Neraca Dagang November 2020 Diproyeksi Cetak Surplus USD3,11 Miliar
Selasa, 15 Desember 2020 - 07:42 WIB
loading...
Jelang pengumuman neraca perdagangan bulan November 2020 pada hari ini oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ekonom menyakini bakal kembali mencetak surplus. Foto/Ilustrasi
A
A
A
JAKARTA - Jelang pengumuman neraca perdagangan bulan November 2020 pada hari ini oleh Badan Pusat Statistik (BPS), ekonom menyakini bakal kembali mencetak surplus. Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan neraca perdagangan November diperkirakan surplus USD3,11 miliar dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat surplus USD3,61 miliar.
"Penurunan surplus perdagangan dipengaruhi oleh laju impor bulanan tercatat 6,89% (month of month/MoM) sementara ekspor diperkirakan tumbuh 1,89% MoM," ujar dia kepada MNC News Portal, Selasa (15/12/2020).
(Baca Juga: Cara BI Memandang Tren Surplus Neraca Perdagangan )
Sementara secara laju tahunan, ekspor diperkirakan sebesar 4,95% yoy ditopang oleh kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia seperti CPO tercatat naik 14,45% MoM batubara tercatat naik 9,15% MoM dan karet alam tercatat naik 1,90% MoM.
"Peningkatan harga komoditas ekspor juga didukung oleh peningkatan volume ekspor terindikasi oleh tren peningkatan aktivitas manufaktur dari negara mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat, China dan Jepang," jelasnya.
"Penurunan surplus perdagangan dipengaruhi oleh laju impor bulanan tercatat 6,89% (month of month/MoM) sementara ekspor diperkirakan tumbuh 1,89% MoM," ujar dia kepada MNC News Portal, Selasa (15/12/2020).
(Baca Juga: Cara BI Memandang Tren Surplus Neraca Perdagangan )
Sementara secara laju tahunan, ekspor diperkirakan sebesar 4,95% yoy ditopang oleh kenaikan harga komoditas ekspor Indonesia seperti CPO tercatat naik 14,45% MoM batubara tercatat naik 9,15% MoM dan karet alam tercatat naik 1,90% MoM.
"Peningkatan harga komoditas ekspor juga didukung oleh peningkatan volume ekspor terindikasi oleh tren peningkatan aktivitas manufaktur dari negara mitra dagang utama Indonesia seperti Amerika Serikat, China dan Jepang," jelasnya.
Lihat Juga :