KEIN: Sektor ICT Penyebab Defisit Transaksi Berjalan

Kamis, 27 Juni 2019 - 19:05 WIB
KEIN: Sektor ICT Penyebab...
KEIN: Sektor ICT Penyebab Defisit Transaksi Berjalan
A A A
JAKARTA - Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) membuat kajian terkait persoalan defisit transaksi berjalan di Indonesia. Dari hasil awal kajian ditemukan tekanan pada defisit transaksi berjalan disebabkan oleh neraca jasa sektor ICT (Information Communication Technology) atau teknologi informasi dan telekomunikasi yang defisit sejak 2011 dan semakin dalam.

Selain dari sisi jasa, data UN Comtrade, impor barang untuk komoditas mesin dan peralatan elektronik (HS85) pada 2018 sebesar sebesar USD21,45 miliar, atau setara dengan 11,37% kontribusinya terhadap total impor.

Dengan nilai tersebut impor komoditas mesin dan peralatan elektronik menempati posisi ketiga komponen impor terbesar, setelah bahan bakar mineral dan reaktor nuklir dan permesinan. Selain itu, komponen impor terbesar juga berasal dari besi dan baja serta turunannya, plastik dan turunannya, kimia organik dan serealia.

Untuk komponen impor barang-barang berbasis informasi dan teknologi (HS85), komoditas dengan kode HS8517, memiliki proporsi dan pertumbuhan impor yang terus meningkat sejak 2014. Pada 2018, HS8517 memiliki proporsi sebesar 27,1% terhadap HS85 dan tumbuh sebesar 20,9% (yoy). Sementara, HS851770 memiliki proporsi sebesar 71,8% terhadap HS8517 dan tumbuh sebesar 18,7% (yoy) pada periode yang sama.

Wakil Ketua KEIN Arif Budimanta mengatakan, persoalan neraca transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) harus segera diselesaikan. Hal ini menjadi penting karena menggambarkan stabilitas ekonomi Indonesia terkait dengan pergeraka ekonomi di sektor makro.

"Kalau mau memperbaiki secara permanen current account maka kita harus memperbanyak investasi langsung," ujarnya di Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Arif melanjutkan, investasi asing langsung yang masuk belum mampu mendorong kenaikan kinerja ekspor yang signifikan serta tidak berdampak positif terhadap serapan tenaga kerja.

Berbeda dengan Malaysia, di mana aliran investasi asing langsung yang masuk mampu mendorong kinerja ekspor di Malaysia dengan elastisitas 10 kali lipat daripada Indonesia.

"Presiden Jokowi selalu menyampaikan jika kita ingin meningkatkan atau memanfaatkan investasi untuk pertumbuhan ekonomi itu harus dalam tiga hal. Pertama, menghasilkan devisa. Kedua, menciptakan lapangan kerja. Ketiga, bersinergi dengan supply chain yang menyertainya seperti UMKM," jelasnya.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Bank Indonesia Optimis...
Bank Indonesia Optimis Defisit Transaksi Berjalan di Bawah 2%
Ini Faktor Bikin Defisit...
Ini Faktor Bikin Defisit Transaksi Berjalan 1,4% dari PDB
Impor Turun, Defisit...
Impor Turun, Defisit Transaksi Berjalan Kuartal I/2020 di Bawah 1,5%
Defisit Transaksi Berjalan...
Defisit Transaksi Berjalan Tembus USD2,2 M di Kuartal I-2024
Pejabat BI: Banyak Negara...
Pejabat BI: Banyak Negara Non Muslim Melirik Ekonomi Syariah
BI Proyeksi Defisit...
BI Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan 2020 Capai 1,5%
Berita Terkini
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Bangun Budaya Sadar Bencana di Lingkungan Sekolah
24 menit yang lalu
Danantara Buka Pendaftaran...
Danantara Buka Pendaftaran Lenders Panel untuk Pembiayaan PSEL
38 menit yang lalu
Kepercayaan Konsumen...
Kepercayaan Konsumen Antarkan KARA Raih Empat Penghargaan IOB Award 2026
39 menit yang lalu
Kredit Perbankan Juni...
Kredit Perbankan Juni 2026 Tumbuh 12,67%, BI Optimistis Capai Target Tahun Ini
52 menit yang lalu
Tips MotionTrade: Kenali...
Tips MotionTrade: Kenali Risiko Investasi Reksa Dana sebelum Mulai Berinvestasi
1 jam yang lalu
KAI Logistik Kelola...
KAI Logistik Kelola 8,7 Juta Ton Angkutan Barang di Semester I 2026
1 jam yang lalu
Infografis
Penyebab Jerman Tak...
Penyebab Jerman Tak Siap Hadapi Perang Dunia III Melawan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved