Optimisme Brexit Angkat Euro dan Sterling, USD Limbung

Kamis, 11 Oktober 2018 - 05:15 WIB
Optimisme Brexit Angkat...
Optimisme Brexit Angkat Euro dan Sterling, USD Limbung
A A A
NEW YORK - Mata uang tunggal Uni Eropa yaitu euro dan poundsterling Inggris menguat terhadap dolar Amerika Serikat, didukung oleh optimisme kesepakatan Brexit. Optimisme ini membuat investor lebih melirik euro dan sterling kendati imbal hasil obligasi AS naik ke level tertinggi dalam waktu tujuh tahun.

Melansir dari Reuters, Kamis (11/10/2018), para perunding Brexit memberi sinyal soal kemajuan atas kesepakatan Inggris meninggalkan Uni Eropa secara teratur. Partai Buruh Inggris menyatakan mendukung kesepakatan Brexit yang didukung oleh Perdana Menteri Theresa May.

Pada Rabu kemarin, perunding Brexit dari Uni Eropa, Michael Barnier mengatakan kedua pihak telah menyetujui banyak dari perjanjian penarikan Inggris dari Uni Eropa menjelang pertemuan puncak pada pekan depan.

"Optimisme bahwa mereka (Inggris dan Uni Eropa) akan menemukan beberapa kesepakatan menjelang pertemuan puncak Brexit telah mengangkat euro dan poundsterling," kata Steve Englander, kepala global riset valuta asing di Standard Chartered Bank di New York, AS. Namun, ia mengingatkan untuk tetap mencermati kemungkinan risiko yang ada.

Kabar ini membuat poundsterling Inggris naik ke posisi tertinggi dua pekan, yaitu di level USD1,3216 alias naik 0,4%. Poundsterling pun menguat terhadap euro menjadi 87,23 pence (sen Inggris), level tertinggi sejak 15 Juni 2018. Sementara itu, euro naik 0,3% menjadi USD1,1527 dan stabil di 129,75 yen.

Indeks USD yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,1% menjadi 95,54. Pada Selasa lalu, indeks USD berada di level tertinggi tujuh pekan yaitu di angka 96,155.

Kenaikan imbal hasil obligasi AS gagal mengangkat dolar di hari ini. Imbal hasil obligasi AS bertenor 2 tahun mencapai level 2,90%, level tertinggi sejak 25 Juni 2008. Begitu pula imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun yang naik menjadi 3,18% dan imbal hasil obligasi 30 tahun naik pada level 3,37%.

Imbal hasil obligasi (surat utang) AS yang telah meningkat menimbulkan kekhawatiran tentang meningkatnya pasokan utang pemerintah dan kecemasan atas inflasi yang lebih tinggi. Sisi lainnya, The Fed menyatakan masih akan menaikkan suku bunga jangka pendek lebih cepat.
(ven)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Rupiah Menguat saat...
Rupiah Menguat saat Banyak Mata Uang Asia Melemah
5 Mata Uang Paling Banyak...
5 Mata Uang Paling Banyak Digunakan di Dunia, Nomor 1 Transaksi Hariannya Tembus Rp43.500 Triliun
8 Efek Mata Uang Baru...
8 Efek Mata Uang Baru BRICS terhadap Dollar AS jika Sudah Berlaku
Deretan Negara Ini Tak...
Deretan Negara Ini Tak Mempunyai Mata Uang, Salah Satunya Tetangga Indonesia
Mata Uang BRICS Bakal...
Mata Uang BRICS Bakal Gantikan Dolar Disebut Gagasan Konyol
Apakah Bitcoin Bisa...
Apakah Bitcoin Bisa Menggantikan Dolar AS di Masa Depan?
Berita Terkini
Tren Mobilitas Ramah...
Tren Mobilitas Ramah Lingkungan Meningkat, Pembiayaan Kendaraan Listrik MUF Melesat
2 jam yang lalu
Rupiah Amburadul Rp18...
Rupiah Amburadul Rp18 Ribu, Produk Rumah Tangga Unilever Bakal Naik Harga di Kuartal II 2026
3 jam yang lalu
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
3 jam yang lalu
PLN EPI, PLN Puslitbang...
PLN EPI, PLN Puslitbang dan ITERA Kolaborasi Kembangkan Tanaman Energi
4 jam yang lalu
Pelindo Sinergi Lokaseva...
Pelindo Sinergi Lokaseva Catat Kinerja Operasional Positif di Awal 2026
4 jam yang lalu
BRI Life Ungkap Peran...
BRI Life Ungkap Peran Mitra Stategis Selama 4 Dekade
5 jam yang lalu
Infografis
Trade Misinvoicing dan...
Trade Misinvoicing dan Upaya Penguatan Integritas Perdagangan Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved