Dulu ?Waton Nandur?, Kini Petani Tembakau di Klaten Bisa Tersenyum

Kamis, 30 Mei 2019 - 10:13 WIB
Dulu “Waton Nandur”, Kini Petani Tembakau di Klaten Bisa Tersenyum
Dulu ?Waton Nandur?, Kini Petani Tembakau di Klaten Bisa Tersenyum
A A A
KLATEN - Pada 2010, Gunadi, seorang petani tembakau di Dukuh Geneng, Desa Palar, Trucuk, Klaten, Jawa Tengah, gigit jari. Tahun itu, ia mengalami gagal panen. Tanaman tembakau yang ditanamnya di atas lahan seluas 1 hektar mati terendam air. Hasil panen nihil, utang menumpuk.

Gunadi vakum menanam hingga 2 musim. Pada 2011, ia bangkit. Bergabung menjadi petani mitra PT Pandu Sata Utama (PSU) memberikan kepercayaan diri untuk kembali bertanam tembakau. Jaminan pembelian memberikan harapan.

Delapan tahun berjalan, perekonomian keluarga Gunadi semakin baik. Ia pun bisa bertani dengan tenang.

Seperti apa konsep kemitraan yang memberikan harapan akan kondisi yang lebih baik bagi petani?

Tantangan

Supervisor Agronomi West PSU Kurniawan Indrawanto mengungkapkan, kemitraan telah dimulai sejak 2011. Awalnya, kemitraan ini terjalin dengan 40 petani tembakau. Kini telah berkembang hingga lebih dari 500 petani untuk wilayah “West” yang meliputi Klaten, Gunungkidul, Magetan, Jombang, Boyolali dan Sukoharjo.

Kurniawan Indrawanto, yang biasa disapa Wanto, mengatakan, penambahan jumlah petani mitra salah satunya untuk memenuhi kebutuhan pasokan tembakau yang semakin meningkat.

Awalnya, PSU menghadapi sejumlah tantangan yang berasal dari kalangan tengkulak ketika awal menggandeng petani sebagai mitra. Saat itu, para petani menjual hasil panennya kepada tengkulak.

“Pasti berhadapan dengan tengkulak saat itu. Mengancam juga. Dulu, petani jual (tembakau) basah dan dimonopoli tengkulak. Yang kaya tengkulaknya, petaninya tertindas. Ada yang dibeli mahal, tapi enggak dibayar. Barang dipanen, dibawa. Paling uang muka thok. Sisanya enggak dikasih. Hitungannya minus (untuk petani),” ujar Wanto.

Menghadapi tantangan ini, pihaknya melakukan pendekatan persuasif kepada tokoh dan petani yang dinilai bisa menjadi pintu masuk. Tentunya, dengan penawaran yang lebih baik untuk petani.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1448 seconds (10.55#12.26)