Perusahaan Fintech Mulai Cari Pendanaan di Pasar Modal

Kamis, 20 Juni 2019 - 21:45 WIB
Perusahaan Fintech Mulai...
Perusahaan Fintech Mulai Cari Pendanaan di Pasar Modal
A A A
JAKARTA - Calon emiten yang bergerak di bidang finansial teknologi (technology financial/fintech) PT Hensel Davest Indonesia Tbk (HDI) berencana melakukan pencatatan saham perdana (Initial Public Offering) dengan mengincar dana hingga Rp200,11 miliar.

Hendra David selaku Direktur Utama Hensel Davest Indonesia mengatakan perseroan berencana melepas 381,17 juta saham biasa atau setara 25% dari modal ditempatkan dan disetor perusahaan.

“Untuk penawaran harga pada IPO ini kami tawarkan pada kisaran harga Rp396 hingga Rp525 perlembar sahamnya,” kata Hendra di Jakarta, Kamis (20/6/2019).

Dengan demikian perusahaan yang bergerak dibidang pengembangan aplikasi perdagangan melalui internet (e-commerce) serta pendistribusian produk digital ini berharap bisa memperoleh dana segar dikisaran Rp150,94 miliar hingga Rp200,11 miliar.

“Dengan demikian HDI akan menjadi bisnis fintech pertama yang akan melantai di Bursa Efek Indonesia nantinya,” tambahnya.

Perseroan didirikan sejak 2013 sebagai perusahaan yang memproses transaksi multi-biller. Dimulai dari pulsa elektrik kemudian mengembangkan usaha ke prepaid listrik dan biller lainya seperti BPJS dan PDAM. Berfokus di sektor B2B hingga di tahun 2015 meluncurkan aplikasi DavestPay untuk menyasar segmen B2C. Saat ini, Perseroan memiliki lebih dari 150 ribu jaringan agen yang tersebar di seluruh Indonesia dan memproses lebih dari 600 ribu transaksi dari ratusan produk per harinya.

Perusahaan yang berlokasi di Makassar, Sulawesi Selatan ini, merupakan perusahaan distribusi produk digital, perdagangan online atau e-commerce dan teknologi dengan fokus menyasar market di wilayah Indonesia bagian Timur.

Menurut Hendra seluruh dana hasil dari Penawaran Umum Perdana Saham ini setelah dikurangi seluruh biaya-biaya emisi saham akan dialokasikan sekitar 65% untuk peningkatan modal kerja davestpay untuk akuisisi marchant berupa UMKM (warung) dan Individu, pembelian persediaan barang dagang, uang muka persedian barang dagang dan pembiayaan piutang usaha kepada pelanggan.

“Sekitar 10% akan digunakan untuk meningkatkan teknologi komunikasi informasi, serta pengembangan SDM perusahaan, dan 25% sisanya akan digunakan untuk pembelian bangunan untuk oprasional perusahaan,” tambahnya.
(her)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Pakar Pasar Modal: IPO...
Pakar Pasar Modal: IPO Berbeda dengan Privatisasi
Melihat Sinyal Positif...
Melihat Sinyal Positif dari Fenomena IPO Sejumlah Startup
Aktivitas IPO Global...
Aktivitas IPO Global Meroket Capai Rekor Tertinggi di Kuartal III/2020
OJK Terus Tingkatkan...
OJK Terus Tingkatkan Tata Kelola Emiten, Caranya?
65 Perusahaan Antre...
65 Perusahaan Antre Cari Duit Rp11 Triliun di Pasar Modal
Respons Aksi Backdoor...
Respons Aksi Backdoor Listing, Pengamat Pasar Modal Kasih Catatan
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
7 jam yang lalu
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
8 jam yang lalu
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
8 jam yang lalu
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
9 jam yang lalu
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
9 jam yang lalu
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
9 jam yang lalu
Infografis
10 Wonderkid Calon Bintang...
10 Wonderkid Calon Bintang di Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved