Dolar Amerika Serikat Menguat Lawan Euro dan Yuan China

Selasa, 09 Oktober 2018 - 05:15 WIB
Dolar Amerika Serikat...
Dolar Amerika Serikat Menguat Lawan Euro dan Yuan China
A A A
WASHINGTON - Mata uang tunggal Uni Eropa jatuh ke level terendah tujuh minggu melawan dolar Amerika Serikat (USD), disebabkan pertikaian antara Roma dan Uni Eropa mengenai rencana anggaran ekonomi Italia.

Melansir dari Reuters, Selasa (9/10/2018), kekhawatiran geopolitik di Uni Eropa membuat investor memilih menumpuk lebih banyak uang ke dalam dolar AS. Indeks USD yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama naik 0,13% menjadi ke level 95,744, mendekati level tertinggi sejak Desember 2016.

Kekuatan USD juga didorong oleh meningkatnya imbal hasil obligasi AS (US Treasury) bertenor 10 tahun pada akhir pekan lalu. "Meningkatnya imbal hasil obligasi AS dan beban pada pasar Eropa telah mendukung dolar AS," kata Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington.

Dan pada perdagangan awal pekan ini, imbal hasil obligasi 10 tahun Italia meningkat hampir 20 basis poin menjadi 3,60%, level tertinggi dalam 4 ½ tahun. Suku bunga pinjaman Italia yang naik tinggi ini memberi kekhawatiran investor akan krisis utang negara. Di samping itu, pasar saham Italia pun jatuh ke level terendah sejak April 2017.

Wakil Perdana Menteri Italia Matteo Salvini pun mengecam Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker dan Komisaris Ekonomi Eropa Pierre Moscovici yang dianggap melakukan konspirasi untuk mengacaukan ekonomi Italia, dan menyebut keduanya sebagai musuh Eropa.

Pertikaian soal anggaran Italia dan Uni Eropa membuat euro turun 0,26% melawan dolar menjadi USD1,149, tidak jauh dari level terendah di USD1,135 pada pertengahan Agustus. Euro juga jatuh 0,31% menjadi 1,140 per franc Swiss dan merosot 0,92% menjadi 129,79 per yen Jepang.

Nun jauh di Asia, yuan China juga jatuh ke level terendah tujuh minggu menjadi 6,931 yuan per USD. Disebabkan kekhawatiran investor soal ketegangan perdagangan AS dengan China.

Selain itu, melemahnya yuan karena bank sentral China mengeluarkan kebijakan pemotongan rasio cadangan wajib bank sebesar 1% untuk penyimpanan yuan mulai 15 Oktober 2018. Ini merupakan pemotongan cadangan bank yang keempat kalinya pada tahun ini.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
5 Mata Uang Paling Banyak...
5 Mata Uang Paling Banyak Digunakan di Dunia, Nomor 1 Transaksi Hariannya Tembus Rp43.500 Triliun
8 Efek Mata Uang Baru...
8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Deretan Negara Ini Tak...
Deretan Negara Ini Tak Mempunyai Mata Uang, Salah Satunya Tetangga Indonesia
Mata Uang BRICS Bakal...
Mata Uang BRICS Bakal Gantikan Dolar Disebut Gagasan Konyol
Apakah Bitcoin Bisa...
Apakah Bitcoin Bisa Menggantikan Dolar AS di Masa Depan?
Berita Terkini
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
8 jam yang lalu
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
9 jam yang lalu
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
9 jam yang lalu
Mantan Menkeu Ungkap...
Mantan Menkeu Ungkap 3 Gol Besar Sistem Ekspor Satu Pintu yang Dipuji S&P
10 jam yang lalu
MAMI Kelola Aset Rp125...
MAMI Kelola Aset Rp125 Triliun hingga Juni 2026, Catat Lebih 2,6 Juta Investor
10 jam yang lalu
Elnusa Petrofin Pastikan...
Elnusa Petrofin Pastikan Distribusi BBM di Sumatra Utara Kembali Normal
10 jam yang lalu
Infografis
IRGC Siapkan Jebakan...
IRGC Siapkan Jebakan Maut untuk Armada Amerika Serikat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved