Rawan Bencana, Pembangunan PLTN Sulit Diterapkan Indonesia

Rabu, 04 Desember 2019 - 11:07 WIB
Rawan Bencana, Pembangunan...
Rawan Bencana, Pembangunan PLTN Sulit Diterapkan Indonesia
A A A
JAKARTA - Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sulit dilakukan di Indonesia. Penyebabnya, adanya penolakan warga yang khawatir terhadap teknologi ini mengingat kawasan di Indonesia rawan terjadi bencana alam.

Purnomo Yusgiantoro, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) periode 2001-2009 menjelaskan, suatu energi bisa dikembangkan apabila terdapat unsur availability (ketersediaan), accessibility (aksesibilitas), affordability (keterjangkauan), acceptability (keberterimaan), dan sustainability (keberlanjutan). “Kalau ini kita jalankan dari waktu ke waktu, maka kita akan sustainable. Kita akan bisa menggunakan energi secara berkelanjutan,” kata Purnomo dalam rilisnya kemarin.

Salah satu yang ditekankan oleh Purnomo adalah konsep acceptability, yaitu kemampuan untuk menerima jenis energi tertentu karena satu energi tidak bisa diterima begitu saja kehadirannya oleh semua orang. Purnomo men con toh kan pada rencana pembangunan PLTN di Semenanjung Muria yang di tolak masyarakat sekitar.

Pakar Geologi Vulkanologi Surono atau yang biasa disapa Mbah Rono menjelaskan, tatanan geologi di Indonesia yang menyebabkan Indonesia berada dalam kawasan rawan bencana, mulai gunung berapi, gempa bumi, tsunami, hingga pergerakan tanah atau longsor.

Menurut Mbah Rono, bencana yang paling banyak memakan korban adalah gempa bumi. Penyebabnya adalah patahan-patahan aktif di pulau yang padat penduduknya, seperti Pulau Jawa dan Sumatera. Mbah Rono mengingatkan, ketahanan energi mesti ditopang ketahanan masyarakatnya terhadap bencana.

“Energi mau sekuat apa, kalau kena guncangan gempa akan jadi masalah.Saya berharap seluruh instalasi vital strategis seperti gardu listrik dan sebagainya di bangun dengan konsep tahan terhadap guncangan gempa,” tandasnya.

Guru Besar Fakultas Teknologi Universitas Indonesia (UI) Rinaldy Dalimi mengungkapkan, ada sejumlah energi alternatif yang dapat dijadikan pilihan sebagaimana amanat undang-undang, termasuk penggunaan energi nuklir. Namun, menurut dia, energi nuklir memiliki tingkat risiko yang cukup tinggi.

Meskipun masuk ke dalam lima kebijakan energi prioritas. “Nuklir dalam kebijakan energi kita masuk ke dalam lima kebijakan prioritas. Nuklir ditempatkan ke dalam kebijakan terakhir dari lima kebijakan itu,” ungkapnya. (Sudarsono)
(nfl)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Ukraina Serukan Warga...
Ukraina Serukan Warga Dekat PLTN PLTN Zaporizhzhia Mengungsi
Segudang Asa Pengembangan...
Segudang Asa Pengembangan Energi Nuklir di Indonesia
Uni Emirat Arab Kini...
Uni Emirat Arab Kini Memiliki PLTN Pertama di Timur Tengah
Pembangunan PLTN Masih...
Pembangunan PLTN Masih Tunggu Arahan Jokowi
Perkembangan PLTN Stagnan...
Perkembangan PLTN Stagnan dalam 10 Tahun Terakhir
Ukraina Tuding Rusia...
Ukraina Tuding Rusia Tahan Direktur PLTN Zaporizhzhia
Berita Terkini
Mengintegrasikan AI...
Mengintegrasikan AI Demi Mewujudkan Ekosistem Investasi Mass Market
6 jam yang lalu
UE Putar Haluan Kembali...
UE Putar Haluan Kembali ke Pelukan Rusia, Rogoh Dana Raksasa Rp123 Triliun demi LNG
6 jam yang lalu
Harga MinyaKita Tembus...
Harga MinyaKita Tembus Rp16.000 per Liter di Atas HET, Apa Sebabnya?
7 jam yang lalu
Kimia Farma Siapkan...
Kimia Farma Siapkan Rantai Layanan Hulu-Hilir Percepat Penanggulangan TB
7 jam yang lalu
Esgin dan Agraus Resources...
Esgin dan Agraus Resources Sinergi Garap Potensi Investasi Hijau dan Ekonomi Karbon
8 jam yang lalu
Kasus Hukum Febrie Momentum...
Kasus Hukum Febrie Momentum Audit Menyeluruh Tata Kelola Sawit Sitaan Negara
9 jam yang lalu
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved