Mengintip Celah Ekspor di Tengah Ketidakpastian Kondisi Global

Minggu, 29 Desember 2019 - 20:26 WIB
Mengintip Celah Ekspor...
Mengintip Celah Ekspor di Tengah Ketidakpastian Kondisi Global
A A A
JAKARTA - Pelaku industri nasional masih memiliki potensi untuk melakukan ekspor dengan memanfaatkan celah pasar global. VP Riset Industrial dan Regional Bank Mandiri Dendi menilai untuk tahun 2020 industri orientasi ekspor masih memiliki kesempatan dengan memanfaatkan celah kondisi global.

Industri yang berorientasi ekspor mendapat momentum untuk tumbuh dengan memanfaatkan dampak positif perang dagang antara AS dengan China. Peluang pasar di AS terbuka khususnya mengisi produk yang sebelumnya dipasok China. "Jadi ada peluang pasar di AS karena produk CHina terhambat masuk akibat dikenakan tarif. Contohnya, garmen, alas kaki dan furnitur," ujar Dendi di Jakarta.

Dia juga memproyeksikan sektor industri yang dapat tumbuh bagus secara umum yang berorientasi pada pasar domestik. Dirinya mencontohkan beberapa di antaranya adalah industri makanan dan minuman.

"Selain itu industri yang mungkin juga tumbuh bagus adalah industri yang terkait dengan program hilirisasi terutama nikel. Dengan penerapan kebijakan larangan ekspor barang mentah, maka ekspor produk olahan bahan tambang akan mulai terlihat ada peningkatan," ujarnya.

Sementara Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Krizia Maulana memberikan proyeksi untuk pasar global. Salah satu yang menjadi fokus utama pasar masih seputar perkembangan konflik dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Ditambah upaya pemerintah serta bank sentral lewat stimulus fiskal dan kebijakan moneter akomodatif untuk menopang pertumbuhan ekonomi. "Laporan terkini menunjukkan bahwa data pertumbuhan ekonomi dan sektor tenaga kerja AS masih tetap positif," ujar Krizia.

Sedangkan dari Eropa, meski ekonomi masih berada dalam fase konsolidasi, namun mulai ada sinyal stabilisasi. Dimana sektor manufaktur Euro Zone di bulan November meningkat ke level 46,9 dari bulan sebelumnya 45,9 yang ditopang oleh perbaikan dari Jerman dan Perancis.

Sinyal stabilisasi untuk sektor manufaktur juga terlihat di China. Sektor manufaktur di China untuk November, terlihat naik ke level 50,2 yang merupakan level tertinggi sejak Maret 2019.

"Harapannya dapat tercipta kesepakatan dagang dan masih ada ruang bagi bank sentral di kawasan Asia dan negara berkembang. Kemudian dapat menurunkan suku bunga, sehingga mendorong sentimen investasi untuk pergerakan pasar finansial bagi di Asia maupun negara berkembang," ujarnya.

Menurut dia, pemulihan ekonomi Indonesia akan berjalan secara gradual. Diharapkan pemulihan ekonomi terjadi seiring meredanya ketegangan antara AS dan China. "Pelonggaran fiskal tidak terlalu agresif, mengingat defisit fiskal dibatasi di bawah 3%. Ini menyebabkan dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi juga relatif terbatas," ujarnya.

Dia menyebutkan, salah satu tantangan bagi ekonomi Indonesia ke depannya masih seputar defisit pada neraca transaksi berjalan. Khususnya pada saat ini ketika penanaman modal asing atau Foreign Direct Investment (FDI) belum bisa menutupi atau membiayai defisit pada neraca berjalan ini.

Peningkatan daya saing, khususnya di sektor non komoditas, menjadi sangat krusial untuk meningkatkan investasi. Ini yang diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi lebih tinggi lagi.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Berita Terkait
Peluang Ekspor Industri...
Peluang Ekspor Industri Pakaian Jadi Kembali Terbuka
Ekspor Agustus 2022...
Ekspor Agustus 2022 Cetak Rekor Tertinggi Sepanjang Sejarah, Ini Penopangnya
Rupiah Terkapar, Dampaknya...
Rupiah Terkapar, Dampaknya Mulai Terasa ke Sektor Industri Nasional
Istilah-istilah dalam...
Istilah-istilah dalam Ekspor-Impor yang Wajib Diketahui Para Pebisnis
Produk Impor Akan Dibatasi...
Produk Impor Akan Dibatasi Menperin Demi Selamatkan Industri Lokal
Andalan Ekspor, Gairahkan...
Andalan Ekspor, Gairahkan Kembali IKM Perhiasan
Berita Terkini
Relevansi Jadi Kunci...
Relevansi Jadi Kunci Utama Membangun Kekuatan Merek di Era Digital
6 jam yang lalu
Eropa Mulai Terbelah,...
Eropa Mulai Terbelah, Enam Negara Tolak Sanksi Baru terhadap Rusia
7 jam yang lalu
GAPKI Tegaskan Industri...
GAPKI Tegaskan Industri Sawit RI Terapkan Standar Keselamatan Kerja Berkelanjutan
7 jam yang lalu
Arus Kas ETF Bitcoin...
Arus Kas ETF Bitcoin Tembus Rp1,36 Triliun di Pertengahan Juli 2026
8 jam yang lalu
Airlangga Bocorkan Lahan...
Airlangga Bocorkan Lahan BUMN di Bali Jadi Opsi Calon Lokasi PFII
8 jam yang lalu
Soal Pindar, KPPU Didorong...
Soal Pindar, KPPU Didorong Utamakan Tindakan Pencegahan
8 jam yang lalu
Infografis
10 Negara dengan Harga...
10 Negara dengan Harga Bensin Termurah di Dunia, Libya Cuma Rp427 per Liter
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved