Harga Minyak Kembali Jatuh Karena Rusia Ingin Meningkatkan Produksi
Jum'at, 25 Mei 2018 - 10:20 WIB
Harga Minyak Kembali Jatuh Karena Rusia Ingin Meningkatkan Produksi
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak dunia kembali jatuh pada perdagangan Jumat (25/5/2018) karena Rusia berencana meningkatkan produksi minyaknya secara bertahap. Sejak 2017, Rusia bersama dengan kartel minyak OPEC telah menahan produksi demi mengembalikan harga.
Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada Kamis waktu Rusia, bahwa negaranya kemungkinan bakal meningkatkan produksi. Ia menambahkan bahwa OPEC dan negara-negara non-OPEC dapat "melunak" dengan meningkatkan produksi dengan melihat keseimbangan pasar minyak pada Juni depan.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent Internasional turun 10 sen menjadi USD78,69 per barel pada pukul 02.08 GMT. Namun harga minyak telah naik 2,2% selama bulan Mei ini, hingga sempat menyentuh USD80,50 per barel pada 17 Mei, level tertinggi sejak November 2014.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) berkurang 9 sen menjadi USD70,62 per barel.
"Harga minyak sekarang mulai melayang sedikit," ujar Kepala Strategi Pasar di Bursa Berjangka AxiTrader, Greg McKenna di Singapura. Ia menambahkan, OPEC dan Rusia sedang bergerak menuju peningkatan produksi pada pertemuan Juni mendatang di Wina, Austria.
Sebelumnya, sejak 2017, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC yang dikomandani oleh Rusia, mulai melakukan kesepakatan memangkas produksi minyak demi menaikkan harga. Harga minyak sendiri telah naik hampir 20% sejak akhir tahun lalu.
Adapun pemotongan produksi yang dilakukan OPEC dan Rusia, membuka pintu bagi Amerika Serikat, Kanada, dan Brazil untuk mengisi pangsa pasar. Dengan harga minyak yang lebih tinggi, hal ini telah menguntungkan mereka.
Bahkan Amerika Serikat telah meningkatkan produksi minyaknya menjadi 10,73 barel per hari, menempatkannya sebagai produsen minyak terbesar kedua di dunia setelah Rusia dengan 11 juta barel per hari.
"Dengan harga minyak yang lebih tinggi telah membuat keuntungan besar dari biaya produksi. Ini membuat industri minyak telah berubah positif pada tahun ini," kata Bernstein Energy. Menurut lembaga tersebut, 50 perusahaan minyak besar global hanya membutuhkan harga USD47 per barel untuk mencapai agregat titik impas.
Menteri Energi Rusia Alexander Novak mengatakan pada Kamis waktu Rusia, bahwa negaranya kemungkinan bakal meningkatkan produksi. Ia menambahkan bahwa OPEC dan negara-negara non-OPEC dapat "melunak" dengan meningkatkan produksi dengan melihat keseimbangan pasar minyak pada Juni depan.
Mengutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent Internasional turun 10 sen menjadi USD78,69 per barel pada pukul 02.08 GMT. Namun harga minyak telah naik 2,2% selama bulan Mei ini, hingga sempat menyentuh USD80,50 per barel pada 17 Mei, level tertinggi sejak November 2014.
Sementara itu, harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat, West Texas Intermediate (WTI) berkurang 9 sen menjadi USD70,62 per barel.
"Harga minyak sekarang mulai melayang sedikit," ujar Kepala Strategi Pasar di Bursa Berjangka AxiTrader, Greg McKenna di Singapura. Ia menambahkan, OPEC dan Rusia sedang bergerak menuju peningkatan produksi pada pertemuan Juni mendatang di Wina, Austria.
Sebelumnya, sejak 2017, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan produsen non-OPEC yang dikomandani oleh Rusia, mulai melakukan kesepakatan memangkas produksi minyak demi menaikkan harga. Harga minyak sendiri telah naik hampir 20% sejak akhir tahun lalu.
Adapun pemotongan produksi yang dilakukan OPEC dan Rusia, membuka pintu bagi Amerika Serikat, Kanada, dan Brazil untuk mengisi pangsa pasar. Dengan harga minyak yang lebih tinggi, hal ini telah menguntungkan mereka.
Bahkan Amerika Serikat telah meningkatkan produksi minyaknya menjadi 10,73 barel per hari, menempatkannya sebagai produsen minyak terbesar kedua di dunia setelah Rusia dengan 11 juta barel per hari.
"Dengan harga minyak yang lebih tinggi telah membuat keuntungan besar dari biaya produksi. Ini membuat industri minyak telah berubah positif pada tahun ini," kata Bernstein Energy. Menurut lembaga tersebut, 50 perusahaan minyak besar global hanya membutuhkan harga USD47 per barel untuk mencapai agregat titik impas.
(ven)
Lihat Juga :