PBB Peringatkan Dampak Global Perang Tarif

Rabu, 06 Februari 2019 - 10:37 WIB
PBB Peringatkan Dampak...
PBB Peringatkan Dampak Global Perang Tarif
A A A
NEW YORK - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan rencana Amerika Serikat (AS) menaikkan tarif pada barang-barang China bulan depan akan berdampak masif pada ekonomi global.

AS berencana menaikkan tarif untuk produk China jika dua pihak gagal mencapai kemajuan dalam kesepakatan dagang pada 1 Maret. Peringatan itu muncul setelah laporan badan perdagangan PBB tentang dampak perang dagang AS-China. Menurut PBB, negara-negara Asia akan merasakan dampak paling buruk akibat proteksionisme.

China dan AS terlibat perang dagang hingga kedua pihak saling menerapkan tarif besar pada sejumlah produk bernilai miliaran dolar. Pada Desember lalu, kedua negara sepakat menghentikan tarif baru selama 90 hari untuk memberi waktu perundingan.

AS dan China memiliki batas waktu hingga 1 Maret untuk membuat kesepakatan atau AS akan menaikkan tarif pada produk-produk China senilai USD200 miliar dari 10% menjadi 25%.

Konferensi PBB untuk perdagangan dan pembangunan (Unctad) memperingatkan akan ada biaya besar jika terjadi eskalasi perang dagang. “Dampaknya akan besar,” kata Pamela Coke-Hamilton, Kepala Untad saat konferensi pers.

“Dampak untuk seluruh sistem perdagangan internasional akan sangat negatif. Negara-negara termiskin dan terkecil akan kewalahan menghadapi guncangan eksternal,” ungkap dia.

Biaya lebih tinggi dalam perdagangan AS-China akan memicu perusahaan-perusahaan menjauh dari jaringan suplai saat ini di Asia timur. Laporan Unctad memperkirakan para produsen di Asia timur akan terkena pukulan terbesar dengan kontraksi sebesar USD160 miliar pada ekspor regional. Meski demikian, dampak dari kondisi itu akan terasa di penjuru dunia.

“Akan ada perang mata uang dan devaluasi, stagflasi yang menuju hilangnya lapangan kerja dan tingginya pengangguran, serta lebih penting lagi, kemungkinan penyebaran dampak atau apa yang kita sebut dampak reaksioner, menuju riak langkah-langkah distorsi perdagangan lainnya,” ungkap Coke-Hamilton.

Studi menunjukkan perusahaan-perusahaan AS hanya akan mengambil 6% dari total USD250 miliar dalam ekspor China yang menjadi target tarif AS. “Diperkirakan USD85 miliar ekspor AS menjadi target tarif China, tapi hanya 5% yang akan diambil oleh perusahaan-perusahaan China,” ungkap hasil riset PBB itu dilansir BBC.

Riset itu juga menemukan ekspor Eropa akan tumbuh hingga USD70 miliar. Adapun Jepang, Kanada, dan Meksiko, akan mengalami peningkatan ekspor lebih dari USD20 miliar untuk masing-masing negara.

“Negara lain yang dapat diuntungkan termasuk Australia, Brasil, India, Filipina dan Vietnam,” kata laporan PBB.

Sementara itu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump bertekad terus mengambil pendekatan sepihak untuk melindungi para pekerja, petani, dan bisnis AS. Kantor Perwakilan Dagang AS menyatakan dalam laporan tahunan untuk Kongres bahwa AS memiliki alasan tepat memaksa China mengubah model ekonominya.

Laporan di Kongres itu juga menunjukkan AS tetap frustrasi dengan ketidakmampuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mencegah kebijakan ekonomi China. “Tidak masuk akal mengharapkan keberhasilan dalam negosiasi apapun aturan baru WTO yang akan membatasi pendekatan China sekarang pada ekonomi dan perdagangan,” ungkap Kantor Perwakilan Dagang AS dilansir Reuters.

Beberapa aliansi AS, termasuk Kanada, Uni Eropa (UE), dan Jepang, juga frustrasi dengan tekanan yang diciptakan kebijakan ekonomi China. Mereka kini memulai perundingan untuk perubahan dan modernisasi pertama berbagai aturan WTO sejak lembaga itu didirikan pada 1995.

Meski demikian, setiap perubahan aturan WTO harus disepakati semua 164 negara anggota dan upaya sebelumnya telah gagal. “China diperkirakan tak akan sepakat dengan aturan baru menargetkan perubahan pada praktik dagang dan sistem ekonominya,” ungkap laporan Kantor Perwakilan Dagang AS.

Sebelumnya, Trump menjelaskan akan bertemu Presiden China Xi Jinping untuk menandatangani kesepakatan dagang komprehensif. Trump dan kepala negosiator perdagangan AS menyebut kemajuan besar dalam dua hari perundingan tingkat tinggi dengan China.

Trump menyatakan di Gedung Putih bahwa dia optimistis dua kekuatan ekonomi terbesar di dunia bisa mencapai kesepakatan terbesar yang pernah dibuat. Pernyataan itu muncul saat Trump bertemu Wakil Perdana Menteri (PM) China Liu He.

“Delegasi perdagangan China menyatakan perundingan menghasilkan kemajuan penting,” ungkap laporan kantor berita Xinhua. (Syarifudin)

(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Kinerja ALMI Terpukul...
Kinerja ALMI Terpukul Kondisi Perekonomian Global
Tak Pernah Terjadi Sebelumnya,...
Tak Pernah Terjadi Sebelumnya, China Mampu Tundukkan AS
China Menyerah? Xi Jinping...
China Menyerah? Xi Jinping Sebut Tak Ada Pemenang dalam Perang Dagang Melawan AS
Perang Dagang China...
Perang Dagang China dan AS Makin Panas, Beijing Terapkan Tarif 15%
Perang Dagang Mereda?...
Perang Dagang Mereda? Trump Beri Angin Segar Industri Otomotif dengan Pelonggaran Tarif Impor!
Trump Bakal Berlakukan...
Trump Bakal Berlakukan Tarif 100% ke China, Ancaman Perang Dagang Kembali Menggema
Berita Terkini
Diplomasi Sawit Perlu...
Diplomasi Sawit Perlu Diperkuat untuk Jaga Daya Saing Ekspor
4 jam yang lalu
Perang AS-Iran Kian...
Perang AS-Iran Kian Sengit, ASEAN Wanti-wanti Krisis Pangan dan Energi
5 jam yang lalu
Garudafood Resmikan...
Garudafood Resmikan Rumah Maggot di Depok, Kelola 100 Ton Sampah Organik Jadi Nilai Ekonomi
5 jam yang lalu
MNC Sekuritas Dukung...
MNC Sekuritas Dukung MNC University dalam Seminar 'Crafting Your Career and Wealth in The Web3 Era'
5 jam yang lalu
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Regional JBB Manfaatkan Tenaga Surya Tingkatkan Ekonomi Masyarakat
5 jam yang lalu
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan...
Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo, Ini Alasannya
5 jam yang lalu
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved