Pacu Produktivitas Lewat Padi Hibrida

Sabtu, 14 Juli 2018 - 19:31 WIB
Pacu Produktivitas Lewat...
Pacu Produktivitas Lewat Padi Hibrida
A A A
JAKARTA - Swasembada pangan tak lepas dari dua komoditas strategis yakni padi dan jagung. Padi yang hasilnya berupa beras adalah pangan primer bagi masyarakat negeri ini. Sementara jagung adalah unsur utama pakan unggas dan campuran konsentrat ternak potong atau perah besar yang outputnya mampu menghela kecukupan protein hewani berupa daging dan susu.

Dalam perkembangannya, rerata produktivitas jagung melampaui padi. Dari mulai tahun 2009 hingga 2015, rataan kenaikan produktivitas (ton per hektare) 3,62%. Sementara kata Ketua Kompartemen Tanaman Pangan Asbenindo (Asosiasi Perbenihan Indonesia) Yuana Leksana, dengan tahun yang sama, padi sawah irigasi produktivitasnya tidak beringsut dari angka 1,27%.

Yuana menambahkan bahwa tren kenaikan produksi jagung dan padi nasional lebih banyak disumbang dari luas panen. "Khusus untuk padi tahun 2016 dan tahun 2017 terpapar data bahwa angka produktivitas untuk padi negatif 2,0% dan dan negatif 1,5%. Namun untuk jagung positif 2.4% (2016) dan negatif 1,5% (2017)," jelasnya, dikutip dari keterangan resmi, Sabtu (14/7/2018).

Dan menaikkan angka produktivitas itu melalui teknologi. Jika dilihat dari penggunaan benih padi dewasa ini, 30,44% petani di Indonesia masih menggunakan varietas Ciherang yang sudah dilepas 18 tahun silam (2000). Padahal pemerintah telah mendorong penggunaan benih bermutu dan varietas unggul melalui Subsidi Benih melalui Bantuan Benih Pemerintah.

"Nah, teknologi padi hibrida sejatinya dapat menjadi salah satu upaya dari pemerintah untuk dapat meningkatkan angka produktivitas yang terbukti berhasil di komoditas jagung dengan program perluasa hibridisasinya," tambah Yuana.

Perkembangan padi hibrida tidak pesat karena keterbatasan importasi tetua yang memang diperlukan untuk mendapatkan benih hybrid yang sesuai dengan agrolimat Indonesia.

"Industri benih itu dalam satu hektare hanya mendapatkan benih komersial paling banyak 1,5 ton. Bayangkan jika ada perminataan dari masyarakat tani Indonesia, pasti akan membutuhkan petani mitra penangkar benih yang jauh lebih banyak dan itu menguntungkan Indonesia," jelas Yuana.

Bagi Asbenindo, semoga Permentan 127/2014 tentang pemasukan dan pengeluaran benih dapat kembali menjadi acuan agar pemerintah, swasta dan petani sama-sama mendapatkan kemanfaatan yakni tercukupinya benih hibrida unggul bersertifikat untuk mendorong angka produktivitas menjadi positif.

Saat ini, penggunaan padi hibrida secara nasional masih di bawah 1%. Sedangkan di banyak negara Asia seperti China, India, Bangladesh dan Filipina, benih padi hibrida sudah menjadi pilihan utama untuk pacu produktivitas.

Direktur Eksekutif Suara Petani Institute Tony Setiawan menjelaskan, ada tren petani sulit mendapatkan benih padi hibrida, padahal mereka sudah merasakan peningkatan produksi.

"Pemerintah sepatutnya konsisten untuk memacu pengembangan industri benih padi hibrida tumbuh di Indonesia. Jika tidak, yang rugi kan petani juga karena mereka tidak mendapatkan kepastian benih yang diproduksi industri padahal sudah dilepas pemerintah," katanya.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kementan Prioritaskan...
Kementan Prioritaskan Bangun Generasi Muda Pertanian
Keterbelakangan Teknologi,...
Keterbelakangan Teknologi, Petani Hadapi Krisis PR
Menjaga Keberlanjutan...
Menjaga Keberlanjutan Pertanian RI Lewat MoU Duta Petani Milenial-PT Tsamarot
Jaga Keseimbangan Sistem,...
Jaga Keseimbangan Sistem, Kementan Perkuat Regenerasi Petani
Eksportir Muda Berhasil...
Eksportir Muda Berhasil Kirim 1 Ton Jengkol ke Jepang
Tingkatkan Jumlah Petani...
Tingkatkan Jumlah Petani Muda untuk Ketahanan Pangan Nasional
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
3 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
3 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
3 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
5 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
5 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
5 jam yang lalu
Infografis
Ganjar-Mahfud Komitmen...
Ganjar-Mahfud Komitmen Lewat E-Budgeting dan E-Planning
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved