Ekonom: MLA Bisa Berdampak Positif pada Ekonomi Indonesia

Sabtu, 16 Februari 2019 - 18:11 WIB
Ekonom: MLA Bisa Berdampak...
Ekonom: MLA Bisa Berdampak Positif pada Ekonomi Indonesia
A A A
JAKARTA - Pengamat ekonomi mengapresiasi langkah pemerintah yang telah memulai kerja sama timbal balik hukum atau mutual legal assistance (MLA) dengan pemerintah Swiss.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal berpendapat, keberadaan MLA pemerintah Indonesia-Swiss dapat memberi dampak positif terhadap kembalinya uang-uang di luar negeri sehingga bisa dimanfaatkan negara dalam rangka menggerakkan ekonomi dalam negeri.

"Saya rasa pemerintah memang cukup agresif mengejar uang gelap ini karena memang potensi kebocoran ekonomi kita cukup besar," ujar Fithra kepada wartawan yang dikutip Sabtu (16/2/2019).

Fithra menilai, MLA merupakan instrumen yang sangat baik untuk mencari para pengemplang pajak dan terutama tindak pidana pencucian uang yang menempatkan uangnya di negara-negara suaka pajak (tax haven).

Selain mengembalikan uang-uang dari luar negeri, ia menambahkan, keberadaan MLA Indonesia dengan Swiss juga akan meminimalisir larinya uang-uang hasil kejahatan yang diperoleh dari praktik ilegal di dalam negeri.

"Dengan demikian, uang seharusnya bisa lebih banyak yang berputar didalam negeri, mem-boosting perekonomian bisa saja nanti pada akhirnya bisa mempreteli siapa saja yang ada. Tetapi perlu perjanjian terlebih dahulu tentu agar dampak positif capital inflow bisa lebih tinggi karena uang tersebut bisa masuk ke sistem keuangan kita," terang Fithra.

Sebagai informasi, perjanjian MLA Indonesia dengan Swiss merupakan kerja sama hukum masalah pidana ke-10 yang diteken pemerintah Indonesia bersama negara lain. Sebelumnya pemerintah telah bekerjasama dengan negara ASEAN, Australia, Hong Kong, China, Korsel, India, Vietnam, UEA, dan Iran.

Perjanjian ini sendiri, berangkat dari terbongkarnya dokumen Offshore Leaks pada 2014 dan Panama Papers di 2016 oleh International Concortium of Investigative Journalist (ICIJ). Di sana tercatat nama-nama sejumlah pengusaha hingga beberapa firma hukum dalam negeri .

Yang menjadi catatan, kata dia, memiliki perusahaan cangkang bukan berarti selalu memiliki catatan kejahatan. Banyak perusahaan yang membuat perusahaan cangkang untuk kepentingan bisnis. "Seharusnya kalau (pemerintah) profesional berani. Masalahnya Panama Papers akan banyak menyeret politisi bernama besar," tutup Fithra.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Puan Optimistis UU MLA...
Puan Optimistis UU MLA RI-Swiss Perkuat Pemberantasan Korupsi
RUU MLA Swiss-RI Disahkan,...
RUU MLA Swiss-RI Disahkan, DPR: Ribuan Triliun Rupiah Bisa Direpatriasi
Webull Indonesia Kolaborasi...
Webull Indonesia Kolaborasi Hadirkan Mutual Fund Center
Lambassador Chef Indonesia-Singapura...
Lambassador Chef Indonesia-Singapura Sajikan Hidangan Lezat dari Domba Premium Victoria
MLA dan Aryaduta Medan...
MLA dan Aryaduta Medan Perkenalkan Hidangan Eksklusif Daging Sapi Australia Premium
Bukan Sekadar Daging,...
Bukan Sekadar Daging, Ini Rahasia di Balik Kelezatan Hidangan Sapi Australia
Berita Terkini
Respons Purbaya soal...
Respons Purbaya soal Tren Sell Indonesia: Kita Tak Sedang Menuju Seperti 1998 Lagi
5 jam yang lalu
MNC Sekuritas & KSPM...
MNC Sekuritas & KSPM GI Universitas Pelita Bangsa Gelar Seminar Pasar Modal
5 jam yang lalu
Ukir Sejarah, BPS-PT...
Ukir Sejarah, BPS-PT Pos Indonesia Luncurkan Sampul Peringatan Edisi Khusus Sensus Ekonomi 2026
7 jam yang lalu
K-SIGN KKP di Rote Ndao...
K-SIGN KKP di Rote Ndao NTT, RI Bersiap Swasembada Garam Industri
8 jam yang lalu
Diserbu 3.800 Pengunjung,...
Diserbu 3.800 Pengunjung, PINDEX 2026 Disambut Antusias
8 jam yang lalu
Purbaya Desak Seluruh...
Purbaya Desak Seluruh Transaksi di Pelabuhan Pakai Rupiah: Kalau Ada Dolar, Saya Hajar!
9 jam yang lalu
Infografis
Sniper Udara Paling...
'Sniper Udara' Paling Ditakuti Dunia Perkuat Pertahanan Udara Indonesia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved