Perekonomian AS Dinilai Lebih Bebas di Bawah Trump

Jum'at, 02 Februari 2018 - 12:16 WIB
Perekonomian AS Dinilai...
Perekonomian AS Dinilai Lebih Bebas di Bawah Trump
A A A
NEW YORK - Sebuah penelitian terbaru menunjukkan bahwa perekonomian Amerika Serikat (AS) dinilai lebih bebas di tengah upaya Presiden AS Donald Trump untuk mengurangi peraturan.

Seperti dikutip dari CNBC, Jumat (2/2/2018), AS menempati peringkat 18 dalam indeks kebebasan ekonomi global tahun ini oleh pemikir konservatif The Heritage Foundation-peningkatannya 0,6% dari tahun sebelumnya.

Mengukur seberapa baik pemerintah membentuk kebijakan yang memungkinkan tenaga kerja, modal dan barang bergerak bebas, asesmen didasarkan beberapa faktor seperti rule of law, efisiensi peraturan dan keterbukaan pasar.

"Kami sangat optimistis tentang AS dan ke mana tujuannya, alasan mengapa hal itu jauh lebih baik dalam rangking tahun ini karena deregulasi awal dari era Trump. AS suka atau tidak, masih merupakan mesin yang menarik bagi dunia," kata Edwin Feulner, pendiri dan mantan presiden Washington group.

Kemajuan negara pada indeks 2018 menandai pembalikan penurunan satu dekade. "Baru 12 tahun yang lalu bahwa Amerika Serikat berada di urutan kelima di dunia, sekarang 18, itu tidak berjalan baik selama 10 tahun terakhir. Amerika Serikat tidak hanya menghentikan penurunan, tapi bergerak ke arah yang benar," kata dia.

Feulner mencatat bahwa The Heritage Foundation hanya mempelajari data sampai 30 Juni untuk indeks 2018. "AS akan melakukan jauh lebih baik jika reformasi pajak baru-baru ini termasuk dalam skor," imbuhnya.

Tagihan pajak baru-baru ini senilai USD1,5 triliun untuk Gedung Putih, yang memangkas pajak perusahaan menjadi 21% dari sebelumnya 35%, di samping langkah deregulasi lainnya diperkirakan akan mendorong investasi dan pertumbuhan.

Perekonomian Asia tetap paling bebas di dunia, menempati empat dari lima titik teratas di indeks The Heritage Foundation. Pusat keuangan Hong Kong dan Singapura mempertahankan dua tempat teratas mereka selama 24 tahun berturut-turut, sementara China berada di urutan ke-110.
(izz)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Klaim Pengangguran AS...
Klaim Pengangguran AS Ditaksir Capai 20 Juta Orang Imbas Corona
Ekonomi AS Diperkirakan...
Ekonomi AS Diperkirakan Mulai Pulih di Paruh Kedua 2020
Tujuh Kebijakan Ekonomi...
Tujuh Kebijakan Ekonomi yang Akan Diambil Joe Biden
Ekonomi AS Panas Dingin...
Ekonomi AS Panas Dingin Diterpa Panasnya Suasana Pemilihan Presiden
Wall Street Ditutup...
Wall Street Ditutup Jatuh Terseret Pelemahan Saham Keuangan
Aliran Modal Keluar...
Aliran Modal Keluar Terbesar dalam 40 Tahun, Bank-bank AS Kehilangan Rp7.003 Triliun
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
6 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
7 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
7 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
8 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
8 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
8 jam yang lalu
Infografis
6 Jenderal Bintang 4...
6 Jenderal Bintang 4 AS Ini Pernah Peringatkan Trump soal Risiko Perang Melawan Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved