Widi Prayitno, Penggerak ?Kopi Ledug? di Lereng Gunung Welirang

Sabtu, 17 Agustus 2019 - 14:11 WIB
Widi Prayitno, Penggerak ‘Kopi Ledug’ di Lereng Gunung Welirang
Widi Prayitno, Penggerak ?Kopi Ledug? di Lereng Gunung Welirang
A A A
PASURUAN - Kopi Ledug tak hanya menggerakkan perekonomian warga di Desa Ledug, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur. Kopi Ledug juga merekatkan hubungan antar-anggota keluarga petani kopi di kawasan lereng Gunung Welirang itu.

Berangkat dari keprihatinan akan rendahnya harga kopi yang dibeli oleh tengkulak dari petani kopi di desanya, Widi Prayitno, petani kopi dari Desa Ledug, Prigen, Pasuruan, Jawa Timur, menolak diam dengan mendirikan Kelompok Tani Mitra Karya Tani (MKT).

MKT dia dirikan dengan tujuan menyejahterakan petani kopi yang selama ini tak berdaya dipermainkan tengkulak yang bisa dengan seenaknya menentukan harga kopi. Pada tahun 2009 ia mulai mempelajari dari hulu ke hilir pertanian kopi dan pemasarannya. Kini, Kelompok Tani MKT telah mandiri, hingga mengemas dan memasarkan sendiri produknya yang diberi label “Kopi Ledug”. Merek ini mengambil nama desa yang menjadi lahan tumbuhnya kopi di lereng Gunung Welirang itu.

Kopi Ledug tak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi sudah merambah sejumlah negara di Asia, seperti Korea, Jepang, dan Taiwan. Kisah sukses Widi dan para petani kopi di Desa Ledug tak terlepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk Sampoerna Entrepreneurhip Training Center (SETC). Dari SETC, Widi mendapatkan peluang untuk belajar banyak soal peningkatan kapasitas produksi, kualitas kopi, pengemasan, hingga pemasaran produk.

Perjalanan Panjang

Kisah sukses Widi mewujudkan mimpinya menyejahterakan petani kopi di desanya dimulai dengan mengikuti pelatihan yang diadakan Dinas Pertanian mengenai pengendalian hama terpadu agar produk kopi yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik.

Ia juga tak melewatkan kesempatan untuk memperdalam pengetahuan mengenal berbagai varietas kopi. Pada suatu waktu, ia bertemu seorang peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan belajar banyak mengenai kopi luwak.

“Saya tanya banyak, apa sih bedanya kopi biasa dengan kopi luwak? Kenapa kopi luwak bisa mahal, dan sebagainya. Akhirnya saya dikasih tahu banyak, termasuk mempersiapkan mesin yang bagus supaya kopi saat digiling tidak bau logam dari mesin,” kisah Widi, saat dijumpai beberapa waktu lalu di sela SETC Expo, di Denpasar, Bali.

Saat itu, seorang pengusaha memberikannya modal sebuah mesin penggilingan kopi yang cukup baik. Kemudian, ia mencoba mengajak para petani kopi untuk budi daya kopi luwak. Awalnya, karena belum mengetahui, ia mengandangkan luwak-luwak yang akan memakan biji kopi. Ternyata, pengandangan ini tak sesuai aturan.

“Saya belajar lagi dari situ. Oh, enggak boleh dikandangin, harus dilepasliarkan. Ya, ini proses belajar saya. Ternyata, setelah saya pelajari lagi, kalau dilepas liar malah biayanya lebih rendah,” kata Widi.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
berita/ rendering in 0.1467 seconds (10.177#12.26)