Utang Luar Negeri Meningkat, Ekonom Minta Waspadai Tekanan Kurs
Kamis, 15 Agustus 2019 - 15:41 WIB
Utang Luar Negeri Meningkat, Ekonom Minta Waspadai Tekanan Kurs
A
A
A
JAKARTA - Ekonom Indef Bhima Yudisthira mengatakan pemerintah perlu mewaspadai tekanan kurs terhadap utang luar negeri. Bank Indonesia (BI) mencatat, utang luar negeri Indonesia pada akhir triwulan II/2019 mencapai USD391,8 miliar.
"Perlu diwaspadai adanya tekanan pada kurs yang bisa mempengaruhi exposure risiko utang luar negeri," ujar Bhima saat dihubungi SINDONews di Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Dia menambahkan, swasta dan pemerintah sebaiknya menahan diri untuk tidak terlalu agresif menarik utang luar negeri di semester II ini. Hal ini untuk mencegah potensi gagal bayar utang. "Gejala adanya resesi di AS bisa menaikkan potensi gagal bayar utang," jelasnya.
Sebagai informasi, utang luar negeri Indonesia pada triwulan II/2019 tumbuh 10,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 8,1% (yoy). Peningkatan pertumbuhan utang luar negeri terutama didorong oleh utang pemerintah, di tengah perlambatan utang luar negeri swasta.
Posisi utang luar negeri swasta pada akhir triwulan II/2019 tumbuh 11,4% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 13,3% (yoy). Perlambatan utang luar negeri swasta terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran pinjaman oleh korporasi.
Secara sektoral, utang luar negeri swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.
"Perlu diwaspadai adanya tekanan pada kurs yang bisa mempengaruhi exposure risiko utang luar negeri," ujar Bhima saat dihubungi SINDONews di Jakarta, Kamis (15/8/2019).
Dia menambahkan, swasta dan pemerintah sebaiknya menahan diri untuk tidak terlalu agresif menarik utang luar negeri di semester II ini. Hal ini untuk mencegah potensi gagal bayar utang. "Gejala adanya resesi di AS bisa menaikkan potensi gagal bayar utang," jelasnya.
Sebagai informasi, utang luar negeri Indonesia pada triwulan II/2019 tumbuh 10,1% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada triwulan sebelumnya sebesar 8,1% (yoy). Peningkatan pertumbuhan utang luar negeri terutama didorong oleh utang pemerintah, di tengah perlambatan utang luar negeri swasta.
Posisi utang luar negeri swasta pada akhir triwulan II/2019 tumbuh 11,4% (yoy), melambat dibandingkan dengan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 13,3% (yoy). Perlambatan utang luar negeri swasta terutama disebabkan oleh meningkatnya pembayaran pinjaman oleh korporasi.
Secara sektoral, utang luar negeri swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor industri pengolahan, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), serta sektor pertambangan dan penggalian.
(fjo)
Lihat Juga :