Harga Minyak Berada di Level Tertinggi Seiring Kenaikan Permintaan
Selasa, 17 Desember 2019 - 14:46 WIB
Harga Minyak Berada di Level Tertinggi Seiring Kenaikan Permintaan
A
A
A
SINGAPURA - Harga minyak mentah turun tipis pada perdagangan Selasa (17/12/2019). Namun, harga si emas hitam tetap berada di posisi tertinggi tiga bulan karena investor berharap kesepakatan dagang Amerika Serikat dan China bisa berlangsung mulus. Seiring itu, permintaan minyak dari ekonomi besar dunia terus menigkat.
Melansir dari Reuters, harga minyak berjangka Brent International turun 2 sen menjadi USD65,32 per barel pada pukul 04:22 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate berkurang 4 sen menjadi USD60,17 per barel.
Perkembangan negosiasi dagang AS dan China menunjukkan kemajuan. Pekan lalu, Washington mengatakan bakal mengurangi tarif impor barang China, sebagai imbalan atas pembelian produk pertanian, manufaktur, dan energi AS oleh China sekitar USD200 miliar, selama dua tahun kedepan.
"Harga minyak terus berjuang memperpanjang kenaikan seiring investor yang berharap kesepakatan dagang AS-China fase pertama. Meski harga minyak terus melaju tetapi perang dagang ini masih jauh dari kata selesai," ujar Edward Moya, analis senior pasar komoditas di OANDA Singapura.
Sementara itu, penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan negosiasi dagang fase pertama kedua negara telah "selesai". Menurut dia, ekspor AS ke China akan berlipat ganda berdasarkan perjanjian.
Adapun perjanjian tersebut belum ditandatangani. Dan beberapa pejabat China mengatakan bahwa kata-kata dari perjanjian tersebut tetap merupakan masalah yang rumit, dan perlu kehati-hatian dalam memastikan ekspresi dari teks tersebut, agar tidak kembali menimbulkan ketegangan.
JP Morgan dan Goldman Sachs memperkirakan harga minyak akan terus melaju di tahun depan, seiring membaiknya prospek perdagangan AS dan China, serta pemangkasan produksi oleh OPEC dan sekutunya, terutama Rusia, atau dikenal sebagai OPEC+.
"Dan harga minyak terus meningkat seiring permintaan dari AS, dimana Presiden Donald Trump mengatakan pertumbuhan ekonomi AS tetap kuat," sambung Moya.
Melansir dari Reuters, harga minyak berjangka Brent International turun 2 sen menjadi USD65,32 per barel pada pukul 04:22 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate berkurang 4 sen menjadi USD60,17 per barel.
Perkembangan negosiasi dagang AS dan China menunjukkan kemajuan. Pekan lalu, Washington mengatakan bakal mengurangi tarif impor barang China, sebagai imbalan atas pembelian produk pertanian, manufaktur, dan energi AS oleh China sekitar USD200 miliar, selama dua tahun kedepan.
"Harga minyak terus berjuang memperpanjang kenaikan seiring investor yang berharap kesepakatan dagang AS-China fase pertama. Meski harga minyak terus melaju tetapi perang dagang ini masih jauh dari kata selesai," ujar Edward Moya, analis senior pasar komoditas di OANDA Singapura.
Sementara itu, penasihat ekonomi Gedung Putih, Larry Kudlow, mengatakan negosiasi dagang fase pertama kedua negara telah "selesai". Menurut dia, ekspor AS ke China akan berlipat ganda berdasarkan perjanjian.
Adapun perjanjian tersebut belum ditandatangani. Dan beberapa pejabat China mengatakan bahwa kata-kata dari perjanjian tersebut tetap merupakan masalah yang rumit, dan perlu kehati-hatian dalam memastikan ekspresi dari teks tersebut, agar tidak kembali menimbulkan ketegangan.
JP Morgan dan Goldman Sachs memperkirakan harga minyak akan terus melaju di tahun depan, seiring membaiknya prospek perdagangan AS dan China, serta pemangkasan produksi oleh OPEC dan sekutunya, terutama Rusia, atau dikenal sebagai OPEC+.
"Dan harga minyak terus meningkat seiring permintaan dari AS, dimana Presiden Donald Trump mengatakan pertumbuhan ekonomi AS tetap kuat," sambung Moya.
(ven)
Lihat Juga :