Kendati Dimodali Utang, Kebijakan Pembangunan Dinilai Sudah Tepat

Rabu, 16 Mei 2018 - 19:30 WIB
Kendati Dimodali Utang,...
Kendati Dimodali Utang, Kebijakan Pembangunan Dinilai Sudah Tepat
A A A
JAKARTA - Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai sudah berada di jalur yang tepat (on the track) dalam melakukan pembangunan nasional. Meski, sebagian pembiayaan pembangunan didapat dari utang luar negeri.

Guru Besar Pasar Modal dan Perbankan Adler Haymans Manurung mengungkapkan, suatu negara dapat dijalankan dengan baik bila memiliki pembiayaan yang cukup dan secara terus menerus tersedia.

"Biasanya sumber pembiayaan negara diharapkan dari hasil pajak, bila sumber dana ini tidak mencukupi, maka pemerintah harus mencari dari sumber lain. Salah satunya berasal dari utang luar negeri," katanya di Jakarta, Rabu (16/5/2018).

Tujuan utang luar negeri, sambung Adler Haymans Manurung, adalah membuat masyarakat sejahtera. Misalnya untuk tujuan produktif seperti pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, pelabuhan, bandara dan program untuk menyejahterahkan rakyat. Sebagai catatan, utang bukan guna menutup keperluan konsumtif semisal belanja pegawai.

Dewan Pakar Jokowi Centre ini menjelaskan, komposisi utang pemerintah tahun 2017 berasal dari pinjaman (loans) Rp744 triliun, utang sekuritas (debt securities) Rp3.195 triliun dengan total Rp3.938 triliun yang merupakan 31,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Ini merupakan akumulasi dari utang pokok dan bunganya.

"Tidak ada yang salah dengan utang karena semua negara melakukannya. Bahkan dari data yang ada, Jepang 240% dari PDB, Amerika Serikat 90% dari PDB, Jerman 60% dari PDB, dan Italia 120% dari PDB," paparnya.

Dengan menggunakan Teori Debt-Relief Laffer Curve, lanjut dia, pemerintah melalui Kementerian Keuangan harus mengelola utang lebih baik dan menghitung kemampuan negara untuk membayarnya. Meski begitu, dia menyarankan adanya solusi rekayasa keuangan untuk mengatasi persoalan utang Indonesia.

Sementara, ekonom dan pendiri LBP Lucky Bayu Purnomo menilai masyarakat Indonesia sudah rasional dalam melihat indikator ekonomi dan pergerakan dinamikanya. Pelemahan rupiah yang sempat menembus Rp14.040 pada akhir pekan lalu menurutnya lebih dikarenakan situasi eksternal yang lebih besar pengaruhnya dari pada domestik.

"Jadi bukan karena merosotnya kepercayaan di pasar domestik. Namun, pemerintah dapat melakukan pengelolaan risiko. Bank Indonesia dapat melakukan stress test seperti sebelumnya dan melakukan upaya yang diperlukan untuk menjaga kestabilan rupiah dan lain sebagainya," ucapnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Lavrov: Seluruh Negara...
Lavrov: Seluruh Negara Harusnya Ikuti Prinsip Kebijakan Luar Negeri Indonesia
Terungkap! Utang Pemerintah...
Terungkap! Utang Pemerintah Separuh Lebih dari Pinjaman Asing
Utang Pemerintah Masih...
Utang Pemerintah Masih Akan Menumpuk hingga Akhir Tahun, Apa Penyebabnya
Utang Luar Negeri RI...
Utang Luar Negeri RI Melambat di Bulan Juli Bukan Kabar Baik, Kok Bisa?
Utang RI Menumpuk Akibat...
Utang RI Menumpuk Akibat Pandemi, Rekomendasi Ini Bisa Diambil Pemerintah
Catet Nih! Utang Indonesia...
Catet Nih! Utang Indonesia Turun ke Rp5.662 Triliun
Berita Terkini
Tokenisasi Saham AI...
Tokenisasi Saham AI Diminati Investor, Bittime Catat Kepemilikan Naik 106%
2 jam yang lalu
Iran-AS Memanas Lagi,...
Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
3 jam yang lalu
Pertamina Manfaatkan...
Pertamina Manfaatkan Jakarta Fair Perkuat Daya Saing UMKM Lokal
3 jam yang lalu
Pasar Saham RI Terancam...
Pasar Saham RI Terancam Turun Kelas, Modal Asing Bisa Kabur Rp3,6 Triliun
3 jam yang lalu
Sertifikasi Influencer...
Sertifikasi Influencer Kripto Dinilai Jadi Langkah Positif Bangun Ekosistem Lebih Sehat
4 jam yang lalu
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
4 jam yang lalu
Infografis
Cilia Flores, Istri...
Cilia Flores, Istri Maduro yang Disebut Otak di Balik Kebijakan Venezuela
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved