Penetrasi Impor Kelewat Besar, Neraca Perdagangan Defisit

Jum'at, 16 Maret 2018 - 21:01 WIB
Penetrasi Impor Kelewat...
Penetrasi Impor Kelewat Besar, Neraca Perdagangan Defisit
A A A
JAKARTA - Ekonom Faisal Basri memandang penetrasi impor saat ini terlalu jor-joran alias terlampau besar. Hal ini yang kemudian menyebabkan neraca perdagangan Indonesia dalam tiga bulan terakhir mengalami defisit.

Dia mengatakan, sejak Desember 2017 neraca dagang Indonesia mengalami defisit, terutama disebabkan oleh defisit transaksi dagang nonmigas. Menurutnya, hal ini karena impor yang dilakukan pemerintah terlalu besar-besaran.

"Transaksi dagang kita ekspor impor barang kembali di zona negatif. Paling besar defisit di Januari kemarin, tapi berlanjut di Februari. Defisit itu dari nonmigas kontributor utamanya. Kalau kita lihat, defisit itu terutama karena penetrasi impor yang semakin besar," katanya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat (16/3/2018).

Menurutnya, hampir semua jenis makanan dan minuman dari negara-negara seperti Taiwan, Korea, Malaysia, Singapura, dan Thailand masuk ke Indonesia. Sementara di sisi lain, industri nasional semakin melempem perkembangannya.

"Dengan mudah kita menyaksikan, pada satu acara di kementerian disajikan buah empat jenis, empat-empatnya impor. Dan industri kita semakin tidak berkembang pesat. Sehingga hampir semua jenis makanan-minuman, masuk ke kita dari Taiwan, Korea, Malaysia, Singapura, Thailand yang sebetulnya modalnya cuma air dan gula," cetusnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat realisasi impor pada periode Februari 2018 mencapai USD14,21 miliar. Realisasi ini meningkat cukup tajam atau sekitar 25,18% dibanding periode sama tahun sebelumnya.

Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan, jika dibanding bulan Januari 2018 realisasi impor pada periode ini memang menurun sekitar 7,16%. Namun, jika dibanding Januari 2017 dan Januari 2017 peningkatannya cukup tinggi.

"Nilai impor Februari 2018 USD14,21 miliar. Dibanding impor Februari 2017 yang sebesar USD11,35 miliar mengalami kenaikan signifikan yaitu 25,18%. Sementara dibanding Januari 2018 turun 7,16%. Total impornya masih lebih tinggi dibanding 2016 dan 2017," katanya di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (15/3/2018).
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Impor Tinggi, Neraca...
Impor Tinggi, Neraca Dagang Diramal Masih Bisa Surplus Tipis
PPKM Darurat Tak Akan...
PPKM Darurat Tak Akan Menghentikan Laju Surplus Neraca Perdagangan
Jaga Rekor 43 Bulan...
Jaga Rekor 43 Bulan Beruntun, Neraca Dagang RI November 2023 Cetak Surplus USD4,62 Miliar
Hebat, Neraca Dagang...
Hebat, Neraca Dagang Indonesia Suplus 29 Bulan Beruntun hingga September
Neraca Dagang Surplus...
Neraca Dagang Surplus Bantu Ketahanan Ekonomi dan Rupiah
Neraca Dagang November...
Neraca Dagang November 2020 Diproyeksi Cetak Surplus USD3,11 Miliar
Berita Terkini
PT IIM Buktikan Konsistensi...
PT IIM Buktikan Konsistensi Kinerja Historis dan Dampak Sosial di Tengah Volatilitas Pasar
3 jam yang lalu
Membaca Pola Pelemahan...
Membaca Pola Pelemahan Rupiah, DEN Prediksi Kurs Melandai pada Juli 2026
4 jam yang lalu
Bukan Sekadar Digitalisasi,...
Bukan Sekadar Digitalisasi, Kini Operasional Bisnis Harus Otonom
4 jam yang lalu
Pengembangan Bioenergi...
Pengembangan Bioenergi Berpotensi Serap 150 Ribu Tenaga Kerja
4 jam yang lalu
Kuliah Umum di Unhas,...
Kuliah Umum di Unhas, Afi Kalla Tekankan Peran IKM dalam Hilirisasi Ekonomi
5 jam yang lalu
Seminar dan Live Trading,...
Seminar dan Live Trading, Didimax Dorong Edukasi Trading yang Aman serta Mandiri
5 jam yang lalu
Infografis
8 Peristiwa Besar di...
8 Peristiwa Besar di Indonesia Sepanjang Tahun 2025
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved