Gunakan Dana APBN, Jaringan Gas Mendesak Dibangun

Sabtu, 30 Juni 2018 - 00:16 WIB
Gunakan Dana APBN, Jaringan...
Gunakan Dana APBN, Jaringan Gas Mendesak Dibangun
A A A
BANDUNG - Indonesia dinilai mendesak memiliki jaringan gas (jargas) sampai level rumah tangga, sebagai bentuk kedaulatan energi. Pemerintah diminta mengalokasikan anggaran jargas agar tekanan subsidi LPG bisa ditekan.

Anggota DPR RI Herman Khaeron menilai, pemenuhan kebutuhan bahan bakar, terutama gas dinilai belum memenuhi amanat UUD 1945 dan belum memenuhi rasa keadilan bagi masyarakat. Sambungan pipa gas belum seluruhnya bisa dinikmati masyarakat. Padahal, tarif jargas tak hanya hemat 50% dari LPG tetapi juga memastikan ketersediaan aman bagi masyarakat.

"Banyak keuntungan ketika jargas dilakukan secara nasional. Keuntungannya, harga murah, ketersediaan gas terjamin. Rasanya, yang masih ada berseliweran tabung gas hanya di Indonesia. Di Australia sudah tidak ada tabung gas. Mereka tinggal buka kran karena sambungan sampai ke rumah tangga," kata Herman pada diskusi Jargas di Aula Wisma PGN Bandung, Jumat (29/6/2018).

Pemerintah, lanjut dia, mestinya menaruh perhatian serius pada jargas. Penggunaan dana APBN, semestinya tak hanya jor-joran untuk infrastruktur jalan, tetapi juga dialokasikan untuk ketahanan energi. Salah satunya membangun jaringan pipa gas sampai rumah tangga.

"Karena ini menyangkut kebutuhan orang banyak, dananya harus dari APBN. Nanti kalau swasta, harga jualnya bisa mahal. Sekarang kan dana untuk jargas hanya Rp1 triliun, mustinya lebih besar. Karena itu hanya bisa menyambung 70.000 rumah tangga," timpal dia.

Perwakilan dari Kementerian ESDM Alimudin mengatakan, pemanfaatan gas bumi sudah masuk proyek strategis nasional. Artinya, jargas menjadi perhatian utama karena menyangkut konsumsi masyarakat luas.

Diakui dia, biaya untuk membangun jargas sampai rumah tangga, setidaknya Rp10 juta per rumah tangga. Sehingga diperlukan biaya cukup besar. Sementara anggaran pemerintah sangat terbatas. Tahun ini, anggaran jargas hanya Rp1 triliun.

"Untuk jaringan ke rumah tangga sekarang masih cukup mahal. Apalagi bila jaringannya jauh dari pipa transmisi. Tetapi ada cara lain, yaitu memanfaatkan dana CSR. Sehingga penggunaan APBN bisa maksimal. Tetapi pembangunan jargas saat ini terus dilakukan," pungkas dia.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kontrak Pembangunan...
Kontrak Pembangunan Jargas Tahap III Sebanyak 44.461 SR Diteken
Komisi V DPR Apresiasi...
Komisi V DPR Apresiasi Capaian Realisasi Anggaran Kemenhub Tahun 2020
Kontrak Pembangunan...
Kontrak Pembangunan Jargas Tahap II Rp137,13 Miliar Diteken
Revisi UU Minerba Melenggang...
Revisi UU Minerba Melenggang ke Paripurna
Arifin Tasrif: RUU Minerba...
Arifin Tasrif: RUU Minerba Ingin Optimalkan Sumber Daya Alam
Bahas Sejumlah Program...
Bahas Sejumlah Program Prioritas, Rapat DPR dengan Kemhan Digelar Tertutup
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
32 menit yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
3 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
3 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
13 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
14 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
14 jam yang lalu
Infografis
Jika Diinvasi Barat,...
Jika Diinvasi Barat, Rusia Pastikan Gunakan Senjata Nuklir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved