Stabilitas Nilai Tukar Cenderung Membaik

Sabtu, 14 Juli 2018 - 17:25 WIB
Stabilitas Nilai Tukar...
Stabilitas Nilai Tukar Cenderung Membaik
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) menyatakan, secara keseluruhan stabilitas nilai tukar cenderung terjaga dan membaik. Berbagai kebijakan yang ditempuh mendapat kepercayaan pasar sehingga imbal hasil pasar keuangan khususnya Surat Berharga Negara (SBN) berdaya saing.

Kemudian pasar valuta asing (valas) juga bekerja sangat baik, dimana suplai cukup besar dan cukup memenuhi kebutuhan permintaan. Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, jika dilihat inflow ke SBN dari periode 2 Juli-12 Juli 2018 sebesar Rp7,1 triliun. "Angka tersebut umumnya berjangka panjang di atas 10 tahun. Ini menunjukan kepercayaan pasar investor asing untuk berinvestasi di Indonesia terutama di pasar SBN cukup kuat," kata Perry dalam keterangan resmi, Sabtu (14/7/2018).

Sementara itu, suplai dolar dari korporasi rata-rata mencapai USD500-600 juta per hari. "Saya ingin berterima kasih bagi eksportir, korporasi, yang sudah confident untuk suplai kebutuhan di pasar valas. Sehingga bisa semakin perkuat stabilitas nilai tukar rupiah," jelas dia.

Bank Indonesia akan senantiasa menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan. Serangkaian langkah kebijakan ditempuh Bank Indonesia, termasuk koordinasi erat dengan Pemerintah.

"Kebijakan kenaikan BI 7-day Reverse Repo Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% mendapat persepsi positif investor dan mendorong arus masuk modal asing ke Indonesia," ungkap dia. Langkah ini juga disambut baik pelaku pasar sehingga turut mendorong terjaganya stabilitas nilai tukar rupiah.

Koordinasi Bank Indonesia dengan Pemerintah dan otoritas terkait akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan serta memperkuat implementasi reformasi struktural. "Bank Indonesia akan terus berada di pasar untuk melanjutkan upaya stabilisasi nilai tukar rupiah sesuai kondisi fundamentalnya dengan tetap mendorong bekerjanya mekanisme pasar," imbuh dia.

Disamping itu, posisi operasi pasar terbuka (OPT) konvensional BI pada akhir Juni 2018 mencapai Rp142,01 triliun, atau turun dari Rp197,49 triliun pada bulan Mei. Penurunan ini diduga terjadi akibat naiknya kebutuhan likuiditas perbankan untuk memenuhi permintaan dana tunai masyarakat yang tinnggi menjelang Idul Fitri.

"Posisi OPT menurun seiring berkurangnya penempatan dana pada Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI) dan naiknya posisi repo SBN," tambah Direktur Group Risiko dan Stabilitas Keuangan LPS Doddy Ariefianto. Di sisi lain, posisi reverse repo SBN dan deposit facility mengalami kenaikan.

Doddy memperkirakan, penurunan penempatan pada instrumen OPT akan berlanjut selain karena efek lanjutan periode libur Lebaran, juga disebabkan adanya kebutuhan likuiditas untuk penyaluran kredit yang meningkat.

BI akan terus melakukan operasi moneter secara terukur di pasar rupiah dan valas untuk memastikan ketersediaan likuditas. "Potensi kenaikan tingkat bunga acuan yang cukup terbuka akan mempengaruhi keseimbangan kondisi likuiditas perbankan di semester II 2018," pungkas dia.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
SBN Syariah Seri ST009...
SBN Syariah Seri ST009 Sudah Bisa Dibeli, Passive Income Sambil Menjaga Bumi
BI Pembeli Siaga, Bisa...
BI Pembeli Siaga, Bisa Beli SBN di Pasar Perdana hingga 2021
Bantu Jaga APBN dan...
Bantu Jaga APBN dan Rupiah, BI Sudah Beli SBN Rp137,49 Triliun
Beli Surat Berharga...
Beli Surat Berharga Negara Kini Bisa lewat Aplikasi, Caranya Gampang
Awal Tahun, Pembelian...
Awal Tahun, Pembelian SBN Tembus Rp13,66 Triliun
Berbagi Beban, BI Guyur...
Berbagi Beban, BI Guyur Pemerintah Rp42,96 Triliun
Berita Terkini
MDLA Luncurkan Armada...
MDLA Luncurkan Armada Mobil Listrik, Dorong Transformasi Distribusi Rendah Emisi
2 jam yang lalu
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
9 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
9 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
9 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
10 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
11 jam yang lalu
Infografis
5 Perguruan Tinggi Negeri...
5 Perguruan Tinggi Negeri yang Membuka Jalur Mandiri Nilai Rapor
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved