Rupiah Ditutup di Rp13.590, Gagal Manfaatkan Tergelincirnya USD
Rabu, 13 Desember 2017 - 17:49 WIB
Rupiah Ditutup di Rp13.590, Gagal Manfaatkan Tergelincirnya USD
A
A
A
JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan Rabu (13/12/2017) berakhir melemah, gagal memanfaatkan tergelincirnya USD dari level tertinggi sejak empat pekan usai Demokrat memenangkan pertarungan kursi Senat melawan Republik di Negara Bagian Alabama, yang dikenal basis konservatif.
Indeks Bloomberg mencatat rupiah berakhir melemah 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.590 per USD, dibanding penutupan kemarin di Rp13.574 per USD. Awal perdagangan di pasar spot, rupiah tergerus 31 poin atau 0,23% ke level Rp13.605 per USD. Rabu ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp13.577-Rp13.605 per USD.
Hal serupa juga terpantau di data Yahoo Finance pada petang ini, dimana mata uang NKRI melemah 13 poin atau 0,10% menjadi Rp13.580 per USD, dibanding penutupan Selasa di Rp13.567 per USD. Hari ini, rupiah diperdagangkan di angka Rp13.565-Rp13.591 per USD.
Data SINDOnews yang bersumber dari Limas, rupiah pada Rabu petang ini ditutup di posisi Rp13.590 per USD, terdepresiasi 8 poin dari posisi pembukaan di level Rp13.582 per USD. Tidak adanya sentimen positif di dalam negeri membuat rupiah gagal mengambil cuan.
Melansir dari Reuters, USD tergelincir imbas dari kekalahan Partai Republik atas Partai Demokrat di pemilihan kursi Senat di Alabama, sehingga disinyalir akan mempersulit Presiden AS Donald Trump dalam rencana pemangkasan pajak perusahaan dan agenda ekonomi lainnya.
Indeks USD turun 0,15% terhadap enam mata uang saingan utama, menjadi 93,941, setelah dibuka menguat ke 94,219, merupakan tingkat tertinggi sejak 14 November 2017. Alhasil, USD juga melemah menjadi 113,35 yen Jepang dan euro naik 0,15% menjadi USD1,1757 EUR. Adapun poundsterling Inggris membaik ke USD1,3315, setelah kemarin jatuh ke level terendah dua pekan di USD1,3303 GBP.
Sebelumnya, USD menguat setelah data harga produsen AS lebih tinggi dari perkiraan, yaitu melonjak 3,1%, kenaikan terbesar sejak Januari 2012. Hal yang membuat investor optimistis Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan selama dua hari ini. Meski indeks USD menurun, investor sedang fokus pada proyeksi Fed soal laju kenaikan suku bunga tahun depan dan kebijakan mengenai prospek inflasi.
Indeks Bloomberg mencatat rupiah berakhir melemah 16 poin atau 0,12% ke level Rp13.590 per USD, dibanding penutupan kemarin di Rp13.574 per USD. Awal perdagangan di pasar spot, rupiah tergerus 31 poin atau 0,23% ke level Rp13.605 per USD. Rabu ini, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp13.577-Rp13.605 per USD.
Hal serupa juga terpantau di data Yahoo Finance pada petang ini, dimana mata uang NKRI melemah 13 poin atau 0,10% menjadi Rp13.580 per USD, dibanding penutupan Selasa di Rp13.567 per USD. Hari ini, rupiah diperdagangkan di angka Rp13.565-Rp13.591 per USD.
Data SINDOnews yang bersumber dari Limas, rupiah pada Rabu petang ini ditutup di posisi Rp13.590 per USD, terdepresiasi 8 poin dari posisi pembukaan di level Rp13.582 per USD. Tidak adanya sentimen positif di dalam negeri membuat rupiah gagal mengambil cuan.
Melansir dari Reuters, USD tergelincir imbas dari kekalahan Partai Republik atas Partai Demokrat di pemilihan kursi Senat di Alabama, sehingga disinyalir akan mempersulit Presiden AS Donald Trump dalam rencana pemangkasan pajak perusahaan dan agenda ekonomi lainnya.
Indeks USD turun 0,15% terhadap enam mata uang saingan utama, menjadi 93,941, setelah dibuka menguat ke 94,219, merupakan tingkat tertinggi sejak 14 November 2017. Alhasil, USD juga melemah menjadi 113,35 yen Jepang dan euro naik 0,15% menjadi USD1,1757 EUR. Adapun poundsterling Inggris membaik ke USD1,3315, setelah kemarin jatuh ke level terendah dua pekan di USD1,3303 GBP.
Sebelumnya, USD menguat setelah data harga produsen AS lebih tinggi dari perkiraan, yaitu melonjak 3,1%, kenaikan terbesar sejak Januari 2012. Hal yang membuat investor optimistis Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pada pertemuan kebijakan selama dua hari ini. Meski indeks USD menurun, investor sedang fokus pada proyeksi Fed soal laju kenaikan suku bunga tahun depan dan kebijakan mengenai prospek inflasi.
(ven)