Per Juni, Penyaluran Kredit Bank Capai Rp4.992,3 Triliun

Selasa, 31 Juli 2018 - 19:02 WIB
Per Juni, Penyaluran...
Per Juni, Penyaluran Kredit Bank Capai Rp4.992,3 Triliun
A A A
JAKARTA - Bank Indonesia (BI) mencatat, penyaluran kredit perbankan pada Juni 2018 sebesar Rp4.992,3 triliun atau tumbuh 10,5% (yoy), lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 10,2% (yoy). Kredit tersebut didorong oleh peningkatan penyaluran kredit kepada debitor korporasi dengan pangsa 49,8% dari total kredit.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Agusman mengatakan, pertumbuhan kredit korporasi tercatat sebesar 12,1% (yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 10,6% (yoy). Sementara itu, kredit untuk debitor perseorangan tumbuh 8,9% (yoy), lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 9,5% (yoy).

"Berdasarkan jenis penggunaannya, peningkatan pertumbuhan kredit perbankan digunakan sebagai modal kerja dan investasi," kata Agusman di Jakarta, Selasa (31/7/2018).

Kredit investasi meningkat dari 8,1% (yoy) pada Mei 2018 menjadi 9,4% (yoy) terutama terjadi pada sektor Konstruksi yang tumbuh meningkat dari 28,7% (yoy) menjadi 32,6% (yoy).

Sementara peningkatan pertumbuhan kredit investasi sektor konstruksi khususnya terjadi pada subsektor konstruksi gedung di wilayah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Peningkatan pertumbuhan kredit investasi juga terjadi pada sektor keuangan, real estat dan jasa perusahaan dari tumbuh 13,6% (yoy) menjadi 16,6% (yoy).

Menurut dia, peningkatan tersebut terutama pada kredit investasi yang disalurkan kepada perusahaan subsektor real estat, gedung perbelanjaan (mal, plaza) serta perusahaan leasing di DKI Jakarta. Adapun Kedit Modal Kerja (KMK) tumbuh meningkat dari 10,4% (yoy) menjadi 11,0% (yoy) terutama disebabkan oleh akselerasi penyaluran KMK pada sektor perdagangan hotel, dan restoran (PHR) dan sektor industri pengolahan.

KMK sektor PHR tercatat mengalami pertumbuhan 9,7% (yoy) dibanding bulan sebelumnya sebesar 9,4%, (yoy). Akselerasi tersebut terutama didorong oleh KMK yang disalurkan untuk perusahaan perdagangan beras di DKI Jakarta dan Jawa Timur serta perusahaan perdagangan bahan konstruksi di Jawa Barat.

"Akselerasi pertumbuhan juga didorong oleh KMK yang disalurkan untuk sektor industri pengolahan yang tercatat mengalami kenaikan dari 7,7% (yoy) menjadi 9,8% (yoy) pada Juni 2018," paparnya.

Hal tersebut didorong oleh pertumbuhan subsektor industri logam dasar besi dan baja di Banten dan Jawa Barat serta subsektor industri pemintalan, pertenunan, pengolahan akhir tekstil di wilayah Banten.

Namun demikian, kredit konsumsi tercatat tumbuh melambat dari 11,8% (yoy) pada Mei 2018 menjadi 10,6% (yoy) yang disebabkan oleh perlambatan KPR, KKB, dan kredit multiguna masing-masing tumbuh sebesar 13,5% (yoy), 9,5% (yoy), dan 13,4% (yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 14,1% (yoy), 11,0% (yoy), dan 14,6% (yoy).

Sementara itu, pertumbuhan kredit properti pada Juni 2018 mengalami perlambatan dari 15,1% (yoy), menjadi 14,7% (yoy), khususnya pada kredit KPR/KPA. Pertumbuhan kredit KPR/KPA tercatat melambat dari 14,1 % (yoy) menjadi 13,5% (yoy) terutama disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan kredit untuk KPR tipe 22-70 yang berlokasi di Jawa Barat dan Banten, serta KPR tipe di atas 70 yang berlokasi di DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Sedangkan kredit untuk real estat tercatat tumbuh meningkat dari 11,7% (yoy) menjadi 11,9% (yoy) pada bulan laporan.

Chief Economist Treasury and Capital Market CIMB Niaga Adrian Panggabean mengungkapkan, seiring dengan naiknya suku bunga BI 7 day repo rate maka kurva term structure Bank Indonesia, kurva JIBOR, dan valuasi aset di pasar obligasi dan saham, ikut bergeser. Bentuk yield curve pun menjadi jauh lebih datar dibanding dua bulan sebelumnya.

"Perubahan bentuk kurva di seluruh segmen pasar aset kemudian memicu terjadinya repricing ulang di neraca perbankan," ujar Adrian kemarin. Akibatnya, sambung dia, target-target likuiditas dan penyaluran kredit perbankan pun berubah.

Menurut Adrian, semakin datarnya yield curve di pasar obligasi memperkuat disinsentif terhadap proses intermediasi perbankan. "Interaksi dari kesemua faktor inilah yang berpotensi menurunkan laju pertumbuhan kredit perbankan dan laju penghimpunan modal di pasar finansial," tukas dia.

Dengan demikian, prospek pertumbuhan investasi dalam 6-12 bulan kedepan diperkirakan akan tertekan. "Kami merevisi kebawah proyeksi pertumbuhan kredit perbankan di 2018 menjadi 8% dari sebelumnya 8,5% dan pertumbuhan investasi dalam PDB menjadi 5% dari sebelumnya 6%," pungkasnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Penyaluran Kredit Bank...
Penyaluran Kredit Bank BUMN Topang Pertumbuhan Ekonomi
Askrindo Gandeng Bank...
Askrindo Gandeng Bank Kalsel, Perluas Jangkauan Asuransi Kredit Konstruksi
Loyo Banget! Kredit...
Loyo Banget! Kredit Bank Tahun Ini Hanya Sanggup Tumbuh 2,5%
Masih Ada Ruang Penyaluran...
Masih Ada Ruang Penyaluran Kredit
BI Prediksi Pertumbuhan...
BI Prediksi Pertumbuhan Kredit Sisa 2024 Tetap Berada di Kisaran 10-12 Persen
Penurunan Suku Bunga...
Penurunan Suku Bunga Belum Mampu Genjot Pertumbuhan Kredit
Berita Terkini
Chatib Basri: Tugas...
Chatib Basri: Tugas Menteri Keuangan Sebetulnya Gampang! Potong, Naikkan, Pinjam
16 menit yang lalu
Dirut Himbara Dikumpulin...
Dirut Himbara Dikumpulin Dasco Bersama Mensesneg, Bahas Apa?
1 jam yang lalu
Free Float 15% Bakal...
Free Float 15% Bakal Kerek Daya Tarik Perusahaan di Mata Investor, Begini Kata BEI
1 jam yang lalu
555 Angkatan Pertama...
555 Angkatan Pertama PNS Otorita IKN Resmi Dilantik, Basuki: Bangun Ibu Kota Nusantara Tak Gampang
2 jam yang lalu
Diwarnai Penguatan 307...
Diwarnai Penguatan 307 Saham, IHSG Dibuka Berbalik Menghijau ke 5.344
2 jam yang lalu
Harga Emas Hari Ini...
Harga Emas Hari Ini Turun Lagi Rp10 Ribu per Gram, Saatnya Beli Bunda?
3 jam yang lalu
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved