Hilirisasi Jagung untuk Pangan Butuh Insentif Pemerintah

Kamis, 22 Agustus 2019 - 21:39 WIB
Hilirisasi Jagung untuk...
Hilirisasi Jagung untuk Pangan Butuh Insentif Pemerintah
A A A
JAKARTA - Potensi jagung untuk pangan membutuhkan insentif pemerintah sehingga industri hilir pengolahan jagung dapat berkembang dan mendukung perekonomian Indonesia lebih optimal.

Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin menilai, jagung untuk pangan memiliki potensi nilai tambah yang tinggi dibandingkan jagung untuk pakan yang masih dominan di tanah air. Hilirisasi jagung untuk pangan juga memerlukan kesiapan di hulunya.

"Jagung pangan butuh persiapan dari hulu. Salah satunya industri harus membina petani mulai dari skala kecil. Selain itu, pemerintah juga harus berikan insentif seperti kepastian pasar dan standar harga. Ini lebih baik daripada aturan yang memaksa," ujarnya dalam diskusi 'Peran Jagung dalam Mendukung Agenda Ekonomi Nasional Presiden Joko Widodo: Tantangan dan Peluang' di Jakarta, Kamis (22/8/2019).

Menurut dia, ada kawasan penghasil jagung pangan baru di daerah NTT, Sumatera Utara, dan Jawa Barat. Untuk memperluas lahan jagung untuk pangan, dibutuhkan kerjasama petani dengan pelaku industri seperti yang sudah terjadi untuk jagung untuk pakan.

Salah satu tantangan adalah menghasilkan jagung yang mengandung kadar aflatoksin sangat rendah bahkan nol. Aflatoksin bahkan disebut dapat memicu kekerdilan (stunting) pada anak.

"Dibutuhkan kebijakan pemerintah yang lebih baik untuk hilirisasi jagung pangan. Selama jagung lokal tidak sesuai standar akan langsung digantikan oleh jagung impor," ujarnya.

Sementara itu, PT Tereos FKS Indonesia (TFI) sebagai produsen tepung jagung terbesar menyatakan selama ini pasokan jagung sebagai bahan baku masih didominasi impor. Pasalnya, jagung yang ditanam petani di Indonesia belum memenuhi standar kualitas yang disyaratkan perusahaan.

"Kami membutuhkan pasokan jagung dari dalam negeri yang sesuai standar. Kebutuhannya sangat besar," ujar Sales & Marketing Director Tereos FKS Maya Devi pada kesempatan yang sama.

Keputusan mengambil jagung impor saat ini karena kandungan aflatoksin yang lebih rendah dibandingkan jagung lokal. Kadar aflatoksin memang menjadi standar pati jagung untuk dunia industri.

Tereos FKS merupakan perusahaan hasil joint venture antara Tereos, perusahaan asal Prancis, dengan FKS Group yang masing-masing memiliki kepemilikan saham 50%.

Tereos dikenal sebagai produsen gula dan bioetanol, sementara FKS Group sudah sejak lama berbisnis impor khususnya kedelai.

Saat ini pabrik TFI di Cilegon memiliki kapasitas terpasang 24.000 ton per bulan untuk pati jagung.
(ind)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Industri Pangan RI Butuh...
Industri Pangan RI Butuh 1,6 Juta Ton Jagung di Tahun 2022, Pasokan Masih Seret
Panen Jelang Akhir Tahun,...
Panen Jelang Akhir Tahun, Petani Jagung Untung Besar
Ini Biang Kerok Harga...
Ini Biang Kerok Harga Jagung Kerap Melambung
Petani di Brebes Semringah,...
Petani di Brebes Semringah, Permintaan Jagung Manis Melonjak Jelang Pergantian Tahun
Mentan SYL Pastikan...
Mentan SYL Pastikan Jagung Petani di Sulsel Terserap
Kebutuhan Jagung Industri...
Kebutuhan Jagung Industri Pangan Dalam Negeri Capai 1,6 Juta Ton
Berita Terkini
Binus School dan Damai...
Binus School dan Damai Indah Golf Sinergi Perkuat Pengembangan Soft Skill Siswa
3 jam yang lalu
Permintaan Minyak Dunia...
Permintaan Minyak Dunia Diramal Turun 1,1 Juta Barel per Hari di 2026
4 jam yang lalu
Centrepark Perkuat Penerapan...
Centrepark Perkuat Penerapan Parkir Cashless di Properti Komersial Indonesia
4 jam yang lalu
Industri Aset Digital...
Industri Aset Digital Dorong Penguatan Ekosistem Hospitality Bandara
4 jam yang lalu
Solusi Atasi Sampah...
Solusi Atasi Sampah Laut, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Hadirkan Kapal Pintar ke Pesisir Bali
4 jam yang lalu
Antam Tebar Dividen...
Antam Tebar Dividen Jumbo Rp5,04 Triliun, 70% dari Laba Bersih di 2025
4 jam yang lalu
Infografis
3 Syarat Iran di Selat...
3 Syarat Iran di Selat Hormuz: Aturan Ketat untuk Kapal yang Melintas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved