PLN Genjot Produktivitas SDM Bareng Garap Proyek 35.000 MW
Rabu, 23 Januari 2019 - 15:09 WIB
PLN Genjot Produktivitas SDM Bareng Garap Proyek 35.000 MW
A
A
A
JAKARTA - PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyatakan, saat mulai menggarap proyek kelistrikan 35.000 mega watt (MW), perusahaan juga menggenjot produktivitas Sumber Daya Manusia (SDM). Keduanya harus dilakukan beriringan untuk mengejar target.
Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali mengatakan, ketika dapat penugasan 35.000 MW dan turunannya, SDM jumlahnya sama. Padahal, membangun proyek itu hanya dalam kurun waktu lima tahun.
"Kita lakukan bagaimana dengan orang sama bisa kerja 26 jam satu hari satu malam. Dalam satu tahun pertama lakukan perencanaan, kami dari finance tidak mengerti, setelah didalami luar biasa," ujarnya dalam ajang Indonesia Leaders Forum 2019 di Jakarta, Rabu (23/1/2019).
Dari sisi human capital, Muhammad Ali menjelaskan, perlu juga memenuhi kebutuhan pegawai. Di tahun pertama tersebut, perusahaan menaikkan rata-rata gaji 66,7%. "Paling kecil 50% dan paling besar 100%. Itu yang kita lakukan," terang dia.
Dana penambahan gaji itu, lanjut dia, bersumber dari efisiensi yang konsekuensinya harus berargumen dengan stakeholder karena keuangan terbatas. Disisi lain, kebutuhan harus dipenuhi semuanya.
"Kita matikan sewa-sewa genset, kita bangun transmisi besar besaran. Kita di-support habis dengan pemegang saham dan kementerian terkait seperti Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan," pungkasnya.
Direktur Human Capital Management PLN Muhamad Ali mengatakan, ketika dapat penugasan 35.000 MW dan turunannya, SDM jumlahnya sama. Padahal, membangun proyek itu hanya dalam kurun waktu lima tahun.
"Kita lakukan bagaimana dengan orang sama bisa kerja 26 jam satu hari satu malam. Dalam satu tahun pertama lakukan perencanaan, kami dari finance tidak mengerti, setelah didalami luar biasa," ujarnya dalam ajang Indonesia Leaders Forum 2019 di Jakarta, Rabu (23/1/2019).
Dari sisi human capital, Muhammad Ali menjelaskan, perlu juga memenuhi kebutuhan pegawai. Di tahun pertama tersebut, perusahaan menaikkan rata-rata gaji 66,7%. "Paling kecil 50% dan paling besar 100%. Itu yang kita lakukan," terang dia.
Dana penambahan gaji itu, lanjut dia, bersumber dari efisiensi yang konsekuensinya harus berargumen dengan stakeholder karena keuangan terbatas. Disisi lain, kebutuhan harus dipenuhi semuanya.
"Kita matikan sewa-sewa genset, kita bangun transmisi besar besaran. Kita di-support habis dengan pemegang saham dan kementerian terkait seperti Kementerian ESDM dan Kementerian Keuangan," pungkasnya.
(akr)
Lihat Juga :