Rupiah Diprediksi Tertahan
Jum'at, 04 Oktober 2019 - 09:06 WIB
Rupiah Diprediksi Tertahan
A
A
A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan hari ini diperkirakan tertahan. Kepala Riset Monex Investindo Futures Ariston Tjendra memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp14.100-Rp14.180 per USD.
Faktor mata uang garuda tertahan dikarenakan data Non-Farm Payrolls AS versi pemerintah dan data tenaga kerja AS lainnya, seperti data tingkat pengangguran dan data rata-rata upah per jam, untuk bulan September.
"Data ini sangat penting dan menjadi sorotan pelaku pasar global. Dan akan menjadi penggerak rupiah di hari Senin pekan depan. Mungkin ini bisa menahan laju penguatan rupiah hari ini," ujar Ariston di Jakarta, Jumat (4/10/2019).
Kendati demikan, indeks dolar AS turun semalam menembus ke bawah kisaran 99, sekarang di 98,83, karena data ekonomi AS di bawah ekspektasi pasar lagi. Ini sudah 3 hari beruntun data AS dirilis di bawah ekspektasi pasar.
Buruknya data AS selama 3 hari beruntun memperbesar peluang bank sentral AS untuk memangkas suku bunganya lagi.
Data Indeks non-manufaktur AS bulan September versi ISM dirilis 52,6, di bawah prediksi 55,1. Ini adalah hasil terendah dalam 3 tahun terakhir. Hal ini bisa saja membuat rupiah menguat.
"Rupiah mendapatkan sentimen positif dari data tersebut dan berpeluang menguat lebih lanjut terhadap dolar AS.Situasi internal Indonesia juga kondusif, belum ada lagi demo yang ricuh sehingga membantu penguatan rupiah," jelasnya.
Faktor mata uang garuda tertahan dikarenakan data Non-Farm Payrolls AS versi pemerintah dan data tenaga kerja AS lainnya, seperti data tingkat pengangguran dan data rata-rata upah per jam, untuk bulan September.
"Data ini sangat penting dan menjadi sorotan pelaku pasar global. Dan akan menjadi penggerak rupiah di hari Senin pekan depan. Mungkin ini bisa menahan laju penguatan rupiah hari ini," ujar Ariston di Jakarta, Jumat (4/10/2019).
Kendati demikan, indeks dolar AS turun semalam menembus ke bawah kisaran 99, sekarang di 98,83, karena data ekonomi AS di bawah ekspektasi pasar lagi. Ini sudah 3 hari beruntun data AS dirilis di bawah ekspektasi pasar.
Buruknya data AS selama 3 hari beruntun memperbesar peluang bank sentral AS untuk memangkas suku bunganya lagi.
Data Indeks non-manufaktur AS bulan September versi ISM dirilis 52,6, di bawah prediksi 55,1. Ini adalah hasil terendah dalam 3 tahun terakhir. Hal ini bisa saja membuat rupiah menguat.
"Rupiah mendapatkan sentimen positif dari data tersebut dan berpeluang menguat lebih lanjut terhadap dolar AS.Situasi internal Indonesia juga kondusif, belum ada lagi demo yang ricuh sehingga membantu penguatan rupiah," jelasnya.
(ven)