Mendag Waspadai Peningkatan Ekonomi Tak Menggerus Inflasi

Kamis, 04 Januari 2018 - 16:21 WIB
Mendag Waspadai Peningkatan...
Mendag Waspadai Peningkatan Ekonomi Tak Menggerus Inflasi
A A A
JAKARTA - Menteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita nampak senang dengan capaian inflasi tahun 2017 yang hanya sekitar 3,61%. Apalagi, realisasi inflasi ini masih di bawah target di Anggaran Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017 yang sebesar 4,3%.

Menurutnya inflasi tahun kalender 2017 cukup terkendali, namun masih ada beberapa bahan makanan mengalami kenaikan dan berkontribusi terhadap inflasi nasional. Meski begitu, politisi Partai Nasdem ini menganggap kenaikan tersebut masih dalam batas yang wajar.

"Memang ada sedikit kenaikan tapi itu masih dalam range yang bisa diterima dari sisi inflasi," katanya dalam konferensi pers di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/1/2018).

Enggar menegaskan, pihaknya akan tetap menjaga inflasi di tahun 2018 dalam kondisi yang stabil. Apalagi, tahun ini Indonesia sudah masuk tahun politik dengan akan berlangsungnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di sejumlah daerah.

"Presiden pun dalam sidang kabinet paripurna menekankan untuk tetap mengendalikan inflasi sehingga pertumbuhan ekonomi tidaklah sia-sia. Manakala pertumbuhan ekonomi tinggi, dengan inflasi tinggi maka akan menggerus kemampuan masyarakat," imbuh dia.

Lebih lanjut Ia menambahkan, momen Pilkada di tahun ini memang dipastikan akan berdampak terhadap pertumbuhan ekonomi di daerah. Namun, yang perlu diwaspadai adalah bagaimana peningkatan pertumbuhan ekonomi ini tidak justru menekan inflasi.

"Jadi perdagangan tidak perlu khawatir, baik dari cetak kaos, sablon, orang ngumpul pasti sediakan makanan. Jadi peningkatan ekonomi di daerah pasti meningkat. Yang soal adalah bagaimana peningkatan itu tidak ada push terhadap inflasi. Itu yang harus dijaga," tandasnya.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi tahun kalender (year on year/yoy) tahun 2017 yang sebesar 3,61%. Realisasi inflasi ini lebih tinggi dibanding inflasi 2016 yang sebesar 3,02%.

Pada tahun lalu inflasi lebih disebabkan oleh kenaikan harga bahan makanan dan makanan jadi (volatile food). Namun, pada tahun ini pola penyebab inflasi justru lebih disebabkan karena harga yang diatur pemerintah (administred price).
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kemendag Catat Ekspor...
Kemendag Catat Ekspor Produk Pangan Olahan Naik 7,9%
21 Perjanjian Dagang...
21 Perjanjian Dagang Baru Dijajaki, Benua Afrika Salah Satu Targetnya
Mendag Ingatkan Pengusaha...
Mendag Ingatkan Pengusaha untuk Patuhi Regulasi IMEI
Usut Dugaan Korupsi...
Usut Dugaan Korupsi Gerobak Kemendag, Polri Analisa Transaksi Keuangan
Kejagung Geledah Kantor...
Kejagung Geledah Kantor Kemendag Sita Dokumen dan Uang Tunai
Kasus Minyak Goreng,...
Kasus Minyak Goreng, Pengamat: Cabut Izin Perusahaan yang Terbukti Melanggar
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
4 jam yang lalu
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
4 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
4 jam yang lalu
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
5 jam yang lalu
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
5 jam yang lalu
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
5 jam yang lalu
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved