Dolar AS Naik ke Level Tertinggi Karena Kejatuhan Euro

Jum'at, 28 September 2018 - 05:05 WIB
Dolar AS Naik ke Level...
Dolar AS Naik ke Level Tertinggi Karena Kejatuhan Euro
A A A
NEW YORK - Dolar Amerika Serikat (USD) naik ke level tertinggi setelah satu pekan terhadap enam mata uang utama. Melansir dari Reuters, Jumat (28/7/2018), indeks USD menguat berkat kenaikan suku bunga The Fed, prospek ekonomi Amerika dan melemahnya euro karena kekhawatiran tentang anggaran Italia.

Selain itu, dolar mendapat energi setelah Presiden AS Donald Trump mengkritik Kanada yang dianggap lambat dalam melakukan perundingan baru Perjanjian Perdagangan Bebas Amerika Utara. Hal ini membuat USD perkasa terhadap dolar Kanada.

"The Fed bergerak lebih cepat dalam melakukan normalisasi kebijakan dibandingkan sebagian besar bank sentral di dunia. Inilah yang telah mendukung dolar," analisa Erik Nelson, ahli strategi mata uang di Wells Fargo Securities di New York.

Dalam penutupan perdagangan Kamis waktu AS, indeks USD yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,7% menjadi 94,830. Dolar AS pun perkasa terhadap euro yang turun 0,6% menjadi USD1,1665.

Mata uang tunggal Uni Eropa itu nelangsa karena buntunya pertemuan anggaran Italia. Pemerintahan koalisi Italia mendorong untuk menaikkan anggaran negara 2019 meski bakal defisit 2,4% dari PDB. Sementara, menteri keuangan mendorong defisit hanya 1,6% dari PDB.

Koalisi sayap kanan Italia, Lega mengatakan Italia bisa mengatasi masalah keuangannya sendiri tanpa bantuan Uni Eropa. "Orang Italia perlu mengatasi masalah mereka sendiri". Kelompok sayap kanan mendorong peningkatan anggaran defisit 2,4% untuk memperbaiki ekonomi Italia. Sementara kelompok sayap kiri, Five Star Movement mendukung keputusan Menteri Keuangan Giovanni Tria.

Perbedaan ini menurut harian La Stampa, membuat menteri keuangan mengatakan siap untuk mengundurkan diri. Namun, Perdana Menteri Italia Giuseppe Conte membantah kabar tersebut. Ia menyebut hanya penundaan pertemuan kabinet dan selanjutnya akan membahas masalah perbedaan atas kebijakan fiskal. Hal ini membuat investor membuang euro.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
5 Mata Uang Paling Banyak...
5 Mata Uang Paling Banyak Digunakan di Dunia, Nomor 1 Transaksi Hariannya Tembus Rp43.500 Triliun
8 Efek Mata Uang Baru...
8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Deretan Negara Ini Tak...
Deretan Negara Ini Tak Mempunyai Mata Uang, Salah Satunya Tetangga Indonesia
Mata Uang BRICS Bakal...
Mata Uang BRICS Bakal Gantikan Dolar Disebut Gagasan Konyol
Apakah Bitcoin Bisa...
Apakah Bitcoin Bisa Menggantikan Dolar AS di Masa Depan?
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
5 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
6 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
6 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
7 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
7 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
7 jam yang lalu
Infografis
Presiden AS Donald Trump...
Presiden AS Donald Trump Kecam Serangan India ke Pakistan
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved