Rupiah Menunduk ke Rp14.069/USD, Terburuk Kedua di Asia
Kamis, 28 Februari 2019 - 17:34 WIB
Rupiah Menunduk ke Rp14.069/USD, Terburuk Kedua di Asia
A
A
A
JAKARTA - Pertemuan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un di Vietnam, yang tidak membuahkan kesepakatan menambah ketidakpastian global. Membuat investor memiliki mata uang safe haven seperti dolar AS (USD).
Kondisi ini merugikan nilai tukar rupiah terhadap USD. Data Yahoo Finance mencatat rupiah pada akhir Februari ini, ditutup terpuruk 67 poin atau 0,47% ke level Rp14.067 per USD, berbanding hari sebelumnya di Rp14.000 per USD. Kamis ini, rupiah diperdagangkan di level Rp14.000-Rp14.078 per USD.
Indeks Bloomberg pada Kamis (28/2/2019) mencatat kurs rupiah menunduk hingga 40 poin atau 0,28% menjadi Rp14.069 per USD, berbanding penutupan Rabu di Rp14.029 per USD. Hari ini, mata uang kecintaan kita bergerak di kisaran Rp14.040-Rp14.080 per USD.
Hasil tadi menjadikan rupiah sebagai mata uang kedua terburuk di pasar Asia pada penutupan petang ini. Won Korea Selatan tumbang -0,50% ke level 1.124 won per USD, baht Thailand -0,22% menjadi 31,51, dolar Taiwan -0,11% menjadi 30,80, dan ringgit Malaysia -0,02% menjadi 4,06.
Tidak adanya kesepakatan antara Trump dan Kim Jong Un menambah ketidakpastian global. Apalagi negosiasi perdagangan AS dengan China masih samar-samar. Persoalan geopolitk bertambah dengan ketegangan yang sedang berlangsung antara India dengan Pakistan.
Melansir dari CNBC, Kamis (28/2/2019), investor terus mengamati perkembangan ketegangan di Asia Selatan. Dan ketidakpastian ini membuat indeks USD lebih tinggi menjadi 96,136, setelah menyentuh posisi terendah di level 95,9 pada sesi kemarin.
Ketidakpastian global juga menguatkan yen Jepang, yang dipandang sebagai mata uang safe haven, dengan menguat ke level 110,78 per USD, setelah sebelumnya berada di posisi 111 yen per USD. Dolar Australia melemah ke angka USD0,7129 usai menyentuh level tertinggi sebelumnya di angka USD0,7166.
Kondisi ini merugikan nilai tukar rupiah terhadap USD. Data Yahoo Finance mencatat rupiah pada akhir Februari ini, ditutup terpuruk 67 poin atau 0,47% ke level Rp14.067 per USD, berbanding hari sebelumnya di Rp14.000 per USD. Kamis ini, rupiah diperdagangkan di level Rp14.000-Rp14.078 per USD.
Indeks Bloomberg pada Kamis (28/2/2019) mencatat kurs rupiah menunduk hingga 40 poin atau 0,28% menjadi Rp14.069 per USD, berbanding penutupan Rabu di Rp14.029 per USD. Hari ini, mata uang kecintaan kita bergerak di kisaran Rp14.040-Rp14.080 per USD.
Hasil tadi menjadikan rupiah sebagai mata uang kedua terburuk di pasar Asia pada penutupan petang ini. Won Korea Selatan tumbang -0,50% ke level 1.124 won per USD, baht Thailand -0,22% menjadi 31,51, dolar Taiwan -0,11% menjadi 30,80, dan ringgit Malaysia -0,02% menjadi 4,06.
Tidak adanya kesepakatan antara Trump dan Kim Jong Un menambah ketidakpastian global. Apalagi negosiasi perdagangan AS dengan China masih samar-samar. Persoalan geopolitk bertambah dengan ketegangan yang sedang berlangsung antara India dengan Pakistan.
Melansir dari CNBC, Kamis (28/2/2019), investor terus mengamati perkembangan ketegangan di Asia Selatan. Dan ketidakpastian ini membuat indeks USD lebih tinggi menjadi 96,136, setelah menyentuh posisi terendah di level 95,9 pada sesi kemarin.
Ketidakpastian global juga menguatkan yen Jepang, yang dipandang sebagai mata uang safe haven, dengan menguat ke level 110,78 per USD, setelah sebelumnya berada di posisi 111 yen per USD. Dolar Australia melemah ke angka USD0,7129 usai menyentuh level tertinggi sebelumnya di angka USD0,7166.
(ven)