investasi menjadi sekitar Rp75 juta per unit. Asalkan, SPBU yang dibangun tetap memenuhi standar teknis.
"Misalkan luasannya memadai, jangan di depan rumah, jadi harus tempat khusus. Paling tidak lahannya 100 meter. Kemudian ada gudang tempat simpan drumnya yang diberikan jarak dari tempat menyalurkan. Dan untuk menyalurkan dengan pompa tangan saja," papar dia.
"Jadi investasi akhirnya menjadi murah, apalagi BBM satu harga tanahnya murah sekali. Nah sedangkan peraturan infrastrukturnya ini mungkin kalau bisa sampai Rp20 juta ya Rp20 juta aja. Diluar tanah. Kan enggak bayar yang lainnya, enggak bayar izin, dan segala macam," tandasnya.
(akr)
Lihat Juga :