Pemerintah Diminta Dorong Potensi Ekspor Jasa

Selasa, 17 Juli 2018 - 10:54 WIB
Pemerintah Diminta Dorong...
Pemerintah Diminta Dorong Potensi Ekspor Jasa
A A A
JAKARTA - Pemerintah diminta membuka peluang baru dalam sektor jasa untuk menghadapi berbagai faktor eksternal yang memengaruhi ekonomi Indonesia. Mantan Menteri Perdagangan dan Ekonom CSIS Mari Elka Pangestu mengatakan sektor-sektor jasa yang dapat ditingkatkan ekspornya adalah pariwisata, pendidikan, kesehatan, dan profesional.

"Kita harus perhatikan struktur impor jasa kita, daya saing kita dimana saja, sehingga kita dapat meningkatkan standar dan lebih bersaing," kata Mari Pangestu dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (17/7/2018).

Di tahun 2017 sektor jasa tumbuh 5,69% atau lebih tinggi dari pada pertumbuhan nasional 5,07% dan sektor lainnya seperti manufaktur 4,95% dan Agrikultur 2,59%. "Komposisi sektor jasa dalam PDB nasional meningkat 40,6% di 2010 menjadi 43,6% di 2017, sementara sektor agrikuktur dan manufaktur menurun," urainya.

Karena itu pula, lanjut dia, sektor jasa turut berperan sebagai input untuk sektor lainnya seperti logistik, transportasi, travel, bisnis agar bisa terus bersaing. Ditegaskan olehnya, defisit terbesar disumbangkan oleh jasa transportasi. Namun demikian surplus pada jasa travel dan jasa pariwisata sedikit berkontribusi dalam mengurangi defisit neraca perdagangan jasa Indonesia.

Saat ini hanya dua sektor yang permintaan domestiknya lebih rendah dari pada jumlah produk domestik, jasa distribusi dan jasa rekreasi, budaya dan olahraga yang berturut turut proporsinya sebesar 84,5% dan 95,71%. Kelebihan produksi domestik ini diserap oleh pasar luar negeri (ekspor).

Sementara delapan sektor lain menunjukkan nilai share diatas 100% yang berarti permintaan domestik lebih besar dari produksi dalam negeri, sehingga kelebihan permintaan tersebut harus dipenuhi dengan melakukan impor.

"Sektor dengan nilai impor yang sangat besar. Jasa lingkungan dimana permintaan domestik adalah sebesar 27 kali produk domestik. Selain itu, jasa transportasi juga memiliki kelebihan permintaan domestik mencapai 6,54%," paparnya.

Mari Pangestu juga mengungkapkan pemerintah perlu melakukan berbagai siasat untuk hadapi ketidakpastian kondisi ekonomi global. Kondisi ini mau tidak mau, lanjut dia, memberikan dampak terhadap ekonomi Indonesia, setidaknya terasa pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika yang sempat mencapai Rp14.000.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
CORE: Perdagangan Surplus,...
CORE: Perdagangan Surplus, Tapi Gara-gara Impornya Terkontraksi
Indef Bingung, Strategi...
Indef Bingung, Strategi Perdagangan Indonesia Berorientasi Ekspor atau Impor?
Jaga Rekor 43 Bulan...
Jaga Rekor 43 Bulan Beruntun, Neraca Dagang RI November 2023 Cetak Surplus USD4,62 Miliar
PPKM Darurat Tak Akan...
PPKM Darurat Tak Akan Menghentikan Laju Surplus Neraca Perdagangan
Impor RI di 2022 Diprediksi...
Impor RI di 2022 Diprediksi Nanjak, Ini Penyebabnya
Hebat, Neraca Dagang...
Hebat, Neraca Dagang Indonesia Suplus 29 Bulan Beruntun hingga September
Berita Terkini
Dasco Panggil Menkeu...
Dasco Panggil Menkeu dan Gubernur BI: Evaluasi Perkembangan Ekonomi
11 menit yang lalu
Lompatan Besar Transportasi...
Lompatan Besar Transportasi Publik Jakarta: Terbaik Kedua di ASEAN, Posisi ke-27 Dunia
2 jam yang lalu
IHSG Sepekan Ambruk...
IHSG Sepekan Ambruk 8,69%, Market Cap Menyusut Jadi Rp9.807 Triliun
3 jam yang lalu
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
13 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
14 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
14 jam yang lalu
Infografis
8 Kebijakan Baru Pemerintah...
8 Kebijakan Baru Pemerintah Hadapi Tekanan Global! WFH hingga MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved