Benih Balitbangtan Dongkrak Produktivitas Tanaman Jagung di Madura

Sabtu, 28 Juli 2018 - 06:48 WIB
Benih Balitbangtan Dongkrak...
Benih Balitbangtan Dongkrak Produktivitas Tanaman Jagung di Madura
A A A
JAKARTA - Kepulauan Madura merupakan sentra penghasil jagung di Jawa Timur. Namun demikian, tingkat produktivitas jagung lokal Madura masih tergolong rendah sekitar 1 hingga 2 ton per hektarnya dengan umur genjah 65 sampai 75 hari. Selain penggunaan varietas lokal, rendahnya produktivitas jagung antara lain disebabkan tingkat kesuburan tanah dan sedikitnya curah hujan.

Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Litbang Pertanian, Kementerian Pertanian Ismail Wahab mengatakan, selama ini Kabupaten Sumenep sudah mengenal Varietas Jagung Komposit (non hibrida) Bisma yang dapat berproduksi sekitar 3 hingga 4 ton per ha.

Lebih lanjut Ismail menjelaskan, pada 2017, Dinas Pertanian Kabupaten Sumenep memang memprogramkan pertanaman jagung komposit Bisma untuk luasan 11.000 ha di musim hujan. Pertanaman direncanakan pada bulan Oktober, sehingga benih akan sampai pada bulan September, tepat pada saat menjelang tanam.

Program lainnya adalah inisiatif Pemerintah Daerah Kabupaten Sumenep untuk mendongkrak produksi jagung berupa bantuan kredit usaha rakyat (KUR) kepada petani jagung yang nanti dibayar saat panen sebesar Rp3 juta hingga 8 juta per ha melalui melalui Bank BNI. Program ini menggunakan varietas dari perusahaan benih jagung swasta.

"Produktivitas jagung komposit memang tidak sama dengan produktivitas jagung hibrida. Jagung komposit varietas Bisma disambut baik oleh petani Madura karena dapat meningkatkan produksi sampai dua kali lipat dibandingkan dengan varietas lokalnya yang menghasilkan 1 sampai 2 ton per ha," jelasnya dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (27/7/2018).

Jagung komposit ini, sambung Ismail, mempunyai kelebihan tahan kekeringan, harga benihnya murah, dan benihnya dapat langsung digunakan lagi pada musim tanam berikutnya. Selain jagung komposit, Balitbangtan juga telah memperkenalkan jagung varietas hibridanya dengan nama Bima 9 di Sumenep.

Pada kegiatan GLIP (Gelar Lapang Inovasi Pertanian) seluas 55 ha, produktivitas jagung varietas Bima 9 produk Balitbangtan menghasilkan 9,37 ton per ha pipilan kering. Varietas unggul jagung hibrida Balitbangtan sudah teruji dan potensi hasilnya setara dengan varietas hibrida dari perusahaan swasta, karena telah melewati berbagai tahap seleksi dan pengujian. Pengujian ini juga menjamin mutu varietas sesuai dengan potensi genetiknya.

"Pengamatan di lapang menunjukkan bahwa pertanaman di lahan kering pada musim kemarau dalam kondisi marginal tanah yang kurang subur dan keterbatasan air, jagung produk Balitbangtan masih beradaptasi dan tumbuh cukup baik," terang Ismail.

Petani berharap agar jagung produk Balitbangtan Kementan dapat dikembangkan lebih luas karena secara umum sangat sesuai untuk wilayah Madura yang defisit air.

Ismail menekankan Balitbangtan Kementan sebagai penghasil varietas unggul jagung nasional menghasilkan benih sumber (parent seed) untuk dikembangkan lebih jauh menjadi benih sumber. Untuk menjamin mutu benih tersebut, unit Pemerintah di Daerah memiliki instansi yang disebut dengan Balai Pengawas dan Sertifikasi Benih (BPSB). BPSB ini bertugas mengawasi mutu benih sebar yang beredar di lapangan.

"Mutu benih sebar yang dihasilkan (yang diterima petani) tidak berkorelasi dengan mutu dan keunggulan varietas," tegasnya.

Menurut Ismail, mutu benih ditentukan oleh teknik produksi benih, proses pengolahan pascapanen, pengemasan, dan distribusi. Sedangkan mutu dan keunggulan varietas ditentukan oleh keunggulan genetik dan interaksinya dengan lingkungan. Benih sumber yang diproduksi oleh Balitbangtan disebarkan ke penangkar benih untuk diperbanyak menjadi benih sebar. Benih sebar ini harus dijamin mutunya sehingga potensi dan keunggulan varietas tetap terjaga.

"Dengan kata lain bila ada mutu benih sebar rendah atau jelek, maka bukan berarti varietasnya yang membawa genetik yang bagus menjadi berkualitas rendah," tandas Ismail.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kabar Gembira bagi Petani,...
Kabar Gembira bagi Petani, Permintaan Jagung Rendah Aflatoxin Tinggi
Petani Parigi Moutong...
Petani Parigi Moutong Dimotivasi untuk Budidaya Jagung di Lahan Perkebunan Kelapa
Petani Jember Tanam...
Petani Jember Tanam Jagung Perkuat Pangan Lokal
Mentan Instruksikan...
Mentan Instruksikan Percepatan Tanam Saat Panen Jagung di Jeneponto
Bidik Pasar Indonesia...
Bidik Pasar Indonesia Timur, Jafran Indonesia Kenalkan JR 737 di PENAS XVII
Wah, Harga Jagung di...
Wah, Harga Jagung di Indonesia Lebih Mahal Daripada di Amerika
Berita Terkini
Hutan Gundul, Cadangan...
Hutan Gundul, Cadangan Devisa Menguap! Mantan Menkeu Bongkar Patgulipat Ekspor Tambang
55 menit yang lalu
Dari Medan hingga Jakarta,...
Dari Medan hingga Jakarta, Keseruan Nobar Piala Dunia 2026 Bersama BRI Satukan Kita!
1 jam yang lalu
Jaga Pasokan BBM di...
Jaga Pasokan BBM di Sumut: Pertamina Tindak Mobil Tangki Nakal, Terminal dan SPBU Siaga 24 Jam
3 jam yang lalu
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos dalam Sepekan saat IHSG Melejit 4,42 Persen
3 jam yang lalu
IHSG Kembali ke Level...
IHSG Kembali ke Level 6 Ribuan usai Melesat 4,24%, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
4 jam yang lalu
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
13 jam yang lalu
Infografis
Joao Pinheiro, Wasit...
Joao Pinheiro, Wasit Kontroversial di Laga Argentina vs Swiss
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved