Mengurangi Impor Bukan Cara Tepat Mencegah Defisit Perdagangan

Jum'at, 06 Juli 2018 - 23:18 WIB
Mengurangi Impor Bukan...
Mengurangi Impor Bukan Cara Tepat Mencegah Defisit Perdagangan
A A A
JAKARTA - Dalam rangka menekan defisit perdagangan, pemerintah mengambil langkah untuk menekan impor. Namun menurut ekonom Indef, Bhima Yudisthira, langkah untuk mengurangi impor harus dilihat terlebih dahulu, mengenai jenis barang impor yang akan dikurangi. Karena ini bisa berdampak negatif terhadap produktivitas ekonomi.

"Ini tergantung jenis barang impornya apa dulu. Kalau impor bahan baku industri, bisa berdampak negatif ke produktivitas ekonomi. Biaya produksi industri bisa naik signifikan apalagi impor dilakukan karena terpaksa tidak ada substitusi bahan baku lokal. Spill over effect nya sampai memicu inflasi karena harga jual produk naik, sampai efisiensi pekerja alias PHK," ujar Bhima saat dihubungi SINDOnews, di Jakarta, Jumat (6/7/2018).

Dia menambahkan, pengurangan impor bahan baku industri akan berpengaruh ke investasi sehingga bisa mempengaruhi pertumbuhan ekonomi

"Pengaruh ke investasi langsung juga negatif karena 74% total impor adalah bahan baku atau penolong yang dibutuhkan manufaktur. Ujungnya, kalau tidak hati-hati. pertumbuhan ekonominya bisa anjlok bahkan di bawah 5,1% tahun ini," jelasnya.

Apalagi, kata dia, pengendalian impor yang tidak pada tempatnya juga memukul kepercayaan investor, memicu berlanjutnya capital outflow. Dibanding proteksi impor yang blunder ke industri.

"Saya sarankan pemerintah fokus dulu mengendalikan impor bahan baku proyek infrastruktur yang sedang dikerjakan BUMN. Indikasi impor bengkak karena infrastruktur tercermin dari impor mesin dan mekanik tumbuh 31,9% (yoy) selama Januari-Mei 2018. Impor mesin dan peralatan listrik naik 28,16% (yoy) dan besi baja 39% (yoy). Kalau mau mengurangi impor, kewajiban TKDN proyek infra disarankan jadi 60-70%," paparnya.

Untuk itu, Komitmen BUMN penting agar defisit perdagangan mengecil sehingga permintaan valas turun. "Kalau impor BUMNnya diatur, saya kira sudah cukup signifikan menguatkan rupiah. Atur impor BUMN dulu baru evaluasi impor swasta," tandasnya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Indef Sebut Neraca Dagang...
Indef Sebut Neraca Dagang Surplus USD743 Juta Bersifat Semu
Impor Tinggi, Neraca...
Impor Tinggi, Neraca Dagang Diramal Masih Bisa Surplus Tipis
PPKM Darurat Tak Akan...
PPKM Darurat Tak Akan Menghentikan Laju Surplus Neraca Perdagangan
Jaga Rekor 43 Bulan...
Jaga Rekor 43 Bulan Beruntun, Neraca Dagang RI November 2023 Cetak Surplus USD4,62 Miliar
Hebat, Neraca Dagang...
Hebat, Neraca Dagang Indonesia Suplus 29 Bulan Beruntun hingga September
Neraca Dagang Surplus...
Neraca Dagang Surplus Bantu Ketahanan Ekonomi dan Rupiah
Berita Terkini
Pasar Keuangan Ambruk...
Pasar Keuangan Ambruk Lebih Dalam, Rupiah Diramal Tembus Rp19.000 Akhir Bulan Ini
10 menit yang lalu
BRIN Apresiasi Program...
BRIN Apresiasi Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas
33 menit yang lalu
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Mager di Rp2,73 Juta per Gram, Berikut Rinciannya
1 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Perkuat Ketahanan Pangan Melalui Program CID
1 jam yang lalu
BUMN Mulai Pangkas Anak...
BUMN Mulai Pangkas Anak Usaha, dari Pupuk Indonesia sampai PLN
2 jam yang lalu
WYCE Targetkan Penjualan...
WYCE Targetkan Penjualan 100.000 Boks pada Tahun Pertama
2 jam yang lalu
Infografis
Arkeolog Pecahkan Misteri...
Arkeolog Pecahkan Misteri Kutukan Firaun, Ternyata Bukan Sihir
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved