IBC: Gabungan Batasan Produksi Bisa Optimalkan Pendapatan Negara

Senin, 30 September 2019 - 21:04 WIB
IBC: Gabungan Batasan...
IBC: Gabungan Batasan Produksi Bisa Optimalkan Pendapatan Negara
A A A
JAKARTA - Indonesia Budget Center (IBC) menilai perubahan kebijakan cukai PMK 146 Tahun 2017 merupakan awal dari persoalan yang terjadi di Industri Hasil Tembakau (IHT) saat ini. Di dalam aturan tersebut, tertuang aturan terkait penggabungan batasan produksi sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) menjadi 3 miliar batang per tahun.

Sayangnya, aturan tersebut ditunda pelaksanaannya, menyusul terbitnya PMK 156/2018. "Akibatnya, ada potensi bagi negara untuk kehilangan penerimaan," ujar Roy Salam Koordinator IBC di Jakarta Senin (30/9/2019).

Padahal menurut Roy, jika pemerintah tetap menjalankan penggabungan batasan produksi sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret putih mesin (SPM) menjadi 3 miliar batang per tahun PMK 146, maka penerimaan negara dapat dioptimalkan.

Pegiat anti korupsi Emerson Juntho melihat terdapat masalah mendasar soal penyimpangan atau korupsi yang menyebabkan kerugian negara atau potensi kehilangan penerimaan negara.

"Ada 3 identifikasi praktik-praktik dimana ini punya potensi korupsi atau hilangnya penerimaan negara. Selain soal rokok illegal dan penyalahgunaan intensif fiskal, kita melihat ada potensi penyimpangan dari pembayaran cukai rokok dari tarif terendah," jelas Emerson.

Emerson melihat ada masalah yang cukup mendasar, yakni celah perusahaan besar asing SPM dan SKM untuk memproduksi kurang dari 3 miliar batang per tahun. Walaupun legal, ia khawatir ini adalah upaya pensiasatan-pensiasatan pabrik rokok untuk menghindari membayar tarif cukai tertinggi.

"Paling tidak ada 2 rekomendasi pertama yakni ada perbaikan kebijakan rokok, dibuat terbuka ke publik. Misalnya, pemerintah mendefiniskan ulang mana perusahaan kecil dan besar, ini menjadi penting. Kedua, mendorong keterlibatan KPK terkait upaya pencegahan dan optimalisasi penerimaan negara dari cukai rokok," tegas Emerson.

Di sisi lain Oce Madril Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Gajah Mada mengatakan, yang terjadi saat ini adalah adanya problem perencanaan yan tidak baik yang boleh jadi disebabkan karena kebijakan yang tidak berbasiskan praktik empiris.

"Saya lihat di kebijakan Kemenkeu, PMK saat ini memunculkan potensi korupsi kebijakan. Jadi karena perencanaan kebijakannya tidak direncanakan dengan baik, maka kita bisa melihat ada persoalan-persoalan turunan yang akan disebabkan oleh kebijakan itu," kata Oce.

Oce berharap, agar ke depan harus ada review yang melibatkan KPK. "Saya mengusulkan KPK untuk mengaktifkan pasal 14 UU KPK. Mengaktifkan pasal 14 itu berarti KPK harus me-review terhadap kebijakan cukai. Berdasarkan review itu, KPK akan terbitkan rekomendasi revisi kebijakan kepada Menteri berkaitan dengan perbaikan kebijakan yang harus dilakukan untuk celah turunnya penerimaan negara," pungkas Oce.
(fjo)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
APTMA Audiensi dengan...
APTMA Audiensi dengan Dirjen Bea Cukai Bahas Tarif Cukai Tembakau Madura
Industri Tembakau Berpotensi...
Industri Tembakau Berpotensi Tumbuh Subur di Jatim, Setahun Hasilkan Cukai Rp104,5 T
Ramai-ramai Menolak...
Ramai-ramai Menolak Intervensi Asing dalam Kebijakan Tembakau Nasional
Penyusunan Road Map...
Penyusunan Road Map IHT Nasional Perlu Melibatkan Dunia Usaha
Imbas Kenaikan Cukai,...
Imbas Kenaikan Cukai, Penjualan Rokok Amblas 33 Miliar Batang
Rencana Kenaikan Cukai...
Rencana Kenaikan Cukai Berimbas Pada Kehancuran Harga Tembakau
Berita Terkini
Bahlil Siap Atur Mekanisme...
Bahlil Siap Atur Mekanisme Izin Tambang Ormas Agama Pascaputusan MK
1 jam yang lalu
RUU PFII Lompatan Strategis...
RUU PFII Lompatan Strategis Kejar Ekonomi RI 8%, Purbaya Ungkap 3 Pilar Penopangnya
2 jam yang lalu
Lionel Express Hadirkan...
Lionel Express Hadirkan Solusi Distribusi Barang B2B ke Seluruh Indonesia
2 jam yang lalu
Perkuat Ekosistem Emas...
Perkuat Ekosistem Emas Nasional, Pegadaian Resmi Jadi Bagian Pendirian Indonesia Bullion Market Association (IBMA)
3 jam yang lalu
Nikmati Pengalaman Nonton...
Nikmati Pengalaman Nonton Terbaik di XXI dengan Penawaran Eksklusif dari BRI
3 jam yang lalu
Harga Minyak Mendidih...
Harga Minyak Mendidih 1% saat Houthi Blokade Arab Saudi, Bakal Tembus USD100 per Barel?
4 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Cadangan...
10 Negara dengan Cadangan Emas Terbesar Dunia, AS Masih Teratas
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved