alexametrics

Ketegangan AS-China Memuncak Harga Minyak Kembali Jatuh

loading...
Ketegangan AS-China Memuncak Harga Minyak Kembali Jatuh
Harga minyak yang mulai merangkak naik dengan pelonggaran pembatasan corona harus kembali terhenti dengan meningkatnya ketegangan antara AS dan China. Foto/Ilustrasi
A+ A-
TOKYO - Harga minyak kembali menukik pada perdagangan di awal pekan ini di tengah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China, terkait rencana Beijing memberlakukan undang-undang keamanan di Hong Kong dan kemungkinan sanksi dari Washington.

Harga minyak sebelumnya telah meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir karena pelonggaran pembatasan corona telah menyebabkan meningkatnya permintaan. Akan tetapi ketegangan antara AS dan China mulai membebani sentimen tersebut.

Minyak Brent tercatat turun USD19 sen, atau 0,5%, pada USD34,94 per barel. Sementara minyak acuan AS turun USD6 sen, atau 0,2%, menjadi USD33,19 per barel. Kedua kontrak telah meningkat selama empat minggu terakhir, meskipun harga masih turun sekitar 45% sepanjang tahun ini.



Polisi Hong Kong menggunakan gas air mata dan meriam air pada hari Minggu untuk membubarkan ribuan orang yang melakukan unjuk rasa menentang rencana Beijing untuk memberlakukan undang-undang keamanan nasional di kota itu.

"Undang-undang keamanan Hong Kong mengemas premi risiko perang dagang dalam jumlah besar," kata Stephen Innes, kepala strategi pasar di AxiCorp, yang dikutip Reuters, Senin (25/5/2020). Dia mencatat, hal itu menambah kekhawatiran pasar pekan lalu tentang tingkat stimulus kebijakan China.

Hubungan antara Washington dan Beijing memburuk sejak pecahnya pandemi Covid-19. Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping saling tuding selama wabah, termasuk tuduhan menutup-nutupi dan kurangnya transparansi. Perselisihan muncul antara dua negara itu terkait isu Hong Kong, hak asasi manusia, perdagangan, dan dukungan AS untuk Taiwan yang diklaim China.
(fai)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak
Top