Gelombang Kedua Perang Dagang AS-China dan Aksi Pembalasan

Jum'at, 24 Agustus 2018 - 04:14 WIB
Gelombang Kedua Perang...
Gelombang Kedua Perang Dagang AS-China dan Aksi Pembalasan
A A A
NEW YORK - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali memanaskan perang dagang dengan China usai meningkatkan pengenaan pajak menjadi 25% untuk menjadi gelombang kedua yang senilai USD16 miliar. Langkah ini melanjutkan konflik perdagangan yang dimulai sejak bulan Juli, lalu.

Di tengah gelojak perdagangan dua ekonomi besar dunia, tercatat AS mengimpor lebih banyak produk dari China dibandingkan mengeksepor ke Negeri Tirai Bambu -julukan China-. Langkah AS menerapkan tarif tinggi memunculkan kekhawatiran bahwa dapat berdampak buruk bagi perusahaan dan konsumen.

Beberapa produk Negeri Paman Sam yang terkena dampak sejauh ini di antaranya termasuk sepeda motor dan alat elektronik. Sementara itu China segera memberlakukan pajak pembalasan atas nilai yang sama dari produk asal AS. Hal itu mencakup produk-produk seperti batu bara, peralatan medis, mobil dan bus.

China juga mengatakan pihaknya berencana untuk mengajukan keberatan mereka terhadap penetapan tarif tinggi AS kepada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), yang bertugas memutuskan persoalan dalam perselisihan perdagangan global. Selanjutnya Kementerian perdagangan China memperingatkan "serangan balasan" setelah Washington memberlakukan tarif, dan "mencurigai" AS melanggar aturan WTO.

Beijing terpantau telah mengajukan keluhan sejak awal kepada WTO di bulan Juli, saat Presiden Trump memberlakukan pertama kebijakan tarif tinggi impor. Tarif tit-to-tat mencuat dari pejabat AS saat melakukan pembicaraan dengan China di Washington, sejak saat itu diragukan bahwa mereka akan mengakhiri perselisihan.

Selain China, Trump juga telah memberlakukan pajak tinggi terhadap produk asal Meksiko, Kanada dan Uni Eropa, dalam upaya mendorong konsumen membeli produk-produk Amerika. Tak berbeda jauh dengan China, semua negara tersebut juga menerapkan aksi balasan.

Gelombang kedua perang tarif tetap bergulir meskipun ada kritikan dari puluhan perusahaan dan kelompok industri AS ke Kantor Perwakilan Dagang AS. Banyak dari para pelaku bisnis mengatakan, pajak baru akan merugikan usaha mereka karena tidak dapat menyerap pajak lain tanpa menaikkan harga untuk konsumen AS.

Meski begitu nilai USD16 miliar merupakan penurunan dibandingkan jumlah yang sebelumnya direncanakan oleh Trump. Presiden sempat mengatakan pada Juli bahwa dia siap untuk mengenakan pajak impor China ke AS senilai USD500 miliar.

AS sendiri telah mengancam putaran ketiga tarif tambahan mencapai USD200 miliar atas produk-produk China yang kemungkinan bisa diterapkan paling cepat bulan depan. Sejak itu diramal produk tersebut bakal diterapkan 25% retribusi atau lebih dari dua kali lipat yang direncanakan semula yakni 10%.

China mengatakan bakal menanggapi dengan tarif lain terhadap barang asal AS mencapai sebesar USD60 miliar. Tetapi akan lebih sulit bagi Beijing untuk mewujudkan ancaman kepada AS, karena pabriknya mengekspor lebih banyak produk daripada yang dikirim oleh bisnis Amerika ke China.

Di sisi lain Kantor Perwakilan Dagang AS sedang menggelar dengar pendapat terkait dampak dari kebijakan tarif impor tinggi. China sebelumnya telah menuding AS meningkatkan ketegangan secara sepihak antara kedua raksasa ekonomi tersebut. Ada sinyal bahwa perang dagang antara AS dan China mulai berdampak.

Produsen besar mobil belum lama ini memperingatkan bahwa perubahan pada kebijakan perdagangan bisa merugikan kinerja perusahaan. Dana Moneter Internasional mengatakan bulan lalu eskalasi tarif tit-to-tat dapat mencukur 0,5% dari pertumbuhan global pada tahun 2020.

Ekonom asal China Iris Pang dari ING Wholesale Banking di Hong Kong, mengatakan bahwa karena impor AS dari China sebagian besar adalah barang konsumsi. Maka konsumen AS bakal mendapatkan harga yang lebih tinggi. "Dan impor China dari AS biasanya bagian dan barang-barang produsen, (jadi) tarif juga membuat lebih mahal bagi produsen China," tambahnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ancaman Perang Dingin...
Ancaman Perang Dingin AS-China Lebih Besar Ketimbang Virus
China Menyerah? Xi Jinping...
China Menyerah? Xi Jinping Sebut Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang Melawan AS
Apakah Trump 2.0 Bikin...
Apakah Trump 2.0 Bikin Perang Dagang Memanas? China Cari Win-win Solusi
Bangun Ekonomi Konsumen...
Bangun Ekonomi Konsumen Skala Besar, China Buka Pasar Bagi Perusahaan Semua Negara
China Membalas Tarif...
China Membalas Tarif Impor AS, Mulai Berlaku 10 Februari 2025
Perusahaan China Makin...
Perusahaan China Makin Banyak Masuk Daftar Hitam AS
Berita Terkini
Energi Menjadi Medan...
Energi Menjadi Medan Perang AS-China di Abad Ini
1 jam yang lalu
PLN EPI Targetkan Pengembangan...
PLN EPI Targetkan Pengembangan Bio-CNG Berbasis Limbah Sawit Dukung Transisi Energi
2 jam yang lalu
IHSG dan Rupiah Tertekan,...
IHSG dan Rupiah Tertekan, Pasar Uji Kredibilitas Sistem Keuangan Indonesia
2 jam yang lalu
Redam Sentimen Sell...
Redam Sentimen 'Sell Indonesia', Ini Saran dari Ekonom
2 jam yang lalu
Soroti Pelemahan Rupiah,...
Soroti Pelemahan Rupiah, BADKO HMI Jatim Dorong Evaluasi Kebijakan Moneter
3 jam yang lalu
Kanda Dukung Afi Trending...
'Kanda Dukung Afi' Trending Global Jelang Pemilihan Ketum Hipmi
4 jam yang lalu
Infografis
Apa Itu Dilema Malaka?...
Apa Itu Dilema Malaka? Strategi AS Cekik Minyak China, Berpotensi Seret Indonesia dalam Konflik
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved