Rentan Salah Tafsir, Pengusaha Minta Pemerintah Tunda Relaksasi DNI

Rabu, 21 November 2018 - 16:54 WIB
Rentan Salah Tafsir,...
Rentan Salah Tafsir, Pengusaha Minta Pemerintah Tunda Relaksasi DNI
A A A
JAKARTA - Pemerintah dalam hal ini Kementerian Koordinator (Kemenko) bidang Perekonomian diminta untuk menunda kebijakan relaksasi Daftar Negatif Investasi (DNI). Seperti diketahui kebijakan tersebut menjadi salah satu poin dalam Paket Kebijakan Ekonomi jilid XVI.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamandani mengatakan, sejak kebijakan tersebut dikeluarkan banyak pihak yang bingung dan salah menafsirkan maksud pemerintah dari relaksasi DNI tersebut. Akibatnya, respon yang muncul lebih banyak negatif dan misinterpretasi.

"Kalau saya lihat, pertama pak Menko menjelaskan, pada bingung semua. Negatif, wah itu UMKM blablaba. Terus ada penjelasan lagi. Jadi banyak mis interpretasi. Kami gak berani banyak ngomong sebelum lihat gimana. Kita belum diajakin konsultasi. Apa bener pengaruh dengan UMKM," katanya di Hotel Shangri-La, Jakarta, Rabu (21/11/2018).

Dia pun meminta pemerintah untuk tidak terburu-buru dalam mengimplementasikan kebijakan tersebut. Menurutnya, ada baiknya kebijakan tersebut ditunda dan dievaluasi terelbih dahulu. "Jangan laksanakan sebelum kita tahu bahwa isinya benar. Baik pengusaha lokal dan asing ingin tahu ini apa," imbuh dia.

Shinta pun mengaku hingga saat ini masih bingung dengan isi dari kebijakan relaksasi DNI tersebut. Pemerintah mengklaim kebijakan tersebut tidak memengaruhi UMKM, namun banyak sektor yang justru dibuka 100% untuk asing.

"Apa benar UMKM enggak kena di sektor itu. Kemudian soal kemitraan juga perlu diperjelas polanya seperti apa. Katanya kan sudah dibagi kelompok-kelompok. Tapi kami ingin tahu. Salahnya pemerintah kenapa enggak komunikasi dulu. Kan ada Kadin, Apindo, dan Hipmi. Diajak bicara jadi bisa keluar sama-sama sehingga tidak timbulklan polemik," tuturnya.

Pada dasarnya, kata dia, tujuan dari kebijakan tersebut sangat bagus yakni untuk menarik komunikasi. Sayangnya, pemerintah tidak terlebih dahulu berkomunikasi dengan dunia usaha sebelum kebijakan diluncurkan.

"Sekarang kita dorong secepatnya selesaikan ini. Tujuannya bagus, untuk tarik lebih banyak investasi. Tapi komunikasi nya mungkin perlu diperbaiki. Kami juga akan konsultasi dulu dengan para konstituen, pengusaha, untuk disampaikan pemerintah. Apapun prosesnya, sebelum kebijakan baru keluar kalau bisa dikonsultasikan dulu. Sudah kami remind berkali kali," tandas Shinta.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pengusaha: Iklim Investasi...
Pengusaha: Iklim Investasi Indonesia Belum Semenarik Negara ASEAN Lain
Tesla Pilih India, Apindo:...
Tesla Pilih India, Apindo: Benahi Mata Rantai Investasi!
Upah dan Perizinan Masih...
Upah dan Perizinan Masih Menjadi Kendala Investasi di Jabar
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi Terkulai, Investasi Asing Bakal Lunglai
Apindo Minta Aturan...
Apindo Minta Aturan Investasi Tak Berubah Jika Menteri atau Gubernur Berganti
Daftar 14 Investasi...
Daftar 14 Investasi Ilegal yang Distop Satgas Waspada Investasi
Berita Terkini
Cadangan Energi AS Ternyata...
Cadangan Energi AS Ternyata Keropos: Stok Minyak Dikuras Habis, Stok Terendah Sejak 1983!
2 jam yang lalu
Sistem Payment Gateway...
Sistem Payment Gateway Revolusioner untuk UMKM & Startup Dirilis, Jaminan Uptime 99,95%
10 jam yang lalu
Liburan Sekolah Penuh...
Liburan Sekolah Penuh Aktivitas Seru, Edukatif, dan Bermakna Bersama Paramount Gading Serpong
11 jam yang lalu
Perang Iran Picu Guncangan...
Perang Iran Picu Guncangan Pasokan Minyak Terbesar Sepanjang Sejarah, Lampaui Krisis 1979
11 jam yang lalu
Pertamina Jamin Stok...
Pertamina Jamin Stok LPG di Surabaya Aman
11 jam yang lalu
Tol Prambanan-Purwomartani...
Tol Prambanan-Purwomartani Siap Beroperasi Mudik Lebaran 2027
12 jam yang lalu
Infografis
3 Taktik Cerdas Iran...
3 Taktik Cerdas Iran untuk Kalahkan AS-Israel, Salah Satunya Perang Ala Vietnam
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved