Produk Tembakau Alternatif Solusi Tekan Konsumsi Merokok

Selasa, 12 Maret 2019 - 14:06 WIB
Produk Tembakau Alternatif...
Produk Tembakau Alternatif Solusi Tekan Konsumsi Merokok
A A A
JAKARTA - Sejumlah pakar kesehatan sepakat keberadaan produk tembakau alternatif bisa menjadi salah satu solusi menekan tingginya tingkat konsumsi (prevalensi) merokok masyarakat dewasa di Indonesia. Hal ini telah terbukti di sejumlah negara lain yang sebelumnya mengalami situasi sama dengan Indonesia.

Visiting Professor Lee Kuan Yew School of Public Policy National University of Singapore, Tikki Pangestu, menjelaskan produk tembakau alternatif merupakan salah satu cara penting mengatasi masalah perokok di Indonesia. “Terutama untuk prevalensi yang sangat tinggi di antara pria Indonesia,” kata Tikki di Jakarta, kemarin.

Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan jumlah perokok berusia di atas 15 tahun mencapai 33,8% dari total penduduk dewasa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 62,9% merupakan perokok laki-laki dan 4,8% perokok perempuan.

Berdasarkan riset Atlas Tobacco, pada 2016 jumlah perokok di Indonesia mencapai hampir 55 juta orang dan berada dalam tren meningkat. Jumlah ini membuat Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat konsumsi rokok tertinggi ketiga di dunia setelah China dan India.

Tikki menjelaskan, sudah banyak penelitian ilmiah yang kuat, mutlak, dan jelas mengenai produk tembakau alternatif. Salah satu terbaru adalah hasil penelitian pakar kesehatan dari berbagai universitas di London, Inggris, yang dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine pada 30 Januari 2019.

Penelitian berjudul “A Randomized Trial of E-Cigarettes versus Nicotine-Replacement Therapy” ini menemukan bahwa penggunaan rokok elektrik hampir dua kali lebih efektif dari penggunaan pengganti nikotin, seperti permen karet, untuk membantu perokok berhenti merokok. Uji coba terhadap 886 perokok menemukan bahwa 18% perokok yang menggunakan rokok elektrik bertahan untuk berhenti merokok selama satu tahun dibandingkan dengan 9,9% mereka memakai terapi pengganti nikotin.

Menurut Tikki, secara umum setidaknya terdapat dua hal menjadi kesimpulan berbagai penelitian ilmiah mengenai produk tembakau alternatif. Pertama, produk tembakau alternatif 95% lebih rendah risiko dibandingkan rokok yang dibakar terkait jumlah bahan beracun yang terdeteksi. Kedua, produk tembakau alternatif bisa membantu perokok berhenti merokok. “Keengganan para profesional kesehatan menerima kenyataan ini adalah suatu fenomena yang mengkhawatirkan dan tidak jelas sebabnya,” kata mantan Director Research Policy and Cooperation Department WHO ini.

Dia juga sepakat bahwa pemerintah harus memisahkan peraturan mengenai rokok elektrik serta produk tembakau alternatif lainnya dengan produk rokok konvensional. Saat ini produk tembakau alternatif masih masuk kategori hasil pengolahan tembakau lainnya (HPTL) dan diperlakukan sama dengan produk rokok konvensional dengan tarif cukai hingga 57%.

Padahal mengacu berbagai penelitian ilmiah yang menyimpulkan risiko lebih rendah, maka tarif cukai produk tembakau alternatif seharusnya lebih kecil dibandingkan rokok konvensional. Baik pemerintah maupun akademisi di Indonesia perlu menelaah kembali melalui penelitian lebih lanjut mengenai produk tembakau alternatif sehingga kebijakan yang disusun bisa lebih komprehensif dan tepat. “Pemerintah perlu menyusun kerangka kebijakan yang tepat dan sesuai terkait pengaturan produk tembakau alternatif,” kata Tikki. (Rakhmat Baihaqi)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Muncul Wacana Iklan...
Muncul Wacana Iklan Rokok Bakal Dihapus Bikin Was-was Industri Tembakau
Revisi Aturan Rokok...
Revisi Aturan Rokok Tidak Urgen: Apa Artinya Jika Industri Tembakau Dimatikan
Curhat Pekerja Rokok...
Curhat Pekerja Rokok Tembakau Tercekik Kenaikan Cukai di Tengah Pandemi
Gelombang Penolakan...
Gelombang Penolakan Kenaikan Cukai Rokok di 2021 Makin Besar
Produksi Tembakau Olahan...
Produksi Tembakau Olahan Diproyeksikan Merosot 16%
Jeritan Petani Tembakau...
Jeritan Petani Tembakau Saat Cukai Rokok Dikabarkan Naik 19%
Berita Terkini
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
52 menit yang lalu
Uang Beredar Tumbuh...
Uang Beredar Tumbuh 8,7%, Per Juni 2026 Tembus Rp10.432,8 Triliun
54 menit yang lalu
Pajak Ekonomi Digital...
Pajak Ekonomi Digital per Juni 2026 Capai Rp54,71 Triliun, Kripto Sumbang Rp2,09 T
1 jam yang lalu
Mengapa Didimax Menjadi...
Mengapa Didimax Menjadi Pilihan Banyak Trader? Ternyata ini Alasannya
2 jam yang lalu
Kunjungi Rest Area Cipularang,...
Kunjungi Rest Area Cipularang, COO Danantara Puji Transformasi Layanan Tol Jasa Marga
2 jam yang lalu
Harga Emas Naik 5 Ribu...
Harga Emas Naik 5 Ribu Hari Ini, Termurah Dijual Rp1.370.000
3 jam yang lalu
Infografis
Rusia Tolak Gencatan...
Rusia Tolak Gencatan Senjata sebagai Solusi Perang Ukraina
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved